The Illusion of Value: Banksy Shreds His Painting

Do we define value, or does value define us?

 

Pada 5 Oktober lalu, Banksy kembali mengagetkan dunia seni ketika lukisan Girl With A Balloon tiba-tiba hancur dengan sendirinya setelah dilepas di harga rekor 1 juta Poundsterling (sekitar 19 miliar Rupiah) pada ajang lelang Sotheby’s. Rupanya, sang seniman guerilla telah memasang sebuah mesin shredder secara diam-diam pada bingkainya. “In case it was ever put up for auction,” ujarnya melalui sebuah video yang ia unggah di Instagram.

Kemudian bagaimana nasib lukisan itu? Sang pembeli tetap akan membeli lukisan yang hancur tersebut, sambil berkata bahwa ia telah mendapatkan “sebuah bagian dari sejarah seni”. Harga untuk lukisan yang telah menjadi kepingan kanvas tersebut diestimasikan untuk naik paling tidak 50% dari nilai awalnya, mencapai 2 juta Poundsterling atau lebih. Some of you might think that the world has gone crazy.

Kejadian ini membuat saya teringat dengan episode pertama dari serial Netflix Black Mirror, ‘The National Anthem’. Untuk Anda yang belum menontonnya, Black Mirror adalah serial antologi sci-fi yang menceritakan sisi gelap teknologi dan sifat kaum manusia. Spoilers and less-than-pleasant content will ensue, so be warned.

Pada episode ini, Putri Susannah dari keluarga kerajaan Inggris diculik. Sang penculik akan membebaskan dia dengan satu syarat yang sederhana: Perdana Menteri Michael Callow harus melakukan suatu hal yang tidak senonoh di depan televisi internasional. Setelah berbagai kegagalan dalam menghindari situasi tersebut, akhirnya Callow pun tunduk ke permintaan sang penculik. Semua orang begitu sibuk menunggu siaran tersebut, mereka tidak sadar bahwa Putri Susannah sudah dibebaskan dari sanderanya sebelum aksi Callow dimulai. Tak lama kemudian, sang penculik ditemukan setelah ia gantung diri. Ia adalah seorang seniman pemenang Turner Prize, disebut oleh art critic lainnya sebagai pengkarya “the greatest artwork of the 21st century” melalui aksi Callow yang disaksikan 1.3 miliar orang dari seluruh dunia.

Jika skenario episode itu benar-benar terjadi di dunia nyata, kemungkinan besar Anda termasuk dari 1.3 miliar orang yang ‘dipermainkan’ oleh sang seniman. Sesuatu yang begitu sensasional dan kecil kemungkinannya untuk terjadi lagi tidak dapat dilewatkan, bukan? Jika lukisan Banksy yang hancur mendapatkan nilai moneter tinggi sebagai bentuk penghargaan, di sini nilai aksi sang seniman diakui dunia melalui jumlah orang yang menyaksikan karya akbarnya. Benak kita telah merancang ilusi sebuah nilai.

 

 

Kasus berikutnya adalah aksi seorang jurnalis Vice yang membuka The Shed, ‘restoran’ nomor satu di London. Apakah Anda familiar dengan cerita ini? Berawal dari keisengan Oobah Butler dan fake reviews di TripAdvisor, sebuah reservasi di The Shed menjadi buruan utama warga London. Padahal, restoran itu tidak pernah ada. Ketika pada akhirnya Oobah membuka pintu ‘restorannya’ untuk publik, hidangan yang sebenarnya dibuat dari makanan instan pun terasa setara dengan fine dining. Semua itu terjadi karena di benak mereka, apa yang mereka dapatkan memiliki value tinggi, walaupun kenyataannya tidak juga.

Apa yang kita percayai akan menjadi bagian dari kenyataan yang kita jalani. Misalnya, ada sebuah tiket konser band favorit Anda yang sold out, dijual 3 kali dari harga aslinya. Jika Anda merasa bahwa pengalaman yang Anda akan dapatkan begitu berharga, Anda tidak akan segan membayarnya. Dengan mindset bahwa Anda mendapatkan tiket bernilai tinggi yang diperebutkan orang-orang, Anda bisa jadi akan lebih menikmati pengalaman konser tersebut.

Contoh lain adalah dalam konteks kekuasaan. Mungkin seseorang yang memegang jabatan tinggi merasa bahwa dirinya memiliki kekuatan mutlak. Misalnya seperti karakter Joffrey di serial HBO Game of Thrones. Cersei sang ibu selalu mengagung-agungkannya. Ia pun percaya bahwa ia ditakdirkan untuk menguasai Seven Kingdoms, mempunyai kekuatan begitu besar dan tidak ada siapapun yang bisa melawannya. Mungkin ini adalah contoh fiksi yang ekstrim, tetapi akhirnya ia dibunuh di pesta pernikahannya sendiri oleh musuh-musuhnya. Dalam beberapa situasi, mempercayai ilusi value yang palsu dapat berkonsekuensi fatal.

Yang menjadi menarik sekarang adalah, perubahan penentu value itu sendiri. Dulu, sebuah value ditentukan oleh kaum elite. Tolok ukur dari apa yang baik dan mana yang buruk sepenuhnya dipegang oleh orang-orang yang mempunyai kekuasaan. Sehingga sesuatu yang tidak sesuai dengan standard ‘value’ sangat jarang terungkap ke permukaan. Kini, kita telah menjadi si penentu value tersebut, kaum Millennial, yang bisa mengarahkan persepsi apa yang ‘keren’ dan ‘masa kini’, apa yang ‘hype’, dan sudah tidak menarik lagi. Serunya, sesuatu yang berbeda dan memiliki wow-factor biasanya jadi pemenangnya. Ya, seperti cerita Banksy di atas tadi.