A dedication to the nation’s heritage.
Perjalanan 25 tahun mengeksplorasi wastra nusantara membangun wawasan penuh makna bagi desainer Merdi Sihombing. Selebrasi anniversary itu berwujud pada sebuah pameran kreatif bertajuk “The Flying Cloth” yang telah berlangsung di Museum Nasional Indonesia hingga akhir bulan lalu. Selain kultur Batak yang menjadi bagian dirinya, keindahan budaya lain seperti Baduy, Alor hingga Timor turut serta dalam suguhan visual memikat.
Merdi menggandeng Kementerian Kebudayaan, Indonesian Heritage Agency dan Museum Nasional Indonesia untuk mewujudkan pameran ini. Instalasi seni yang menggunakan kain wastra menjadi komposisinya. Sesuai tajuknya, kumpulan kain wastra didesain panjang untuk bisa digantung tinggi menjuntai.
Pada periode pameran juga berlangsung beberapa kegiatan. Termasuk di antaranya adalah creative talks yang membahas pewarnaan alami pada kain, dampak industri fast fashion, film dan fotografi fashion, juga pola desain etnomatematika pada ulos yang merupakan identitas asal sang desainer. Lebih dalam akan asal budayanya, Merdi turut menyuguhkan pertunjukan upacara pernikahan adat batak dan gondang di bawah sinar bulan.
Sebagai suguhan terakhir pada hari penutupan, sebuah fashion show digelar dengan menampilkan retrospeksi karya sang desainer yang pernah mewarnai Jakarta, Berlin dan London Fashion Week. Merdi bereksperimen dengan ulos, kain khas suku Batak yang didesain menjadi outerwear, blazer hingga coat namun wearable. Pembuatan kainnya yang menggunakan serat dan pewarnaan alami merupakan pendekatan sekaligus pesan untuk sadar akan dampak konsumsi fashion yang berlebihan.