Can Department Store Survive in This Digital Age?

Pergerakan digital terus melesat sejak 2010. Hingga kini, dampak yang signifikan  semakin dirasakan para korporat konvensional. Berbagai inovasi dilakukan, salah satunya oleh Pasaraya Group sebagai perusahaan yang telah bertahan lebih dari satu dekade.

 

Lebih dari 8600 toko titel menutup pintunya di Amerika Serikat (Credit Suisse, 2017) dan menganalisa bahwa perilaku pembelian digital adalah salah satu penyebabnya. Hal serupa pun terjadi pada pasar Indonesia, di mana menurut Roy Nicholas Mandey, Ketua Asosiasi Peritel Indonesia, banyak department store yang tutup sebagai akibat dari perubahan prioritas pembelian konsumen. Lalu bagaimanakah pemain retail Indonesia harus mempersiapkan dirinya?

Pasaraya sebagai salah satu pemain lama dunia ritel Indonesia telah meluncurkan pusat O2O (Online to Offline) melalui acara bertajuk Analog Meets Digital pekan lalu. O2O adalah sebuah konsep yang bertujuan untuk memperkenalkan produk-produk e-commerce melalui pengalaman berbelanja tradisional. “Kita harus melihat online shopping sebagai kesempatan, bukan sebagai lawan. Oleh karena itu konsep online dan offline kita gabungkan jadi satu di sini.” Ungkap Media Latief selaku Presiden Direktur dari Pasaraya Group.

Dalam acara Analog Meets Digital ini, publik diperkenalkan kepada dua e-commerce yaitu PasarayaStore.com dan BerrieStore.com melalui private soft launching. Tio Setiyoso, co-founder dari BerrieStore.com menuturkan bahwa produk furniture sebagaimana adalah jualan utamanya, sangat sulit untuk dibeli secara online, padahal potensinya sangat besar.

Sebagai kesimpulan, pertanyaan judul di atas dapat dijawab dengan pernyataan Media Latief: tantangan dunia digital harus dihadapi dan kolaborasi menjadi salah satu solusi.