Sekelumit tentang Media Alternatif Dunia Mode

Sharing the alternatives.

Teks: Salsabila Ramadhani Sutantio

 

Beberapa tahun terakhir, realita fashion disemarakkan oleh pemain-pemain media alternatif yang menjadi pilihan berbeda bagi masyarakat untuk melihat isi dunia mode. Menggunakan platform digital seperti social media, penerbitan independen, dan podcast, alternatif-alternatif  baru ini menawarkan perspektif kritis dan beragam yang semakin jarang ditemui di pers tradisional. Menantang status quo, media alternatif ini menyapa audiens mereka dengan suara yang lebih lugas dan menawarkan referensi lebih beragam. 

Berikut ini adalah 3 media alternatif di dunia fashion yang memiliki dampak signifikan:

Diet Prada
Diet Prada merupakan salah satu media alternatif di industri fashion dengan 3 juta pengikut di Instagram per Februari 2022. Dibentuk pada tahun 2014 oleh Liu dan Schuyler, akun Diet Prada mengawali aksinya dengan berbagi post tentang fenomena buruk dalam dunia fashion seperti plagiarisme, perampasan intelektual, hingga diskriminasi pada fashion show, fashion design, editorial, dan campaign dari beberapa brand. Dengan paparan ensiklopedis, akun ini secara langsung menunjuk dan mengkritik banyak brand.

Salah satu aksi dan publikasi dari Diet Prada yang menggemparkan dunia fashion adalah saat duo ini menyoroti iklan Dolce & Gabbana yang mengandung aspek rasial, bersamaan dengan serangkaian DM rasis yang tampaknya berasal dari Stefano Gabbana. Kasus rasial ini terdengar hingga ke pejabat asal Cina, yang memiliki otoritas untuk membatalkan rencana fashion show Dolce & Gabbana di Shanghai. Banyak model dan selebritis terkemuka asal China mengecam merek tersebut karena kasus rasial ini, dan beberapa konsumen tidak hanya memboikot perusahaan tersebut, tetapi juga menghancurkan merchandise Dolce & Gabbana yang sudah mereka miliki. Merek terpaksa membatalkan pertunjukan di Shanghai. Butuh waktu seminggu bagi pihak Dolce & Gabbana untuk meminta maaf.

The Fashion Law
Platform The Fashion Law didirikan pada tahun 2012 oleh Julie Zerbo sebagai hobi ketika ia masih bersekolah hukum. Blog tersebut dibangun atas minatnya pada hukum kekayaan intelektual (termasuk hak cipta dan merek dagang) – sesuatu yang Zerbo nyatakan sangat berkesinambungan pada industri fashion. Zerbo mengidentifikasi kekosongan dalam liputan mode yang berpusat pada topik hukum kekayaan intelektual dan mode – dan The Fashion Law kini telah berubah menjadi situs berita harian kritik budaya yang berbasis pada hal tersebut.

Kesuksesan Zerbo semakin meningkat setelah memecahkan kasus besar, seperti saat Chanel menyalin gelang yang dirancang oleh Pamela Love pada tahun 2012. Karena publikasi tersebut, gelang Chanel tersebut ditarik mundur dan Zerbo mendapat spotlight akan penemuannya tersebut. Terlepas dari konotasi negatif yang terkait dengan ‘blog’, The Fashion Law telah mendapatkan reputasi untuk membingkai kritik budaya dalam undang-undang hukum yang lebih luas, terutama yang berkaitan dengan Komisi Perdagangan Federal Amerika. Zerbo menyatakan hukum kekayaan intelektual sangat penting karena kemampuannya untuk melindungi kreativitas intelektual.

Up Next Designer
Dengan lebih dari 97.500 pengikut di Instagram, @upnextdesigner hadir sebagai ruang bagi pihak yang ingin berkumpul dan merayakan bakat muda yang muncul. Kontribusi independen media alternatif ini pada industri fashion adalah dengan memperkenalkan brand-brand baru untuk bersinar dan berinteraksi dengan para pengikut dari Up Next Designer. Diinisiasi oleh publicist Albert Ayal, setiap post dari Up Next Designer dikurasi dengan mendalam lewat tahap riset yang ekstensif guna menghasilkan trend forecast dan the next big brand pada dunia fashion.

Dari interpretasi baru tentang setelan, desain yang environmental conscious, hingga tekstil inovatif, beragam keahlian dari para desainer yang ditampilkan di platform ini memberikan sumber inspirasi dan endless options untuk membantu pengikutnya memperluas daftar brand favorit mereka. Media alternatif ini juga merupakan tempat yang baik untuk menganalisa tren yang muncul dan mendapatkan wawasan tentang arah masa depan dari industri fashion.

Terlepas dari pro dan kontra seputar media-media alternatif, sumber-sumber informasi baru itu jelas menjadi jendela untuk melihat keragaman sudut pandang, referensi, dan pengetahuan, dan bukan hanya mereproduksi selera mayoritas. Apakah mereka akan menggantikan media yang sudah established atau meruntuhkan monopoli dalam realita media fashion? Mungkin tidak dalam waktu dekat. Ada banyak kompleksitas yang dihadapi dalam persaingan ketat industri media. Akan tetapi, selama terdapat kelompok-kelompok yang merasa ditinggalkan atau disalahpahami, maupun dirugikan dalam sebuah sistem besar mode, maka akan selalu ada ruang bagi publikasi alternatif untuk memperluas wacana seputar fashion.