Different Ways to Interpret Us

The Editors Club menyaksikan film psychological horror/thriller Us yang telah mengundang banyak macam interpretasi. Di sini kami akan membahas beberapa makna yang tersirat dalamnya.

Heads up: major spoilers ahead, so make sure you already watched the movie before diving into the hidden meanings.

Disutradarai oleh Jordan Peele, Us menceritakan kisah sebuah keluarga yang menghadapi doppelganger (makhluk duplikat) mereka yang menyebut dirinya ‘The Tethered’. Di sini, Lupita Nyong’o bermain sebagai Adelaide, serta duplikatnya, Red. Semasa kecil, Adelaide sempat mengalami peristiwa traumatis yang menyebabkan dirinya tak merasa nyaman di kota masa kecilnya sendiri. Sepanjang film, kami diajak bertanya-tanya akan apa yang terjadi sebenarnya. Inilah teori-teori yang kami kumpulkan.

 

Fake It Until You Make It…Or Is It?

Aforism, kata ini banyak muncul dalam tulisan-tulisan motivasional. “Pura-puralah bahwa kamu memiliki sifat yang kamu inginkan, dan suatu hari kamu akan benar-benar memiliki sifat tersebut.” Pada akhirnya, pertanyaan yang muncul adalah: Apakah “pretending” memiliki makna yang sama dengan “actually”?

Di film ini, Adelaide yang telah dewasa akhirnya menyadari bahwa sebenarnya dialah yang merupakan seorang Tethered, bukan Red. So, it means she was never human at the first place. Tetapi, dengan kekuatan adaptasi dan determinasi, ia dapat membawa diri sebagai manusia, seperti mereka di sekitarnya. Tetapi, ada beberapa momen di mana ‘wajah asli’ dari Adelaide nampak, seperti ketika ia tidak dapat menjentikkan jari mengikuti nada di mobil, atau ketika ia mulai bersuara seperti Tethered setelah konfrontasi terakhirnya dengan Red. So, it’s suffice to say that after all these years of posing as a human, Adelaide cannot alter her true nature as a Tethered.

Di luar layar bioskop dan dunia Us, kita pun berpura-pura untuk menjadi sama dengan orang-orang di sekitar kita, untuk maksud apapun mulai dari fitting in hingga contohnya, dalam media sosial. Dengan semakin membesarnya peran media sosial di kehidupan kita, makna “fake it until you make it” turut membawa dampak yang kurang positif. Bahkan, Indonesia memiliki kata ‘pencitraan’ untuk mendeskripsikannya. Banyak orang memilih untuk berpura-pura agar tidak kalah dengan orang-orang lain dan kehidupan Instagram sempurna mereka. Tetapi realita tidak berubah. This way of ‘faking it’ is not worth your time nor energy.

Us as in U.S.

‘Us’ bisa diartikan secara harafiah sebagai “kami/kita”, tetapi juga sebagai akronim dari ‘United States’. Interpretasi ini banyak muncul di beberapa artikel, dan sang sutradara Jordan Peele sendiri juga telah menjelaskan alegori yang ingin ia sampaikan di film ini. Ketika keluarga Wilson bertanya siapakah para Tethered, Red menjawab: “We are Americans.” Peele menjelaskan bahwa film ini merupakan sebuah perumpamaan terhadap keadaan Amerika Serikat, atau U.S. (United States). Ia merasa, orang-orang di Amerika begitu ketakutan bahwa mereka yang ‘berbeda’, apakah itu seseorang penyerbu misterius yang akan membunuh atau mengambil pekerjaan mereka (mungkin, Artificial Intelligence?), atau sebuah kelompok yang memiliki ‘suara’ yang berbeda dengan kita.

 

The Persona and The Shadow

Dalam salah satu teori yang dicetuskan Carl Jung, sang psikiater Swiss menyatakan bahwa sebuah kepribadian manusia memiliki empat ‘archetype’ pada ketidaksadaran kolektif. Mereka adalah The Persona, The Shadow, The Anima/Animus, dan The Self. Empat archetype tersebut akan membentuk kepribadian seseorang di bawah kesadarannya. We’ll go through mainly Persona and Shadow for this review.

‘Persona’ memiliki makna ‘topeng’ dalam bahasa Latin. Archetype ini mewakili pencitraan diri kita, bagaimana kita ingin dilihat oleh orang-orang di sekitar kita. Beberapa sifat dari Persona kita mungkin bukanlah sifat asli kita, tetapi kita mengembangkan sifat tersebut untuk beradaptasi dengan lingkungan di sekitar kita, apakah itu dalam pekerjaan atau mungkin di aktivitas-aktivitas sosial. Tetapi, bila kita terlalu sering mengenakan ‘topeng sosial’ ini, kita dapat kehilangan jati diri kita, forgetting the person you actually are.

Persona kita menyembunyikan sisi dari kita yang tidak ingin kita tunjukkan ke dunia luar – atau dalam kata lain, Shadow kita. Terdiri dari sifat, keinginan, kelemahan, dan naluri yang kita pendam, Shadow adalah sisi kepribadian yang kita sembunyikan dari dunia luar. Mengapa sifat-sifat ‘buruk’ tersebut kita jadikan ‘bayangan’ semata? Biasanya, karena kita merasa orang-orang di sekitar kita tidak menerima sifat-sifat itu.

Kembali ke film Us. Ada dua cara menginterpretasikan teori archetype Jung pada cerita kedua karakter Adelaide dan Red. Yang pertama, Persona milik Adelaide telah menjadi identitas barunya, dan sisi Shadow-nya telah ia pendam jauh. Ia sebenarnya hanyalah klon yang tidak bisa berbicara dan mempunyai sifat yang ganas, tetapi ia berhasil hidup seperti manusia di sekitarnya setelah beberapa waktu. Ia dulunya tak bisa berbicara, tetapi ia dapat melakukannya setelah beradaptasi dengan sekitarnya. Tetapi terkadang sisi Shadow-nya muncul, seperti di situasi di mana ia bersuara seperti Tethered lainnya, atau ketika ia membunuh seorang Tethered. Hal yang sama dapat dikatakan untuk Red, yang dulunya hidup di dunia biasa tetapi telah menjadi salah satu dari Tethered setelah ia terkurung di bawah tanah.

Perselisihan di antara mereka berdua adalah alegori dari bagaimana sang Persona dan sang Shadow ada di dalam diri kita. Adelaide yang hidup di ‘dunia atas’ adalah Persona, dan Red yang selama di ‘disembunyikan di bawah tanah’ adalah Shadow. Ketika salah satu sisi terpendam kita berusaha keluar, mungkin secara tak sadar, Persona kita akan berusaha menutupinya karena kita takut bagaimana orang lain akan bereaksi padanya. Tetapi di film ini, sisi bayangan kita bertempur balik, tidak ingin untuk disembunyikan. Pada sebuah adegan di klimaks film ini, Adelaide berusaha mengalahkan Red yang berada di kegelapan, membuatnya tampak bertarung dengan bayangannya sendiri.

It’s Us Against Us

Di Us, para manusia berselisih dengan Tethered, yang memiliki tampilan yang sama dengan kita. “We are our worst enemy.” ujar sutradara Jordan Peele mengenai film ini. Musuh terbesar kita adalah diri kita sendiri. Ya, dalam hidup ini, the one person who will always be there beside us is well, us ourselves. Tentunya ada perselisihan di dalam diri kita sendiri. Mungkin itu adalah ketika kita ingin menghadapi suatu tantangan, tetapi juga merasa ketakutan bila kita gagal. Atau, kita sering mengkritik diri kita sendiri karena merasa kurang dalam berbagai hal. Bahkan, bisa jadi ketika kita berusaha menghadapi inner demon kita.

Tetapi, mengingkari keberadaan kelemahan kita tidak akan memperbaiki keadaan. Seperti ada dua sisi dari setiap cerita, terkadang melawan sifat yang ada di dalam diri kita dapat berbuah positif untuk bisa berkembang, ada kalanya di mana kita harus bertarung dengan diri kita sendiri. Maybe it’s the urge to quit, the urge to be aggressive, or the urge to stay in a past we should move on from. Untuk menjadi lebih baik, kita harus mengalahkan pikiran atau emosi tersebut. Yang menghambat kita dari sesuatu yang lebih baik bisa jadi adalah diri kita sendiri.

Sebagai sebuah bentuk seni yang dapat dinikmati berbagai khalayak, sebuah film dapat mengundang banyak interpretasi. Tentu, sang pencipta film tersebut memiliki ide spesifik tentang visi yang ingin ia sampaikan dalam layar, tetapi kita sebagai penonton dapat menafsirkan makna yang mungkin berbeda. Us is a masterfully crafted film, dengan banyak easter eggs, arti tersembunyi, dan kritik sosial. Apa yang muncul di benak Anda pada akhir film tersebut?