Kemewahan Nan Tenang: Regent Bali Canggu

A hidden gem shaped by quiet sophistication.

 

Empat hari sebelum keberangkatan ke Bali, hampir semua berita yang saya baca mengatakan hal yang sama: Bali sedang dilanda banjir. Jadi ketika pesawat yang kami tumpangi siap lepas landas pukul tujuh pagi tadi, dengan langit yang masih mendung, saya pun sempat bergumam, “Oh dear Bali… please be nice.And nice it has been, ever since.

Sebuah Alphard terbaru sudah menunggu di bandara, dan perjalanan menuju hotel berlangsung lancar tanpa kemacetan berarti. Sekitar satu jam kemudian, kami pun tiba di Regent Bali Canggu, hotel tempat saya akan menghabiskan akhir pekan selama tiga hari dua malam. It is safe to say that this hotel feels like a hidden gem.

Di tengah energi Canggu yang dinamis dan tak pernah benar-benar tidur, berdiri sebuah tempat yang menawarkan ritme yang berbeda. Lebih tenang, lebih elegan, lebih refined. Hampir seperti sebuah sanctuary. Di sini, saya merasa connected. I feel seen. I feel heard. Itulah Regent Bali Canggu.

Kamar yang luas dipenuhi detail yang memesona. Skema warna serta pencahayaan yang dirancang dengan saksama menciptakan atmosfer yang membuat siapa pun betah berlama-lama di dalamnya. Bahkan kamar mandinya pun terasa seperti sebuah ruang desain tersendiri, dengan estetika yang mengingatkan saya pada Bottega Veneta: minimal, tactile, dan quietly luxurious.

Sayangnya, tidak banyak waktu untuk bersantai. Saya harus segera bersiap untuk bertemu dengan Manish Puri, General Manager Regent Bali Canggu, di Regent Club.

Regent Club adalah area privat tempat saya melakukan proses check-in sebelumnya. Aksesnya eksklusif, diperuntukkan bagi tamu yang menginap di penthouse dan beachfront villa, serta anggota IHG One Rewards dengan tier Platinum Elite dan Diamond Elite. Di luar kategori tersebut, tamu tetap dapat menikmati akses ke Regent Club dengan biaya tambahan sekitar USD 125++ per orang per hari.

Manish hadir dengan aura seorang general manager yang hangat dan easygoing. Setelah saya sempat berbagi beberapa impresi awal tentang hotel ini, saya pun mengeluarkan alat perekam dan memulai interview dengan kalimat, “I would like to start this interview with questions about visions and leadership.”

Karena saya percaya, pucuk pimpinan memiliki peran krusial dalam membentuk keberhasilan sebuah organisasi. Dari arah strategi hingga budaya yang terasa di setiap lapisan tim.

Setelah lebih dari dua dekade berkecimpung di dunia hospitality, Manish percaya bahwa kepemimpinan di industri ini sebenarnya memiliki prinsip yang cukup sederhana.

Menurutnya, seorang pemimpin harus memiliki telinga yang siap mendengar, mata yang tajam untuk melihat apa yang sedang terjadi, dan yang paling penting, hati yang cukup besar untuk memimpin dengannya. Karena lebih dari strategi atau sistem, hospitality tetaplah bisnis yang sangat manusiawi. Tidak mungkin menciptakan pengalaman hangat bagi para tamu jika energi yang sama tidak terjadi di balik layar, di antara para staf yang bekerja setiap hari.

Memahami visi seorang general manager membantu saya melihat hotel ini dalam konteks yang lebih utuh.

The Art of Quiet Luxury at Regent Bali Canggu
Saat berbincang dengan Manish, ada satu hal yang langsung terasa sangat agreeable: baginya, luxury bukanlah tentang kemewahan yang berisik. Justru sebaliknya. Menurutnya, definisi kemewahan yang sesungguhnya jauh lebih sederhana, sekaligus jauh lebih dalam. “Luxury is space. Luxury is comfort. It is elegance, chic, and understated.” Filosofi inilah yang menjadi DNA Regent sejak awal berdirinya brand tersebut.

Ketika ditanya pengalaman emosional apa yang ingin dibawa pulang oleh para tamu, jawabannya datang tanpa ragu: “memories for life.” Baginya, hospitality bukan sekadar menyediakan kamar yang indah atau pelayanan yang sempurna. Ini tentang menciptakan pengalaman yang tetap diingat jauh setelah tamu pulang.

High-Tech Meets High-Touch
Di era digital dan AI yang semakin berkembang, teknologi tentu memiliki peran penting. Namun bagi Manish, teknologi seharusnya tetap berada di belakang layar, membantu hotel memberikan pengalaman yang lebih seamless, dari check-in hingga check-out. Namun ada satu hal yang tidak akan pernah bisa digantikan teknologi: the human welcome.

Saya pun penasaran bagaimana luxury akan berevolusi dalam sepuluh tahun ke depan. Manish kembali menekankan bahwa luxury hospitality akan terus bergerak ke arah high-tech sekaligus high touch. Teknologi membuat pengalaman menjadi lebih efisien, tetapi interaksi manusia tetap menjadi inti dari segalanya. Orang-orang akan selalu berkumpul di meja makan, berbagi cerita, menikmati makanan, dan membangun koneksi.

Saya lalu menambahkan satu pertanyaan terakhir: jika Regent adalah seorang manusia, seperti apa kira-kira kepribadiannya? Menurutnya, Regent adalah sosok yang percaya diri, chic, passionate, dan tentu saja stylish. Yang terpenting, ia bukan tipe yang merasa perlu menarik perhatian berlebihan.

Sisa dua hari di Regent saya habiskan sepenuhnya di dalam hotel. Mulai dari dinner Michelin Master Series di Chef’s Table yang menghadirkan karya Chef Thierry Drapeau bersama Executive Chef Mike Boyle, hingga makan malam di Sazón, sebuah restoran Mediterania yang, menurut saya, menjadi salah satu yang paling enak di Bali saat ini.

Di sela-selanya, saya menghabiskan waktu di Taru untuk bersantai, serta menikmati sesi spa yang diawali dengan pengalaman Reset Pod yang menenangkan.

Dan mungkin di situlah saya akhirnya benar-benar memahami filosofi yang tadi dibicarakan Manish. Bahwa luxury tidak selalu harus spektakuler. Kadang ia hadir dalam bentuk yang jauh lebih sederhana: waktu yang berjalan lebih lambat, percakapan yang hangat, dan perasaan tenang karena berada di tempat yang terasa tepat. Quiet. Understated. Deeply memorable.