JF3 Dukung Hartono Gan Luncurkan Lini Ready-to-Wear

A part of Future Fashion Designer program.

 

Langkah baru Hartono Gan ditapaki di tahun 2026. Fashion designer dengan karakter rancangan retro-glam dan ekspresif kini tak hanya memenuhi pesanan made-to-order tapi juga menyuguhkan lini ready-to-wear. Peluncuran line tersebut dilakukan di LAKON Store, Summarecon Mall Kelapa Gading beberapa waktu lalu sebagai bagian dari Future Fashion Award JF3 yang tahun ini berkembang menjadi Future Fashion Designer.

Diluncurkan tahun lalu, Future Fashion Award (FFA) merupakan langkah strategis JF3 untuk membuka ruang tumbuh bagi desainer dengan potensi kuat agar dapat melangkah lebih siap ke ranah industri. Melalui dukungan finansial bertahap dan proses pengembangan bisnis yang terstruktur bersama LAKON Indonesia, program ini dirancang untuk memperkuat kapasitas produksi, membangun sistem operasional, dan membentuk kesiapan brand memasuki retail profesional. Peluncuran lini ready-to-wear Hartono menjadi penanda berkembangnya Fashion Future Award menjadi format baru dengan nama Future Fashion Designer (FFD).

Hartono Gan mendirikan label Hartono Gan Homme pada 2019 dan dikenal melalui pendekatan tailoring yang daring. Selama lebih dari enam tahun, ia membangun reputasinya melalui format made-to-order, menghadirkan karya dengan presisi, proporsi terukur, dan pengalaman personal yang kuat bagi setiap pemakainya. Pendekatan uniknya terhadap gender mewujud pada desain-desain yang tidak terikat pada batasan maskulin maupun feminin, melainkan bertumpu pada siluet androgynous, garis tajam dan bersih, serta berkarakter.

Kini, DNA tersebut diterjemahkan ke dalam lini ready-to-wear perdana yang tetap menjaga karakter utama brand, namun hadir dalam format yang lebih terbuka terhadap pasar yang lebih luas. Koleksi ini dibangun dari gagasan building a capsule wardrobe, menghadirkan potongan esensial seperti blazer, jaket kasual, celana tailored, dan kemeja, dengan fleksibilitas padu padan. Dalam presentasi koleksi ready-to-wear perdananya, Hartono Gan menampilkan 16 kreasi yang siap dimiliki publik. Tak sekadar perluasan lini produk, koleksi debut tersebut menjadi penanda kesiapan brand untuk bergerak ke sistem yang lebih terstruktur, lebih terukur, dan lebih dekat dengan pasar.

“Saya ingin lebih banyak orang dapat menikmati kualitas yang selama ini menjadi ciri khas Hartono Gan Homme. Ready-to-wear ini bukan kompromi, melainkan pengembangan bahasa desain saya ke konteks yang lebih luas, tanpa kehilangan esensinya,” ungkap sang desainer. Bagi JF3 yang mewadahi Future Fashion Award, peluncuran ini menjadi bagian dari visi RECRAFTED: Shaping the Future, membangun hubungan yang lebih kuat antara kreativitas dan sistem, antara runway dan ritel, serta antara talenta lokal dan akses pasar yang lebih luas.

Dalam kerangka itulah JF3 terus memperkuat perannya sebagai platform industri yang tidak berhenti pada presentasi, tetapi bergerak sampai pada pembentukan kapasitas dan peluang nyata. JF3 terus berupaya membentuk talenta fashion Indonesia yang tidak hanya kuat secara kreatif, tetapi juga siap memasuki ekosistem industri yang lebih luas. JF3 melihat bahwa masa depan fashion tidak dibentuk hanya melalui ide dan presentasi di runway, tetapi melalui proses yang memperkuat fondasi brand: dari kapasitas produksi, sistem operasional, hingga kesiapan memasuki pasar retail profesional.

“Ketika kreativitas dipertemukan dengan kesiapan bisnis yang terstruktur, hasilnya dapat melampaui sebuah koleksi. Yang terbentuk adalah fondasi brand yang lebih kuat, lebih relevan, dan lebih siap untuk tumbuh,” ucap Thresia Mareta, Advisor JF3 sekaligus Founder LAKON Indonesia. Hal senada turut dinyatakan Soegianto Nagaria, Chairman JF3 Fashion Festival. Ia menegaskan, “JF3 hadir bukan hanya untuk merayakan kreativitas, tetapi untuk membangun sistem yang memungkinkan kreativitas itu berkembang menjadi kekuatan industri. Transformasi Hartono Gan menunjukkan bagaimana talenta Indonesia dapat bergerak lebih jauh ketika didukung oleh arah yang jelas, struktur yang tepat, dan ekosistem yang relevan.”