The Significance of K-Pop Stars to Fashion Brands

Diving into the Korean wave’s relation with fashion industry.

 

Melalui musik, serial TV, maupun film, para selebriti Korea berhasil mendunia. Bukan hanya memiliki fans fanatik, luxury brand berskala internasional pun tak luput dari magnetnya. Salah satu indikasi awal dari hubungan antara Korean Wave (sebutan untuk kepopuleran Korea melalui budaya pop dan hiburan) dan para luxury brands adalah keikutsertaan aktris Song Hye-kyo pada eksibisi ‘The Little Black Jacket: Chanel’s Classic Revisited by Karl Lagerfeld and Carine Roitfeld’ pada tahun 2012. Song, yang berperan di drama-drama sukses seperti ‘Endless Love’ dan ‘Full House’, adalah satu-satunya bintang Korea Selatan yang bergabung dalam proyek ini setelah ia bertemu dengan Lagerfeld di fashion show Chanel pada bulan Oktober 2011.

Selanjutnya ada nama G-Dragon. Bernama asli Kwon Ji-yong, G-Dragon adalah leader dari Big Bang, salah satu grup boyband K-Pop yang telah mendunia dengan lagu-lagu Lies, Fantastic Baby, dan Bang Bang Bang. Like his group who tackles all sorts of musical genres from sentimental ballads to dance anthems, G-Dragon is known for his adventurous fashion sense and experimenting any kind of style. G-Dragon juga sering hadir di deretan depan fashion show Chanel dimana ia terlihat bersama Karl Lagerfeld dan para Chanel ambassadors lainnya. Ia kemudian membintangi sebuah campaign video untuk Gabrielle Bag.

BTS, K-pop boyband populer saat ini, beberapa waktu lalu juga menggebrak dunia fashion melalui kolaborasi bersama Kim Jones, Artistic Director dari Dior’s Men, dalam kreasi kostum panggung yang mereka kenakan di tur dunia Love Yourself: Speak Yourself. Tur tersebut terjual habis di Amerika, Brazil, Inggris, Prancis, dan Jepang. Dengan fanbase masif bernama ARMY,  para penggemar boyband beranggota 7 orang tersebut memantau pilihan fashion idola mereka. Berbagai fan account di Twitter dan Instagram melacak setiap artikel pakaian yang dikenakan oleh RM, Jin, Suga, J-Hope, Jimin, V, dan Jungkook di penampilan publik mereka. Dari situ juga, para followers mereka dapat melihat brand apa yang menjadi favorit setiap anggota, seperti kegemaran V pada motif-motif berani dari Gucci, atau RM dengan brand streetwear Jepang Visvim dan Kapital. 

Luas dan loyalnya para penggemar K-Pop punya dampak signifikan bagi hal-hal yang terkait dengan anggota boyband maupun girlband negeri ginseng itu. Contohnya, melalui perannya di drama My Love from the Star, aktris Jun Ji-hyun berhasil menyebabkan shortage dari sebuah lipstick YSL (The shade was Rouge Pur Couture No. 52, if you’re curious) dan melejitkan nama brand kacamata asal Korea, Gentle Monster. Tak mengherankan bila berbagai brand ingin menggandeng nama-nama populer K-pop untuk berkolaborasi. Fendi tampak menjadi salah satu rumah mode yang paham akan hal itu. Setelah merilis sebuah capsule collection dengan Taeyang dari Big Bang pada tahun 2017 lalu, baru-baru ini sang rumah mode Italia juga berkolaborasi dengan Jackson Wang dari boyband GOT7 untuk lagu ‘Fendiman’, which led to Wang chosen as the brand’s Chinese ambassador as well as their upcoming collab collection

Selain yang sudah disebut, beberapa contoh lainnya mengenai relasi K-Pop dan fashion adalah aktris Sense8 dan Cloud Atlas, Bae Doona, yang berjalan di runway Louis Vuitton, serta Sehun dari EXO yang ikut serta di sebuah campaign Ermenegildo Zegna. Kini nama-nama besar K-Pop mulai menjadi mainstay di fashion week, seperti kemunculan Kai EXO di show Gucci, Lisa Blackpink di show Celine, Jennie Blackpink di show Chanel, kemudian Mino Winner yang baru-baru ini berjalan di runway Louis Vuitton. And the list goes on. Popularitas K-Pop yang menanjak membuat banyak brand melihat PR opportunity dalam fenomena tersebut. Ada beberapa alasan yang bisa menjadi konsiderasi para label untuk bekerjasama dengan bintang-bintang Hallyu

Social media power

Relevansi para bintang Korea Selatan dengan dunia fashion tidak lepas dari pengaruh sosial media. Mereka adalah influencers yang memiliki pengaruh tinggi di dunia hiburan.

Seperti dilansir di Wall Street Journal, global search untuk tas Celine Triomphe naik setinggi 66% setelah kemunculannya di Instagram Lisa Blackpink. Memiliki 22.6 juta followers, Lisa merupakan selebriti K-Pop perempuan dengan followers terbanyak. Hal serupa juga terjadi antara Dior dan BTS. Tiga hari setelah pengumuman bahwa Dior akan membuat kostum panggung untuk BTS, search interest untuk Dior telah naik sebesar 420%. Saat tulisan ini dibuat, BTS memiliki 27.6 juta subscribers di Youtube (melalui akun agensi mereka), 21 juta followers di Twitter, 19.8 juta followers di Instagram, dan 9.3 juta followers di Facebook. Not merely big in numbers of followers, their fans are willing to spend their money for whatever BTS has their name on

Melihat hal itu, tak heran bila brand berupaya memanfaatkan pengaruh bintang-bintang K-Pop. Para idola Korea Selatan telah menjadi branding platform yang efektif. Mereka dapat memperkenalkan sebuah merek fashion kepada audiens baru or making sure a brand retains its ‘cool’ status at the top of their fans’ minds

Good timing for diversity

Kini isu hangat yang melanda dunia mode serta hiburan adalah diversitas. Kedua area tersebut semakin sadar pentingnya keberagaman sehingga golongan yang sebelumnya “tak terlihat” ataupun terpinggirkan kini mendapat spotlight. Salah satunya adalah kalangan Asia. Kesuksesan film-film Amerika dengan bintang Asia seperti Crazy Rich Asians memperkuat relevansi penduduk timur Bumi di global entertainment scene maupun fashion scene. Diversity is in, and a lot of brands see this no longer as just an opportunity, but an obligation. To stay relevant, the platform needs to be diverse to cater to an equally diverse audience. Dengan relevansi terhadap perkembangan zaman yang semakin peduli keberagaman dan memiliki popularitas tinggi, para bintang Korea dinilai sebagai spokesperson yang sesuai.

A complete package

Ada sesuatu yang membedakan para idola K-Pop dengan selebriti lainnya. Kebanyakan dari idol group Korea dibentuk oleh agensi hiburan. The entertainment agencies train them to sing, rap, and dance. Periode training tersebut bisa mencapai bertahun-tahun, dan hanya yang terbaik yang akan diorbitkan sebagai seorang bintang. Selain memoles teknik-teknik panggung mereka, para trainees juga belajar bahasa dan bagaimana cara mempresentasikan diri mereka sebagai seorang idola. Mereka terbiasa menjadi kanvas polos yang bisa dibentuk sesuai dengan arahan yang diberikan. Dengan bekal skill yang ditanamkan serta kemampuan untuk mengikuti creative direction, selebriti K-pop menjadi paket lengkap yang dilirik banyak brand.

Hal itu pun ditunjang dengan citra K-pop yang memang sangat fashion conscious sehingga para rumah mode tak perlu lagi memikirkan cara agar nuansa fashion produk-produknya tersampaikan dengan jelas. Style memang adalah salah satu DNA penting dari K-Pop dan Korean Wave. That ‘style’ exists in all kinds of mediums from the conceptual music videos to the coordinated outfits the stars wore as they live their celebrity lives. Lebih dari itu, style juga menjadi bagian karakter personal dari banyak bintang Korea. Passion pribadi terhadap dunia mode tersebut tentu akan semakin memperlancar brand kala bekerjasama dengan mereka. Bagi selebriti Korea itu sendiri, kerjasama dengan rumah mode ternama juga merupakan sebuah pencapaian dalam karir. It seems that the relation between fashion and K-Pop is a match made in heaven.