Uniqlo : C Baru dan Situasi Dunia Mode di Mata Clare Waight Keller

Also, what’s next for her?

 

When we heard that another Uniqlo : C will be released for the Spring/Summer 2024, our mind recollects a morning in the changing room area of the store where we were styled in the debut collection of Uniqlo x Clare Waight Keller to make a simple fashion video celebrating its launch. The designer herself was informed about it and the next day she texted us, “Hi I’m going to Korea today. I’m going to be quite busy but we could maybe do a quick zoom call later.

Suasana toko di pertengahan September tahun lalu tersebut terbilang cukup ramai dengan aktivitas para content creators melakukan syuting – just like what we did. Satu hal yang menarik adalah bahwa tim kami yang memakai rancangan-rancangan Clare tak semuanya perempuan. Akan tetapi, beberapa items yang dikenakan oleh team member laki-laki nampak secara natural menyatu dengan karakter masing-masing. This reinforces how both female and male designers could excel in designing clothes for the opposite sex. Nevertheless, for Clare, women designing for women has its own significance.

Penjelasan mantan creative director Chloé dan Givenchy itu mengenai topik tersebut memang bukan soal teknikalitas rancang mode. Ia tak menyentuh perihal hasil performa desain dari para perancang laki-laki akan busana perempuan yang mereka buat. Penekanan Clare menyorot aspek non-inderawi. “I love buying clothes from women designers and I truly feel I need to support them. I think that women create clothing that emotionally feels better as we can try it on ourselves and truly understand how it looks and feels on our body types. Women have that innate sense of self when designing,” ucapnya kepada The Editors Club.

Dari pernyaataannya itu dapat dilihat bahwa dalam perspektif Clare, saat perempuan mendesain untuk perempuan, ada pengalaman fenomenologis yang terlibat. It involves a reference to how a woman live their days as a woman. Alih-alih melihat perempuan sebagai semata siluet tubuh yang menjadi bidang garapan dari skill mendesain, desainer perempuan merancang dengan kepala yang terisi bukan cuma oleh imajinasi dan formulasi, tapi juga penghayatan tentang bagaimana berpakaian mempengaruhi cara berkehidupannya sebagai perempuan.

The Everyday Person
Clare sendiri secara personal memegang value akan feminitas dan timelessness untuk desain-desainnya. Hal ini tampak lebih tersuarakan dalam koleksi terbaru Uniqlo : C Spring/Summer 2024. Poppy red dan blush pink menjadi bagian dari palet koleksi bersama dengan aqua blue dan army green. Pada koleksi ini, sisi feminin tersebut berpadu dengan karakter effortless khas Clare dan dengan jiwa yang youthful. Oleh karenanya bisa ditemukan gaun lipit yang girlish, trench coat nan adventurous, vest rajut nuansa preppy, maupun cropped T-shirts padu wide pants yang laidback serta fun.

Dalam keterangan pers mengenai koleksi, ia mengatakan bahwa koleksi keduanya bersama Uniqlo berangkat dari konsep movement through lightness. “Fluidity and freshness were key elements of the spirit,” ungkapnya. Hal tersebut bukan sekadar pertimbangan estetika melainkan juga wujud konsiderasi akan sosok pemakai yang mencakup aktivitasnya. Seperti diutarakan Clare dalam tanya-jawab bersama peritel Jepang ini, “I’m thinking about the everyday person on the street. It’s really someone I connect with. I am that person. I’m always going between things. I want the collection to resonate really strongly and be able to be a completely natural and easy combination of items in your wardrobe.

Desainer lulusan master dari Royal College of Art ini menyuguhkan light cotton nylon jacket aksen ikat pinggang yang bisa dipadu dengan celana panjang atau dress. Ada pula army green trench coat yang versatile untuk padanan berbagai pieces lain. Pleated blue dress dengan adjustable spaghetti strap bisa dipakai mandiri ataupun melapisi t-shirt untuk kesan lebih quirky. Semuanya merentang dalam kesan sophistication dan casualness; dua hal yang dieksplorasi Clare. Ia sadar bahwa mix and match menjadi penting untuk diadvokasi dalam rangkaian ini karena ada banyak occasions yang biasanya terjadi di musim semi dan panas. From city commuting, wedding to parties and holiday, the collection is for them who is always on the move.

Her British background is not left behind in this collection. It’s part of the inspiration indeed. Dalam merancang koleksi, Clare melihat masyarakat yang tinggal di Lavender Hill, South London, dan sekitarnya. Suasana di sana adalah campuran antara countryside dan city life. Tentu saja aspek musim turut mempengaruhi pieces yang dikreasikan pada koleksi ini. Untuk awal pagi yang agak dingin, ia terpikir akan jacket atau outerwear yang cukup memproteksi kulit namun berbobot ringan. Trousers bervolume besar ditujukan untuk Summer. Kreasi denim dibuat dari fabric yang dikembangkan secara khusus sehingga menyajikan kenyamanan ultra. Layering pun jadi lebih comfortable dengan kreasi luaran yang airy, dan fungsional untuk malam bertemperatur udara lebih rendah.

Uniqlo : C Spring/Summer 2024 yang tersedia secara full collection di PIM 3 dan Grand Indonesia sejak 23 Februari adalah hasil kreatifitas Clare yang menggarisbawahi transitional wardrobe, di mana style, comfort, and utility dari pieces-nya secara smooth bisa dioptimalkan dari pagi ke malam, weekday ke weekend dengan berbagai aktivitas dan acara di dalamnya.

Fashion Today
“Watch this space!” Beberapa bulan setelah ujaran itu dinyatakan Clare kepada kami untuk merespon pertanyaan tentang langkah karirnya di masa depan, koleksi kolaborasi keduanya dengan Uniqlo meluncur. Akan tetapi, hal ini rasanya belum utuh menjawab keingintahuan tersebut. Apakah nantinya akan ada label yang mengusung namanya sendiri, sebagaimana dilakukan oleh Phoebe Philo? Ataukah ia akan berlabuh di rumah mode besar lainnya seperti langkah Daniel Lee?

Apapun pilihannya, tentu ada banyak pertimbangan yang dijadikan dasar pengambilan keputusan. Salah satunya mungkin adalah perihal working ryhtm. Bukan rahasia lagi untuk para fashion insiders bahwa rumah mode besar punya ragam koleksi yang perlu dibuat dalam tenggat waktu yang sesak. Sping/Summer hingga Fall/Winter untuk lini perempuan dan laki-laki, resort collection, pre-fall collection, capsule collection, maupun couture collection bagi beberapa maison, semua bagai pacuan yang tak pernah berakhir. Merupakan sebuah ironi ketika kepada Vogue, Clare mengungkap luxury dalam berkreasi yang sulit didapat di brand besar, justru ia rasakan saat perdana bekerjasama dengan Uniqlo.

“It was a full six months of just working on 30 pieces, all the way from doing the different fabric trials to doing up to five fittings on things, which is not normal. Usually [at luxury houses] we’re racing through two or three and then on to the next,” tutur Clare kepada majalah pimpinan Anna Wintour tersebut seputar debutnya dengan Uniqlo di musim lalu. Kultur kerja yang eksploitatif adalah satu dari sekian banyak isu di dunia mode. Masalah lain yang juga akan dihadapinya bila kembali menjadi bagian dari pemain-pemain besar fashion industry adalah ketimpangan gender.

Ketika meluncur berita tentang Seán McGirr mengisi kekosongan posisi creative director Alexander McQueen setelah ditinggal Sarah Burton pada tahun lalu, segenap pengamat maupun pecinta fashion menyorot soal problem gender dan ras di industri ini. Kritik tersebut tertangkap oleh banyak media mainstream, dari Business of Fashion, Forbes, dan New York Times, hingga poros alternatif media sosial seperti 1Granary, dan Diet Prada. Semua bersatu suara mengekspos bahwa setelah hengkangnya Burton, creative directors Kering seluruhnya adalah desainer laki-laki beretnis Caucasian. Selain Seán McGirr di Alexander McQueen, terdapat Sabato De Sarno di Gucci, Demna Gvasalia di Balenciaga, Norbert Stumpfl di Brioni, Anthony Vaccarello di Saint Laurent dan Matthieu Blazy di Bottega Veneta.

Clare, sosok yang menandai sejarah Givenchy sebagai creative director perempuan pertamanya (and according to Vogue, Hubert himself was intriqued to meet her), berbagi pandangan serupa mengenai problem gender maupun ras di bisnis mode dan melihatnya sebagai sebuah tantangan panjang. “Gender and race inequality is still huge in this industry. There are fewer and fewer women hired in top roles every year, it’s a constant challenge,” tuturnya. Tentu saja masalah ini bukan perkara simple untuk diselesaikan. Aspek representasi tak bisa berdiri sendiri. Keterwakilan juga harus diiring oleh demonstrasi performa. Artinya, apa yang selanjutnya Clare bawa untuk dunia fashion – juga oleh para desainer perempuan lain – berperan dalam shifting of perspective di wilayah tersebut. Bicara soal arahan kreatifnya ke depan, ia sempat mengungkap mengenai kecenderungannya untuk mendesain koleksi yang seasonless. “I have found increasingly that I need to design completely seasonless collections,” ujarnya.

Entah nantinya kembali bekerja untuk fashion house ternama atau membangun eponymous label, Clare sudah punya track record yang akan membantunya menjalani pilihan langkah manapun. Mengawali karir di Calvin Klein pada tahun 90’an, ia mengasah skill selama puluhan tahun di berbagai rumah mode lain, termasuk Tom Ford dan Gucci. Kala menjabat sebagai artistic director dari Pringle of Scotland, ia dianugerahi penghargaan Scottish Fashion Awards ‘Designer of the Year’ kategori cashmere pada tahun 2007. Namanya semakin kukuh saat menjabat sebagai Creative Director Chloé. Di Givenchy, salah satu momen besarnya adalah merancang gaun pengantin Meghan Markle yang menikah dengan Pangeran Harry di tahun 2018. Pada tahun yang sama, ia meraih gelar Womenswear Designer of the Year di ajang British Fashion Awards, dan pada tahun 2019 dinobatkan sebagai salah satu orang paling berpengaruh pada TIME 100 Awards.

Chance of Improvement
Perjalanan panjang Clare yang diisi prestasi-prestasi jelas melibatkan perjuangan. Yang kemudian kami tanyakan kepadanya adalah seberat apa perjuangan yang harus dipikul oleh talenta-talenta baru di tengah kondisi crowded industry mode di mana label-label baru terus bermunculan dan eksistensi giant corporations mendominasi. Apakah terlalu muluk bagi lulusan-lulusan sekolah fashion design untuk bermimpi sukses di kancah mode internasional?

Sang desainer kelahiran Birmingham itu tak mengelak akan fakta beratnya memulai bisnis di industri ini. Lebih dari itu, ia melihat bahwa implikasikanya bukan sekadar soal tantangan dalam hal entrepreneurship, melainkan iklim kreatif. “It’s increasingly difficult to find a strong voice and financial business support in this market. The huge corporations are buying up billion dollar brands like candy and it becomes more homogeneous every year as brands follow other brands selling formats. The individualism we used to see is becoming the quiet voice in a world of celebrity and status,” papar Clare yang mengaku ia bisa merasakan struggle dari para young designers.

Meskipun demikian, Clare percaya bahwa tetap ada jalan bagi kesuksesan seorang desainer. “I truly feel the struggle for young designers as the choices are becoming more limited, but on a positive note if you have a strong following and community that loves what you do, I think it’s still possible to cut through even in this tough environment,” ucapnya. Tough environment di dunia mode tampaknya bukan hanya terkait atmosfer bisnis tapi juga berlaku bagi relasinya dengan lingkungan alam. Lugas Clare merespon topik ini dengan mengatakan, “This is a giant topic and a super important one.” Dalam kacamatanya, kecepatan tren yang berakibat pada overconsumption menjadi penyebab dari kerusakan lingkungan oleh fashion industry. Ia menyebut dua hal itu insane dan ridiculous.

Masa pandemi dilihat olehnya sebagai satu case di mana orang-orang dipaksa untuk berpikir tentang kebutuhan berpakaian alih-alih tren semata. “Suddenly people were looking at their wardrobes and realising that actually because they weren’t shown the next trend they were focusing on what they really needed and what they loved rather than what they were seeing pushed as trends. For a short while it really stopped that overconsumption overnight,” jelasnya. Pandemi kini telah usai, dunia mode kembali menghadapi tantangan berat perihal cara pandang bijak menyikapi tren dan konsumsi berlebih. Displin adalah kata kunci menurut perspektif Clare. “Ultimately we all have to be more disciplined about what we actually need and not buy so much but buy more thoughtfully,” ucap perancang yang menekankan pentingnya edukasi untuk merawat pakaian sebagai bagian dari perlawanan terhadap kerusakan lingkungan.

Quality and longevity in clothing is still paramount and education on how to care for your clothes is equally key in the struggle against the environmental impact that our industry needs to address,” pungkas Clare Waight Keller.