Globally cohesive, locally adaptive.
Abercrombie & Fitch resmi menandai kehadirannya di Indonesia dengan membuka gerai perdana di Jakarta. Acara pembukaan dihadiri oleh Steven Sare, Managing Director Asia Pacific of Abercrombie & Fitch.
Dipilih sebagai titik awal ekspansi di Asia Tenggara, Jakarta merepresentasikan pasar strategis bagi label kontemporer asal Amerika Serikat ini. Menggandeng PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAP) sebagai mitra retailer, Abercrombie & Fitch menghadirkan pendekatan yang adaptif terhadap kebutuhan pasar lokal tanpa mengesampingkan DNA serta warisan panjangnya yang telah berdiri sejak 1892.

Sesaat sebelum store ini resmi dibuka untuk publik, The Editors Club berkesempatan merasakan langsung pengalaman ritel yang dihadirkan. Interior butiknya memancarkan nuansa homey khas rumah Amerika dengan sentuhan art deco yang hadir melalui detail lantai chessboard dan pencahayaan hangat.
Dari segi kurasi busana, Abercrombie & Fitch menyambut holiday season dengan memperkenalkan koleksi sleepwear set yang versatile untuk bisa dikenakan merayakan momen festive. Selain itu, hadir pula rangkaian denim dengan berbagai potongan siluet, activewear, hingga koleksi dress bernuansa eksotis yang diproduksi khusus untuk pasar Indonesia, terinspirasi dari island life Bali.
The Editors Club, diwakili oleh Fashion Editor Anantama, berbincang singkat dengan Steven Sare, mengenai strategi global, pendekatan adaptasi lokal, serta filosofi di balik pengalaman ritel terbaru Abercrombie & Fitch.

Apa yang melatarbelakangi keputusan Abercrombie & Fitch untuk masuk ke pasar Indonesia saat ini?
Secara global, bisnis kami berada dalam kondisi yang sangat sehat. Dalam empat tahun terakhir, kami mencatat performa yang luar biasa, termasuk dua belas kuartal pertumbuhan berturut-turut. Kekuatan ini memberi kami kepercayaan diri untuk berinvestasi pada ekspansi internasional di luar pasar utama kami di Amerika Serikat.
Ketika kami melihat Asia secara keseluruhan, Asia Tenggara tampil sebagai peluang pertumbuhan yang sangat jelas. Ini adalah kawasan yang secara personal dekat dengan saya. Saya telah lama tinggal di Tokyo dan Shanghai, serta sering bepergian ke Bali, Thailand, dan Vietnam. Bersama MAP, kami tidak hanya melihat Jakarta sebagai titik peluncuran, tetapi sebagai awal dari kehadiran jangka panjang di tujuh negara dalam lima tahun ke depan.
Apa yang membuat pasar Indonesia begitu unik bagi Abercrombie & Fitch?
Ada dua hal utama. Pertama adalah iklim. Tidak banyak pasar di dunia dengan cuaca hangat sepanjang tahun, sehingga kurasi produk menjadi sangat penting. MAP membantu kami memilih material yang lebih ringan dan potongan yang relevan untuk keseharian di Asia Tenggara. Kedua adalah aspek modesty. Ini adalah hal yang kami perhatikan dengan sangat serius, terutama untuk pelanggan perempuan. Kami ingin setiap orang merasa nyaman, percaya diri, dan dihargai. Karena itu, kami bekerja sangat dekat dengan tim lokal untuk memastikan koleksi yang dihadirkan tetap sesuai, tanpa kehilangan esensi brand.
“Our vision for the APAC market, and Indonesia in particular, is to blend the very best of our American heritage with a sensitivity to local culture and climate.”
Apakah Abercrombie & Fitch melihat diri sebagai bagian dari gerakan quiet luxury?
Saya tidak secara khusus memberi label tersebut, tetapi kami melihat diri kami sebagai label light premium. Tujuan kami adalah menghadirkan kualitas yang luar biasa dengan harga yang terasa masuk akal. Bagi pelanggan kami, kenyamanan adalah hal esensial. Softness menjadi salah satu atribut terpenting. Baik itu denim, fleece, maupun knitwear, kami berinvestasi besar pada pengembangan material agar kualitasnya dapat langsung dirasakan saat dikenakan.
Menurut Anda, apa yang membuat sebuah essential piece terasa benar-benar premium?
Ada dua hal utama: bagaimana rasanya saat dikenakan dan bagaimana fit-nya di tubuh. Ketika Anda mengenakan sesuatu yang terasa nyaman, membuat Anda percaya diri, lalu bercermin dan berpikir, ‘Saya terlihat luar biasa hari ini’, itulah premium. Perasaan itu penting bagi semua orang, terlepas dari kategori atau harga.
Bagaimana Abercrombie & Fitch menerjemahkan pengalaman ritel globalnya ke pasar APAC, khususnya Indonesia?
Prioritas kami di APAC adalah menghadirkan versi terbaik Abercrombie & Fitch sebagai brand global, sambil memastikan pengalaman tersebut tetap relevan secara lokal. Dari sisi desain, tampilan dan atmosfer store kami tetap konsisten secara global, sehingga di mana pun berada, identitas brand tetap terasa familiar.

Nuansa pelokalan paling terasa melalui fokus kategori dan kurasi produk. Jika di Amerika Serikat denim merupakan kategori terbesar, di Asia kami melihat ketertarikan yang lebih besar pada celana berbahan ringan, linen, dress, dan blus. Di Asia Tenggara, linen bahkan berpotensi menjadi pilihan sepanjang tahun.
Elemen lain yang penting adalah branding. Pelanggan di Asia cenderung menyukai identitas visual yang kuat, terutama ikon moose kami. Karena itu, sebagian besar koleksi untuk APAC kami adaptasi dengan menghadirkan ikon tersebut. Hasilnya, produk terasa lebih premium, lebih khas, dan memiliki kedekatan emosional, tanpa kehilangan esensi Abercrombie & Fitch.
Our vision for the APAC market, and Indonesia in particular, is to blend the very best of our American heritage with a sensitivity to local culture and climate. It’s about creating an experience that feels exclusive yet welcoming, sophisticated yet approachable.