StrEIGHT from the Desk of: Hessy Aurelia

Jangan-Jangan, Harapan Negeri Ada di Tangan Orang Kreatif.

 

Selalu ada sesuatu yang menarik ketika kita melihat dunia dari berbagai perspektif. Di satu sisi, kita hidup di era di mana kita bisa belajar apa saja, mendengar siapa saja, dan memahami banyak hal yang sebelumnya terasa jauh. There’s certain privilege in being this informed, for sure.

Namun, dengan privilege ini, kadang saya merasa lelah. Too much noise, too many opinions, too little certainty. Semua orang seperti berlomba untuk menganalisis, menyimpulkan, bahkan meramalkan masa depan.

Tapi semakin banyak yang kita dengar, semakin terasa: kebenaran itu sendiri jadi blur.

Kita dibuat khawatir, dibuat takut melangkah. Bahkan, diam-diam… dibuat malu untuk bermimpi. Seolah-olah hidup harus dijalani dengan tegang, harus selalu on alert, harus selalu siap menghadapi kemungkinan terburuk.

Di satu sisi, dunia memang sedang tidak baik-baik saja: ketegangan geopolitik, konflik yang tak kunjung usai, perang di Iran, bom di Israel, sosok seperti Donald Trump yang penuh kontroversi, dan negara seperti China yang bergerak dengan agendanya sendiri. Semua ini menjadi headline, menjadi konsumsi harian kita.

Media massa? Let’s be honest – mereka hidup dari perhatian kita. Yang mereka jual adalah fear, urgency, and curiosity. Mereka mencari uang (firstly), dengan mencari dan menyebarkan berita (secondly). Semakin dramatis, semakin menarik. Semakin membuat kita cemas, semakin kita tidak bisa berhenti menontonnya.

Saya pun tidak luput. Berapa banyak YouTube channel yang saya “makan” setiap hari?

Dari diskusi ekonomi, politik, hukum, sampai forum-forum atau kanal-kanal analisis yang isinya “daging” semua. Informative, yes. Enlightening? Sometimes. Exhausting? Definitely.

Tapi di tengah semua itu, saya mulai melihat kontras yang menarik. Di dunia yang penuh dengan orang-orang yang berbagi opini, ada dunia lain yang diisi oleh orang-orang yang membuat sesuatu. Mereka adalah orang-orang kreatif.

Orang-orang ini tidak sibuk meramal masa depan. Mereka sibuk menciptakannya.

Seperti Jonathan Anderson yang harus menerjemahkan rumah mode sebesar Dior dengan segala sejarah dan tradisinya ke dalam bahasa yang relevan untuk generasi yang lebih muda. Itu bukan sekadar pekerjaan. Itu adalah proses berpikir, merasakan, dan bermimpi dalam bentuk paling konkret.

Di level yang lebih dekat dengan kita, ada Panji Pragiwaksono, yang mungkin opininya tidak selalu “benar” tapi menghadirkan sesuatu yang semakin langka: perspektif yang diolah, dikemas, dan disampaikan dengan kesadaran kreatif.

Orang yang kreatif tidak hanya bereaksi terhadap dunia tapi juga membantu membentuk cara kita melihat dunia. Karena kreativitas, pada dasarnya, adalah bentuk keberanian.

Dalam buku “The Creative Act: A Way of Being”, Rick Rubin menulis bahwa menjadi kreatif bukan soal menjadi berbakat atau jenius. Kreativitas adalah cara kita hadir di dunia. A way of being. Sebuah sikap untuk terus membuka diri terhadap kemungkinan, untuk tetap peka, dan untuk tetap percaya bahwa sesuatu yang baru bisa diciptakan, bahkan di tengah kekacauan.

Manusia sekarang terlalu sibuk mengkonsumsi, sampai lupa mencipta. Terlalu sibuk mengomentari, sampai lupa merasakan. Terlalu sibuk mencari kepastian, sampai lupa bahwa masa depan, by nature, is uncertain, and that’s exactly where creativity lives.

Orang kreatif tidak menunggu dunia menjadi baik-baik saja untuk mulai berkarya. Mereka berkarya justru karena dunia tidak baik-baik saja. Mereka menulis ketika dunia bising. Mereka mendesain ketika dunia kacau. Mereka bermimpi ketika dunia terasa menakutkan.

Dari situlah harapan muncul, bukan dari analisis tanpa akhir, tapi dari aksi kecil yang konsisten. Dari ide yang diwujudkan.

Mungkin kita tidak bisa menghentikan perang atau mengkontrol politik global. Kita pun tak dapat memastikan bahwa masa depan akan baik-baik saja. Yang kita bisa lakukan adalah menciptakan sesuatu. Sebuah karya. Sebuah pemikiran. Sebuah ruang baru untuk melihat dunia dengan cara yang berbeda. Dan mungkin, itu sudah cukup untuk menggeser arah.

Karena pada akhirnya, dunia tidak berubah hanya karena dipahami. Dunia berubah karena diciptakan ulang oleh mereka yang cukup berani untuk membayangkan versi yang lebih baik.

Saya curiga, orang-orang itu bukan politisi, bukan para ahli… Tapi mereka yang berani untuk terus berkarya. Para creative minds, creative souls, and creative geniuses.