StrEIGHT from the Desk of: Madelaine Angelina

The musings on love.

 

This is not a manual of how to love, but a collage of thoughts about love. Cinta atau kasih sayang. Sebuah perasaan yang menginspirasi jutaan karya, mulai dari novel, lagu, hingga film. Love stories in all kinds of forms, from the heartbreaking “Wuthering Heights” to the swoon-worthy “Bridgerton”, always seem to delight the audience. Dengan Valentine’s Day yang sudah mendekat, saya ingin membuat tulisan yang membahas kasih sayang dan cinta.

Perbedaan penggunaan kata “cinta” dan “sayang” merupakan sesuatu yang menarik bagi saya. Di dalam Bahasa Indonesia, kata “cinta” dan “sayang” kerap digunakan sebagai terjemahan dari kata Bahasa Inggris “love”. Cinta lebih dikaitkan dengan asmara atau perasaan kepada pasangan dengan keinginan untuk memberikan yang terbaik kepadanya. Sementara itu, “sayang” mengacu kepada perasaan lembut dan tulus (affection) yang, di luar penggunaan dalam konteks pasangan, juga sering mendeskripsikan kasih untuk keluarga dan teman. Uniknya, “sayang” juga lebih dikaitkan dengan kasih yang menggunakan akal sehat, dan cinta sebaliknya.

I do think society in general likes to focus more on romantic love than familial love or affection between friends, even though they are also equally important. Sebuah artikel riset dari Harvard Medical School yang berjudul “The Science of Love” berkata bahwa “keterikatan dan kasih tidak perlu berbentuk romantis untuk memberikan efek bermanfaat pada otak.” Artikel tersebut juga menyebutkan bahwa “manusia dapat bertahan hidup dan berkembang berkat rasa keanggotaan dan keterlibatan dalam kelompok,” serta bagaimana hubungan-hubungan tersebut membawa manfaat kepada kesehatan mental dan fisik.

There is no one in this world that can survive without love. Sains masih belum bisa memahami emosi ini sepenuhnya, tetapi banyak kisah, fiksi maupun nonfiksi, telah mendeskripsikan bagaimana kasih sayang merupakan sumber kekuatan. Manusia bahkan mencari kasih sayang dari AI atau robot. Kita sangat membutuhkannya, tetapi ironisnya banyak orang “lupa” atau “tidak menyadari” cara menyayangi seseorang.

Love needs no labels, right? Beberapa waktu terakhir, kita sering mendengar tentang konsep love languages di mana setiap orang memiliki love languages yang berbeda-beda. I do agree that it raises awareness on how each individual has different emotional needs, but I don’t like labelling things and making it seem like exact science. Betul, logika diperlukan dalam cinta, tetapi kekakuan perasaan juga merupakan salah satu yang dapat merubuhkannya. Semua orang membutuhkan acts of service, quality time, physical touch, dan gifting dalam hubungan penuh kasih sayang mereka, “resep” kuantitas dari keempatnya saja yang berbeda-beda untuk setiap orang.

Cinta atau kasih sayang bukan hanya cokelat, hadiah, dan bunga. Ia adalah keinginan untuk memahami, usaha untuk berempati, dan kekuatan untuk memaafkan. Kita dengan senang hati meluangkan waktu untuk orang yang kita sayangi, merayakan kemenangan mereka, dan mendukung mereka di saat sedih. In love, there is trust, appreciation, and affection. Tidak hanya dari pasangan ke pasangan, tetapi tidak melupakan keluarga dan teman. Oh, dan akal sehat, karena menyayangi diri sendiri juga diperlukan.