Is Glitter Obsession Wrecking Our Planet?

Beauty enthusiasts dan industri fashion seluruh dunia kerap menggunakan glitter untuk melengkapi konsep visual yang mereka ciptakan. Namun, tanpa disadari melonjaknya pemakaian glitter dalam dekade belakangan menjadi ancaman bagi planet yang kita tinggali.

Layaknya laron yang tertarik pada cahaya lampu, manusia juga mudah tetarik dengan hal-hal yang shiny dan sparkly. Rupanya, hal ini dipacu oleh naluri bertahan hidup zaman purba untuk mencari keberadaan air yang berkilau di bawah cahaya.

Apakah ini berhubungan dengan ketertarikan manusia terhadap glitter di era millennium? Jujur saja, jika saya tidak dikelilingi orang-orang kreatif visual – terlebih di industri kecantikan dan fashion –, glitter merupakan benda yang tak berguna. Ada yang lebih penting dari ini, kesadaran akan alam sekitar.

Pada dasarnya, glitter masuk dalam golongan micro plastic. Seperti kebanyakan jenis plastik, glitter tidak bisa didaur ulang. Jika Anda pernah menggunakan glitter, Anda pasti tahu betapa susahnya membersihkan benda super kecil ini dari badan Anda, apa lagi jika harus mendaur ulangnya. Ia dibuat dari materi yang tidak mudah terurai, seperti copolymer plastic atau aluminium foil.

Saat ini, kuantitas plastik di laut sudah menimbulkan kekhawatiran. Ada sekitar delapan juta ton benda yang berakhir di laut setiap harinya, dan setiap satu menit, jumlah plastik di antaranya setara dengan satu truk sampah.

Berukuran kurang dari 5 mm, micro plastic merupakan jenis plastik yang paling buruk. Ukuran plastik ini membuatnya mudah lolos dari saringan pembersih dan dapat dicerna oleh organisme terkecil sekalipun. Hal ini memicu masalah yang sangat besar bagi ekosistem laut, dan karenanya manusia pun ikut terancam.

Micro plastic bergerak dari rantai makanan terbawah (beberapa riset menyatakan kerang juga menelan plastik) dan perlahan-lahan sampai ke rantai makanan teratas, karena binatang saling memburu satu sama lain. Micro plastic juga bisa membunuh ikan sebelum mereka sampai ke usia reproduktif. Tentu saja hal ini begitu berdampak pada masa depan.

Nyatanya, ancaman ini tidak hanya berlaku bagi bumi kita tetapi juga tubuh manusia yang mengonsumsi makanan laut, karena para ikan yang ditangkap untuk dikonsumsi manusia juga memiliki tendensi terkontaminasi partikel plastik.

Zooey Deschanel, dalam video yang dirilis “ATTN:” baru-baru ini, menjelaskan bahaya plastik terhadap planet kita. Dalam video itu, Zooey memperlihatkan dampak kerusakan pada laut, terutama ekosistem yang tinggal di dalamnya. Jika masalah ini berlanjut, diprediksi pada tahun 2050 jumlah plastik yang ada di laut kita akan menandingi jumlah ikan.

Apa yang bisa kita lakukan untuk mengurangi kerusakan bumi ini? Memotong jumlah konsumsi plastik di manapun kita berada, atau mengurangi penambahan elemen glitter pada konsep visual (baik dalam riasan atau pun properti photo/video shoot) adalah salah satu aksi kontribusi yang dapat membuahkan solusi pada permasalahan plastik global ini.

Mulai mendaur ulang atau memakai ulang produk-produk komersil dan tidak membeli barang single-use, apa lagi yang tidak begitu dibutuhkan akan menghasilkan perubahan positif untuk planet kita. Bagi saya hal kecil akan selalu berdampak besar jika dilakukan bersama.

1 Comment