Perjuangan Stephanie Chai Pertahankan Bisnis Travel di Era Pandemi

Emphasizing the importance of strong leadership.

 

Ada masa ketika kaki kita selalu melangkah, dekat maupun jauh. Kita pun terhenyak saat segalanya dipaksa berhenti lantaran pandemi. Merebaknya coronavirus secara global berdampak pada segala bidang. Tak terkecuali bidang pariwisata dan travelling. Siapa yang menyangka bahwa kegiatan travelling yang menjadi ciri gaya hidup masa kini harus ditunda untuk masa waktu yang tak pasti? Dahulu, bisnis yang berkaitan dengan aktivitas pelesir seolah tak akan pernah terguncang, namun kini segenap pihak yang bergerak di dalamnya memeras otak untuk menghadapi situasi serius.

The Editors Club berbincang dengan Stephanie Chai, pendiri dan CEO situs reservasi luxury villa The Luxe Nomad dengan area cakupan Asia-Pacific, mengenai caranya membawa The Luxe Nomad melewati masa-masa menantang akibat pandemi Covid-19.

The Luxe Curation for the Nomad
I definitely miss travelling so much. I used to travel for perhaps every once or every two weeks as we got villas in Bali and office in Thailand and so forth. So travel was my life,” ucap Stephanie mengawali perbincangan. Passion terhadap travelling memang sudah membara di dalam dirinya sejak lama. Tumbuh di New Zealand dan Malaysia, Stephanie sejak dini telah menggapai hal-hal yang menjadi impian banyak orang. Selepas lulus kuliah, ia menapakkan kakinya ke dunia modeling dan presenter televisi di Singapura dan Malaysia. Akan tetapi, kecintaannya kepada travelling lah yang membawanya ke “hidupnya” yang utuh. Begitu passionate akan hal itu, keputusan untuk membangun The Luxe Nomad diambil 5 menit setelah temannya memberi referensi website serupa di Amerika.

Berbasis otodidak dalam mempelajari seluk-beluk bisnis online booking untuk akomodasi, modal yang dirogoh dari kantong pribadi beserta investor funding yang didapat berhasil dikelola hingga situs berkembang hingga sebesar sekarang. Beroperasi mulai tahun 2012, kini The Luxe Nomad mewadahi lebih dari 1.900 villa di lebih dari 35 lokasi dalam mesin pencariannya. Pencapaian ini tidak dapat secara cuma-cuma, melainkan buah dari upaya meyakinkan pihak pemilik atau pengelola properti agar mau bergabung, peningkatan kualitas website, hingga strategi mendatangkan pengunjung. Salah satu kunci esensial dari strategi pengembangan bisnis reservasi online miliknya adalah skema flash sale yang menggiurkan. Selain tentunya yang menjadi kekuatan utama adalah suguhan ragam pilihan luxury property yang terkurasi.

Jika Anda mengunjungi The Luxe Nomad, berbagai promo menarik lain pun bisa didapat. Mulai dari special rates hingga ragam deals menarik. Dengan tampilan yang user friendly, pencarian terhadap tempat-tempat akomodasi di situs ini pun dilengkapi filter yang semakin mempermudah Anda menemukan properti sesuai kebutuhan. Anda bisa menyaring hasil pencarian berdasar area dan tipe akomodasi. If you want a real treat, a beachfront villa with blue ocean view which has jacuzzi inside would be perfect! Akan tetapi bila sesuatu yang lebih homey yang Anda cari, Villa Nonnavana adalah jawabannya. Dekat dengan Pantai Batu Bolong, villa 4 kamar tidur bersentuhan nuansa hangat dari elemen kayu dan rotan ini memberikan kenyamanan dan fasilitas yang menunjang.

Kamar-kamar tidurnya ditempatkan di sekeliling kolam renang yang akan memberi suasana visual nan segar. Layanan concierge, butler, spa, laundry, hingga fasilitas BBQ tersedia untuk mendukung pengalaman menginap yang optimal di Villa Nonnavana. Jika ingin menikmati hiburan di luar vila, beberapa tempat terdekat yang bisa dikunjungi selain pantai adalah Splash Waterpark Bali, Finch Beach Club, dan Seminyak Square. Vila yang berlokasi di area Canggu ini dikelola langsung The Luxe Nomad. Villa management memang merupakan salah satu unit usaha dari The Luxe Nomad. Lantas bagaimana Stephanie membawa bisnisnya hingga bisa berjalan hingga sejauh ini di tengah pandemi yang melanda? Further she told us her story about it and what she has learned from the situation.

 

I do think a bright side of the situation. I think it made us more grateful for what we have.

 

Fighting for the Business
Setelah sekitar setahun berdiam di Hong Kong selama pandemi, baru-baru ini ia melakukan perjalanan ke New Zealand untuk mengunjungi orangtuanya. Mengaku merasa nostalgic dengan “rutinitas” penerbangan, ia mengalami langsung berbagai perbedaan saat tiba di tujuan. Yang ia maksud ialah berbagai protokol baru terkait kesehatan, seperti penerapan jarak, kewajiban memakai masker, dan sebagainya. “So it’s definitely not easy,” tegasnya. Meski mengaku pengalaman tersebut tidak mudah, tampaknya hal itu jauh lebih “jelas” dibanding situasi awal pandemi. Melihat langsung bagaimana kegiatan travelling di era normal baru berjalan, ia mungkin bisa mendapat gambaran tentang bagaimana bisnisnya akan berjalan ke depan, dan menentukan langkah yang perlu diambil. Pada saat pandemi mulai di awal 2020 lalu, situasinya jelas berbeda dan jauh dari kejelasan. Sebagaimana pebisnis lain, mulanya Stephanie pun belum sepenuhnya yakin dengan apa yang sesungguhnya terjadi saat itu.

Well I mean when it first happened in February we were like, okay is this a China issue? And it affected us badly in Thailand because it was Chinese New Year and China closed borders pretty much like Chinese New Year’s eve. It affected some bookings and travel for us but it wasn’t until mid March that we were like, wow the situation was actually really bad, it was going global and for the first time ever I think – or who knows a hundred years or something – we have the pandemic that closes borders…It was crazy. Essentially from March, April, probably till May, every week I was doing a different budget forecast with my COO,” kenang Stephanie yang becerita dengan sangat chill bahkan diiringi tawa ringan. Di tengah atmosfer penuh tantangan tersebut, Stephanie memanifestasikan prinsipnya dalam hal kepemimpinan. Meski mengaku khawatir, ia tetap berusaha untuk fokus pada proses mencari solusi. Beruntung bahwa dalam dirinya memang mengalir spirit penyuka tantangan.

Seketika pandemi melanda tataran global, pendapatan The Luxe Nomad yang didapat dari booking pun terdampak. “Well, it affected us very badly because our revenue comes from bookings and when the borders shut suddenly overnight we had zero revenue,” kisah Stephanie. Sigap merespon situasi, ia pun langsung turun tangan ke area cash flow – sesuatu yang juga ia sukai – dan bersama tim berupaya memastikan agar perusahaan dapat tetap berjalan hingga setidaknya untuk beberapa tahun ke depan. “We did that with share holders’ support and really drilling down our cost,” jelasnya. Semua skema bisnis pun direvisi. Langkah 360 pun dilakukannya bersama tim untuk bertahan. Beralih fokus dari wilayah travel mancanegara ke domestik hingga efisiensi perusahaan seperti salary cut dan penghentian perekrutan – sebagaimana yang diterapkan perusahaan travel besar lainnya – dilakukan di The Luxe Nomad.

Spesifik memberi contoh mengenai cara timnya di Bali menghadapi tantangan, travel entrepreneur ini menyebut soal perubahan rate untuk mengakomodasi peminat-peminat lokal yang ingin melakukan long stay berjangka waktu bulanan. Diakuinya bahwa potongan yang diberi bisa mencapai 80% dengan pertimbangan bahwa setidaknya pemasukan yang didapat bisa dipakai untuk menutup biaya-biaya tetap, misalnya gaji pegawai. Melewati masa-masa sangat menantang itu, Stephanie bersyukur bahwa timnya tetap semangat, positif, dan saling dukung. Ia menekankan pentingnya untuk tetap melihat dan merayakan hal-hal baik yang diraih selama masa sulit. Contohnya pada tahun lalu The Luxe Nomad memenangkan penghargaan Best Property Management Company untuk wilayah Asia Pacific dari AltoVita di Inggris. Selain itu, oleh karena situasi pandemi, timnya pun bisa belajar untuk lebih efisien dalam soal cost management.

Having Positive Outlook
 I do believe travel will return to normal. It’s human nature to want to be with other people, to want to travel, to want to explore. You know, that’s like saying ‘After 9/11, will travel ever be the same?’ Well eventually it was, right. It  just takes time,” ujar Stephanie penuh optimisme. Seiring membaiknya situasi, meski masih perlahan, dunia bisnis travel pun jadi lebih baik. Ia mengungkap bahwa jumlah booking konsisten meningkat. Di portofolio bisnis The Luxe Nomad, Bali masih menjadi wilayah yang paling bersinar. Bahkan ke depannya, bisnisnya pun akan mencoba lebih diversified dengan turut bergerak di ranah penjualan vila. Ia merasa bahwa banyak orang akan pindah ke Bali ketika wilayah itu benar-benar terbuka lebar. Menurutnya, karena banyak orang menyadari perihal fleksibilitas tempat kerja, seperti skema work-from-home, maka bekerja di vila pun akan menggiurkan bagi sebagian orang.

Terlepas dari urusan bisnis, Stephanie melihat bahwa pandemi coronavirus membawa siapapun kepada momen refleksi setelah sebelumnya dipenuhi oleh berbagai kesibukan dan kecepatan kegiatan. ‘Bersyukur’ menjadi kata kuncinya. “I do think a bright side of the situation. I think safely it made us more grateful for what we have,” jelasnya. Dalam menjalani kehidupan dengan berbagai tantangan yang ada, ia menjadikan meditasi sebagai salah satu cara untuk tetap tenang dan tak larut dalam stres. “Before I sleep I do a strict 20 minutes meditative pose and I find that has made me more calm,” ucapnya. Sebagaimana banyak orang lainnya yang merindukan kegiatan travelling, Setphanie juga punya angannya sendiri tentang ide trip setelah pandemi. Berbeda dengan sebagian orang yang mungkin punya itinerary spektakular untuk mengobati kerinduan berpelesir, pendiri The Luxe Nomad ini lebih memilih untuk melakukan kegiatan sederhana nan berkesan. Ia mengatakan, “I just really wanna see some of my old friends I haven’t seen for a while. Hopefully I’ll definitely be in Bali, enjoying some nice massages.

Well, definitely she has plenty options in Bali to choose from. Jika Anda ingin juga kembali menikmati suasana Bali yang cantik dan menempati sarana akomodasi yang akan memanjakan Anda, website The Luxe Nomad akan menyuguhkan beragam pilihan, termasuk Villa Nonnavana sebagaimana telah disebut sebelumnya. Untuk membantu Anda mendapat inspirasi berlibur, Anda bisa mengeksplorasi halaman WanderLuxe yang bisa diakses dari situs The Luxe Nomad. Selain tentunya topik-topik seputar destinasi wisata, Anda dapat pula mendapat informasi mengenai kuliner, spa, dan tema gaya hidup lainnya. Apakah Anda sudah menentukan vila apa yang akan ada pesan? Tak perlu khawatir dengan kualitas service yang akan diterima. Seperti dinyatakan Stephanie, meski berbagai penyesuaian dilakukan agar bisnis tetap berjalan, pelayanan terbaik tetap akan diberikan kepada konsumen. Untuk Anda yang memiliki vila di Bali dan ingin agar properti tersebut dikelola oleh pihak lain, Anda bisa memanfaatkan jasa villa management dari The Luxe Nomad yang sudah berpengalaman mengelola lebih dari 85 vila yang tersebar di Balu, Koh Samui, dan Phuket.

 

Pic: Villa Nonnavana, Bali.