Fast Fashion is Out, Being A Conscious Consumer is In!

By Chalif Rafi

Sebagai salah satu industri terbesar, setiap faktor dalam dunia fashion memiliki pengaruh kuat dalam kelangsungan bumi. Disadari atau tidak, konsumen mode memegang peran utama dalam mengatasi resiko besar yang disebabkan oleh industri ini.

 

Perubahan iklim serta global warming, limbah, polusi lingkungan, dan kelangkaan air adalah sebagian dari contoh isu yang menantang bagi industri fashion. Dua per tiga serat di dunia sudah digunakan untuk produksi bahan pakaian, terutama pakaian cotton-based. Meskipun terdengar tidak memiliki efek samping, namun produksi kapas memberikan dampak negatif yang lumayan besar terhadap lingkungan, utamanya adalah air. Faktanya, wilayah penghasil kapas di Asia dan Afrika berada dalam masalah kelangkaan air dan berisiko kekeringan.

 

Isu pencemaran lingkungan dalam industri fashion memang sudah tidak asing bagi fashion enthusiasts, namun hal tersebut bukanlah objek untuk diperdebatkan. Sebagai konsumen yang cerdas, kita sebenarnya bisa turut membantu brand dan pebisnis ritel untuk menyelesaikan masalah dalam industri fashion ini, mengingat industri ini merupakan komoditas global. Sadar akan tindakan konsumtif juga sangat diperlukan guna mendukung misi United Nations dalam program Sustainable Development Goals 2030 (SDG). Beberapa poin yang terkait dalam program tersebut adalah ‘Good Health and Well-being’, ‘Clean Water and Sanitation’, ‘Responsible Consumption and Production’, ‘Life Below Water’, ‘Life on Land’, and ‘Clean Energy’. Poin ‘Responsible Consumption and Production’ sudah mewakili poin-poin lainnya dalam hal ini, karena sadar dan bertanggung jawab akan konsumsi dan produksi merupakan pusat pemecahan yang memiliki dampak domino ke spektrum lainnya.

 

 

Pada dasarnya, kita hidup dengan budaya konsumtif, tetapi hal tersebut tidak pernah menjadi pembicaraan “pivotal” bagi kita. Esensi konsumtivitas, khususnya kesadaran dalam tindakan konsumtif ini memerlukan revolusi demi keberlangsungan industri fashion. Langkah awal revolusi konsumtivitas yang bersahabat bagi industri fashion tentunya dimulai dari kita sendiri, sebagai konsumen. Kita harus mengimplementasikan purchasing power kita kepada brand fashion untuk mengadopsi keberlanjutan industri yang ramah lingkungan.

 

Solusi alternatif lainnya yaitu bisa diimplementasikan dari kesadaran diri kita sendiri. Berkata tidak kepada fast fashion, mengurangi penggunaan plastik, mengurangi kebiasaan konsumtif dengan cara membelanjakan rupiah kepada brand yang mengerti tentang isu ini, membeli produk yang sustainable, membeli produk dengan bahan dasar alami seperti linen, hemp, atau produk yang mudah didaur ulang, atau mengimplementasikan slow fashion.

 

Tentu hal ini tidak mudah untuk diaplikasikan segera, mengingat sifat konsumtif ini telah berlangsung selama berpuluh-puluh tahun. Hal “pribadi” seperti ini merupakan pilihan, namun kesadaran dalam kebiasaan konsumtif harus selalu disuarakan. Berapa pun dan apa pun rupiah yang Anda keluarkan, pastikan Anda telah mempertimbangkan kegunaan dari barang-barang yang Anda beli untuk diri sendiri maupun orang lain.