Marked by the first visit of Johnny Symington of Symington family to Jakarta.
Some of the world’s best wine have been produced by families dedicating their life to build and nurture the business from generation to generation over hundreds of years.
Di tengah arus perubahan zaman yang juga diisi oleh raksasa-raksasa korporasi di berbagai bidang tak terkecuali wine, terbentuklah Primum Familiae Vini (PFV). Diterjemahkan sebagai First Families of Wine, asosiasi ini berbagi hasrat yang sama untuk dapat terus melanjutkan long wine-making traditions dari keluarga mereka. Hanya ada 12 keluarga yang menjadi by-invitation-only members dari perkumpulan tersebut dan termasuk di dalamnya adalah Symington Family. Beberapa waktu lalu, salah satu anggotanya John Andrew Douglas Symington mengunjungi Indonesia untuk pertama kalinya. It was over a nice private lunch that we enjoyed the conversation with Johnny Symington himself, Chairman of Symington Family Estates.
Salah satu hal yang kami tanyakan kepada penerima gelar kehormatan MBE dari Ratu Elizabeth untuk perannya sebagai Honorary British Consul di Portugal tersebut adalah tentang bagaimana kehidupannya berjalan sebagai bagian dari keluarga business owner berusia ratusan tahun. Menarik untuk mendengar jawabannya yang mengambil sudut pandang perihal keikutsertaan dalam bisnis keluarga. Ia mengutarakan bahwa tiap anggota keluarganya tak serta merta dapat ambil bagian dalam bisnis keluarga. Di kehidupan Symington Family terdapat sebuah family council (badan profesional eksternal) untuk merawat tata kelola yang efektif dan efisien dari jalannya bisnis yang “tumpang-tindih” dengan aspek kekeluargaan. Hanya yang memang punya kemampuan pantas untuk menduduki suatu posisi yang bisa mendapat lampu hijau council untuk bergabung di bisnis.

Berkombinasi dengan family values yang dipegang, keluarga Symington berhasil membangun usaha produksi Port wine selama lima generasi sejak tahun 1882. Keluarga pemilik terbesar dari premium vineyards di lembah Douro ini merupakan leading producers dari premium Port. Terdapat beberapa label wine yang dikelola oleh keluarga tersebut. Kunjungan Johnny Symington ke Jakarta mewakili label Cockburn’s yang telah hadir sebagai produsen Vinho du Porto sejak tahun 1815. Tentu bukan tanpa alasan tim Cockburn’s bertandang ke Indonesia. Seperti terungkap dalam makan siang kala itu, Indonesia merupakan leading market dari produk Cockburn’s di Asia. Kedatangan tim label wine asal Portugal itu ke Jakarta menjadi sebuah pernyataan yang mengindikasikan komitment untuk lebih memahami pasar negeri ini dan memperkuat eksistensi dari brand minuman yang tersedia di gerai Red&White dan minuman.com.
Harmonis dengan hidangan Wood-fired Grilled Salmon yang kami nikmati, dua jenis Port tertuang. Salah satunya adalah 10 Years Old Tawny yang dibuat dari perpaduan old wine dan young wine dan menghabiskan satu dekade tersimpan dalam century-old casks. Tasting it reminded us to Vermouth. From the explanation of Jorge Nunes, Cockburn’s Asia Pacific Market Manager, we know that it’s because Port and Vermouth is under the same classification of fortified wine. Bedanya adalah bahwa Vermouth mendapat tambahan rasa dari rempah-rempah, sementara Port dibuat dengan tambahan distilled grape spirit. Penambahan komponen tersebut dilakukan sebelum proses fermentasi wine rampung sehingga sebagian gula di dalamnya tak bertransformasi menjadi alkohol. Karena penambahan alkohol dan residu gula itulah, Port menjadi wine yang lebih beralkohol dan lebih manis, tapi juga punya shelf life lebih lama setelah dibuka.
Another pouring of Cockburn’s was served by Jorge. It’s time for Vintage Port. Sisi menarik dari Quinta Dos Canais 2010 yang disajikan adalah warnanya yang tampak seperti wine berusia lebih muda, yakni lebih gelap (seiring berjalan waktu, warna wine akan memudar). Jorge memaparkan bahwa proses aging nan unik dari vintage port yang menyebabkan hal tersebut. Masa simpan vintage port di barrels hanya sebentar dan kemudian dipindah ke botol untuk proses aging yang lebih lama. Karena tak lama berada di cask, warna gelap dari wine tersebut bertahan. Hanya anggur yang tumbuh pada tahun-tahun dengan iklim terbaik yang akan diolah menjadi vintage wine. Tahun-tahun sepsial itu disebut sebagai vintage year.

Tak hanya menaruh perhatian besar pada kualitas produksi wine dari Douro Valley yang merupakan UNESCO World Heritage Site, Jorge – orang Portugal pertama pemenang The Vintners’ Cup yang diselenggarakan sekolah wine prestisius WSET – juga menyebut soal komitmen Cockburn’s terhadap lingkungan. Upaya atas komitmen itu menghantar kepada perolehan sertifikasi B Corp yang diberikan setelah melewati audit ketat terkait dampak sosial dan lingkungan sebuah usaha. Hal ini merupakan bagian dari visi besar Symington Family yang menetapkan roadmap 2025 dengan fokus pada area biodiversity, energy, water, waste, dan local community.