From the shochu-making heritage.
Sukses terselenggara pada 11-12 April 2026 di Park Hyatt Jakarta, Whisky Live tahun ini semakin mengukuhkan fitur lintas kategorinya. Selain wiski sebagai bintang utama, wine dan sake kini turut dihadirkan. Section untuk wine dan sake itu terwujud melalui kerjasama dengan Jaddi Internasional. Selain dua minuman additional tersebut, tequila juga mendapat ruang showcase tersendiri.
Whisky Live Jakarta 2026 menghadirkan lebih dari 70 brand internasional dan lokal yang mewakili berbagai negara. Mulai dari kisah distillery dengan warisan panjang hingga pengenalan brand berpendekatan kontemporer, para pengunjung event ini berkesempatan untuk menambah pengetahuan dan wawasan mengenai wiski maupun minuman lain – termasuk dari brand ambassador internasional – selain tentunya menikmati sesi tasting tanpa batas dalam suasana Royal Glasshouse Park Hyatt Jakarta yang elegan serta leluasa.
Knowing Kanosuke
Jika melihat dari sudut pandang lebih luas, Whisky Live juga menjadi satu jendela di mana Anda bisa “mengintip” sebagian dinamika industri wiski global. Contohnya adalah kehadiran brand Kanosuke yang mulai semakin dikenal oleh pecinta wiski di berbagai negara. Salah satu penandanya adalah kemenangan Roland Ng selaku brand ambassador Kanosuke dalam ajang World Whiskies Awards 2026 untuk kategori World Whisky Brand Ambassador.
Sore itu di ruang master class Whisky Live, kami mengangkat sebuah gelas berisi Mellowed Kozuru Ex-shochu Cask. Karakter fragrant nan fruity langsung terasa. Yoshitsugu Komasa sang pendiri memandu penyesapan pertama: light and pleasing, with sweet confectionery notes alongside a hint of vanilla. Mellowed Kozuru menjadi poin narasi formative dari label Japanese whisky ini.
Sebelum namanya diambil oleh Yoshitsugu untuk produk wiski, Mellowed Kozuru merupakan minuman shochu inovasi sang kakek, Kanosuke Komasa. Ini adalah shochu pertama di Jepang yang dimaturasi dalam oak casks sehingga memiliki profil rasa berbeda. Apa yang dilakukan kakeknya menjadi identitas inovatif dari keluarga Komasa yang sudah lebih dari 140 tahun menekuni produksi shochu.
Pada tahun 1883 di Era Meiji, keluarga Komasa mulanya membuat sake suci untuk Kuil Hachiman di Hiyoshi, Kagoshima. Di kemudian hari, master distiller keluarga tersebut fokus ke pembuatan rice shochu yang merupakan luxury spirit kala itu. Estafet inovasi dari rice shochu ke cask-aged rice shochu berlanjut ke Yoshitsugu sebagai generasi keempat yang melangkah ke wilayah wiski. Setelah menimba pengetahuan dan keterampilan membuat wiski, tanah warisan sang kakek dijadikannya penyulingan wiski di tahun 2017 dengan nama Kanosuke sebagai bentuk penghormatan.
The Sentimental Spirit
Di antara 5 jenis wiski yang disajikan saat master class, Rechar x Bourbon meninggalkan impresi paling unik. Wiski yang dimaturasi dalam re-charred bourbon casks ini smooth dengan karakter yang lebih fuller, dan tetap pleasing lewat honey hint. Sapuan smoky muncul secara subtle yang memperkayanya. Setelah diminum, after-sensation yang tinggal dimulut membawa spiciness yang bertahan cukup panjang. Di sinilah pesona uniknya.
Beberapa kreasi lain hadir strong, tetapi satu napas dasar dari semuanya adalah nuansa sentimentalitas yang mellow. Kesan ini yang memang berupaya dihadirkan brand Kanosuke dalam produk-produknya, sebagai rujukan kepada suasana area penyulingannya. Distillery Kanosuke berada di west coast wilayah Kagoshima, tepatnya di Hioki yang berarti tempat terbenamnya mentari. Terroir ini memiliki natural surrounding yang kaya. Menjadi latarnya adalah rangkaian pegunungan yang meliputi Gunung Yahazudake. Di bawah permukaan tanahnya, air mengalir dan mengalami filtrasi alami oleh plato Shirasu-Daichi. Kehangatan ini ekstrem berubah saat berganti ke winter di mana angin dari Laut Cina Timur kuat berhembus ke Pantai Fukiagehama, dan udara menjadi teramat sangat dingin.
Environment tersebut tak hanya memberi karakter mellow pada wiski Kanosuke, namun juga mendorong label ini terus mengeksplorasi teknik-teknik inovatif dalam pembuatan wiski-wiski baru. Eksplorasi dan inovasi itu juga didukung oleh penggunaan 3 pot stills dengan desain berbeda. Selain faktor variasi penggunaan alat, proses fermentasi yang lebih panjang beserta proses maturasi dalam ragam casks juga lingkungan menciptakan profil rasa wiski Kanosuke yang berlapis. Tahapan pembuatannya dimulai dari proses mashing yang mentransformasi malted barley menjadi gula. Yeast kemudian ditambahkan untuk fermentasi. Berlanjut ke distilasi kemudian maturasi, setiap langkah dikontrol ketat dalam jangka waktu tertentu sehingga menghasilkan karakter mellow khas Kanosuke yang diwarnai sentuhan fruity.
Untuk tegukan terakhir tersedia Double Distillery yang merupakan kombinasi dua wiski yang disuling secara terpisah. Satu komponennya ialah Single Malt dengan sweetness khas Jepang yang konsisten diraih melalui prosess vatting (percampuran wiski dari beberapa casks di distillery yang sama). Wiski-wiski yang dimaturasi pada re-charred shochu casks tersebut juga memiliki sapuan salty oleh karena angin laut di area maturasi. Single Malt ini kemudian dipadu dengan kreasi Hioki Pot Still untuk menciptakan blended whisky Double Distillery. Hioki Pot Still terinspirasi Irish whiskey dan bourbon. Layaknya Irish whiskey, bahan yang digunakan adalah campuran malted barley dan unmalted barley. Teknik yang kemudian digunakan ialah pot still distillation dan vacuum distillation. Sementara metode maturasinya merujuk ke gaya Borubon di mana digunakan new American white oak casks.
Di akhir sesi, kami bertanya kepada Yoshitsugu perihal business confidence. Pasalnya, Jepang sendiri sudah memiliki nama-nama besar di panggung internasional, seperti Suntory dan Nikka. Owner dan CEO dari brand yang mendapat investment dari Distill Ventures tersebut –inisiatif inkubasi Diageo untuk label-label baru – mengaku percaya diri. Dalam perspektifnya, sejarah panjang serta kepiawan bisnis keluarganya dalam pembuatan spirit, bersama dengan eksplorasi teknik maupun kekhasan alam Hioki yang membawa karakter mellow nan distingtif merupakan kekuatan yang membuat labelnya mampu bersaing dengan nama-nama besar yang sudah ada sebelumnya.