Coming from his new restaurant in Bali.
Kuliner Argentina sangat dekat dengan konsep kultural keakraban, kehangatan, dan relax feeling bersama keluarga, teman, maupun kolega. When it comes from the high-skilled touch of a chef who have extensive experience from L’atelier in Paris, Mirazur in Menton, At.mosphere Burj Khalifa in Dubai, that sense of togetherness radiates finely from within the polished Argentinian taste. Ini yang bisa Anda kecap dari hidangan-hidangan karya Chef Fernando Trump dengan dining spot kedua miliknya di Kerobokan, Bali, yang bernama Don Fernando. Dari 7-9 Oktober, racikan-racikan chef dengan pengalaman di resto-resto berbintang Michelin itu hadir melalui program Restaurant Take Over dari The Dining Room, Raffles Jakarta.
Ada dua pilihan set menu yang disediakan pada program kali ini, yakni untuk brunch dan dinner. Enjoying the dinner menu recently, we found the variety of rich and elegant creativity yet still managed to retain the homey spirit. Contohnya adalah whitebait atau ikan-ikan kecil yang digoreng crispy. Dalam bahasa Spanyol disebut cornalitos, Chef Fernando mengolahnya sedemikian rupa sehingga hasilnya super moist di bagian daging dan renyah di permukaan – we are sure he used a specific method to achieve such contrasting level of texture. Asam perasan lemon pun kontras menari dengan gurihnya rasa ikan sebagai pembuka rangkaian menu.
Sedari sesi awal, pengalaman lidah sudah disuguhkan dengan keragaman cita rasa maupun tekstur. Sensasi spicy-sour didapat dari olahan bell peppers bertabur parsley. The unique combination of grilled pumpkin and fluffy burrata cheese garnished with sorrel leaves played a role as some kind of “neutralizer”. Sementara asupan karbohidrat disuplai salah satunya oleh beef empanadas berpadanan ilajua sauce. Satu sajian yang patut mendapat spotlight di bagian pembuka adalah ceviche bermaterial raw fish yang oleh chef pendiri kafe Ikra Bali ini diolah dengan santan atau coconut leche. The character of coconut milk was presented without overpowering the signature freshness of the dish yet adding dynamic to it.

Benang kesinambungan racikan bahan laut itu berlanjut dengan hidangan utama white snapper dibubuhkan saus dolce forte padu chives oil. Here he did it again with the texture, as if now he seemed to want to show off his skill in creating the pairing of crispy skin on top of the soft meat – and we’re glad he did it. Kehadiran saus yang bersentuhan manis itu seakan menegaskan ciri kuliner sang chef yang gemar bermain dengan paduan dua kubu palet yang berbeda. Selanjutnya adalah steak berbahan bagian skirt atau dikenal di Argentina dengan sebutan entraña. Saus pendamping yang dipilih sosok dengan pengalaman sebagai group chef consultant untuk Karma Group ini adalah chimichurri. This time it’s an action of the strong sauce meets bolder taste of entraña from black angus beef.
Sides untuk menu steak itu ada bermacam-macam, dari potato puree olahan cured duck egg nan salty hingga seporsi kecil campuran quinoa bersaman green beans dan caramelized onions. The one we liked the most is humita ñortena made of corn. Sentuhan segar pada sesi ini bisa dikecap dari sepiring marinated tomatoes. Akhirnya rangkaian pun ditutup dengan dulce de leche bercitarasa karamel sebagai dessert. Menu-menu ini bisa Anda coba di Don Fernando, Bali dalam suasana kasual. Restoran tersebut adalah cita-citanya setelah sekitar 22 tahun mengenyam pengalaman, termasuk di Bali sendiri yang mencakup Alilla Villas Soori dan Jumeirah Bali.