Azzedine Alaïa, the Man Who Helped Shape Fashion

Beberapa waktu lalu, dunia fashion dikejutkan dengan berita kepergian Azzedine Alaïa, couturier legendaris yang telah berkarya selama puluhan tahun. Sepanjang hidupnya, Alaïa memproduksi rentetan karya revolusioner yang ia legasikan untuk dunia.

Paris, 18 November 2017, Federasi Haute Couture Perancis (Fédération de la Haute Couture et de la Mode) mengumumkan kematian Azzedine Alaïa tanpa menjelaskan detilnya. Ucapan duka dan tribut segera membanjiri Instagram, Twitter, dan platform media sosial lainnya. Penikmat fashion dunia berkabung atas hilangnya salah satu ikon besar mereka.

Alaïa telah merangkul sederet nama selebriti mancanegara dalam daftar kliennya, salah satunya ialah Naomi Campbell yang kerap memberikan kredit terhadap sang desainer sebagai sosok yang membantu membangun kariernya. Campbell memanggil Alaïa dengan sebutan “Papa” akibat perannya dalam membimbing supermodel ini layaknya seorang ayah sejak ia berusia 16.

Awal Alaïa

Azzedine Alaïa dibesarkan oleh neneknya dan menganyam pendidikan diploma di Tunis Fine Arts Institute. Saat tumbuh dewasa, ia kerap mendapatkan inspirasi dari saudari kembarnya. Pada wawancara dengan Interview Magazine tahun 2009, Alaïa mengungkapkan bahwa kakeknya dan seorang kerabat keluarga bernama Madame Pinot memegang banyak andil dalam mengasah ketertarikannya dengan bidang seni.

Ia tiba di Paris pada tahun 1950-an dan memulai langkah awalnya dalam dunia mode. Alaïa belajar menjahit bersama Guy Laroche dalam perusahaannya, dan juga sempat bekerja di bawah naungan salah satu couturier influensial, Christian Dior. Setelah menimba ilmu dengan dua desainer tersebut, Alaïa memutuskan untuk membuka usahanya sendiri pada tahun 1980 dan mengeluarkan koleksi readytowear pertamanya.

Seiring berjalannya waktu, nama Alaïa mulai dikenal masyarakat pecinta mode. Ia kemudian bekerja sama dengan para superstar pada masa itu. Salah satu gerakan radikalnya adalah ketika ia memutuskan untuk menggaet sebuah lowcost retailer bernama Tati – ini terjadi jauh sebelum H&M mempopulerkan budaya kawin silang lowend fashion dengan highend designers.

Revolusi Rancangan

Berkat kejeniusannya, Alaïa memperoleh tawaran dari berbagai rumah mode lainnya. Namun semua tawaran yang datang selalu ia tolak. Ia lebih memilih untuk berkarya secara independen. Empat tahun berselang dari awal kemunculan labelnya, Alaïa dianugerahi predikat “Best Designer of the Year” oleh Federasi Haute Couture Perancis. Kariernya kian menanjak ketika majalah-majalah fashion ternama mulai menggunakan baju rancangan Alaïa dalam editorial mereka.

Media menjulukinya “The King of Cling” lantaran rancangannya yang bodyconscious. Ia memproduksi setiap garmen hingga sepenuhnya sesuai dengan bentuk tubuh kliennya, mengangkat aksen unik setiap perempuan dengan dukungan fabrik Lycra dalam baju-bajunya. Akibatnya, ia diakui sebagai “architect for the body” dan “man for femininity”. Sukses di Eropa, Alaïa pun melebarkan sayap ke Amerika pada tahun 1988.

Di tahun 1990, ketika saudari kembarnya meninggal dunia, Alaïa memutuskan untuk menyembunyikan diri dari hadapan publik. Ia meninggalkan readytowear dan kembali ke ateliernya untuk sepenuhnya menekuni couture dan hanya menerima tawaran custom dress making. Pada dekade ini juga ia sempat mencari financial support untuk mempertahankan bisnisnya. Keberhasilannya tentu tidak berhenti di sini. Hingga tahun lalu, pendapatan Alaïa masih mencapai 60 juta euro.

Legasi Sang Legenda

Selama kariernya, berbagai museum telah mengabadikan karya-karya Alaïa, di antaranya, Guggenheim di New York dan Palais Galliera di Paris yang pernah melangsungkan salah satu eksibisi retrospektif Alaïa.

Sebagai orang Tunisia dengan rekognisi global, meninggalnya Azzedine Alaïa menimbulkan duka bagi negara asalnya. Tribut-tribut untuknya berdatangan dari dunia bisnis dan seni, serta pemerintah lokal. Azzedine merupakan pemegang dua kewarganegaraan, Tunisia dan Perancis. Dilansir situs Time, sang desainer sempat mengungkapkan agar dirinya dimakamkan di negara asalnya.

Azzedine Alaïa merupakan seorang desainer yang memiliki visi jelas semasa hidupnya. Ia mempertahankan kebebasan dalam setiap karya-karyanya. Tentu saja, dunia fashion akan merindukan sosok seperti Alaïa, terutama setiap perempuan yang pernah menggunakan baju-baju rancangannya.