Gajah Gallery Rilis Buku Perjalanan Seni Yunizar

Accompanied with an art exhibition in the gallery.

 

Indonesia berbangga ketika Yunizar pada tahun 2021 menjadi satu-satunya seniman Asia Tenggara yang terpilih untuk berpartisipasi dalam ajang Frieze Sculpture, London. Kiprah sang seniman di dunia seni sudah merentang sejak akhir tahun 90’an. Ketika dunia seni kala itu sangat dijiwai oleh dinamika perpolitikan terkait lengsernya Orde Baru, Yunizar memilih untuk mengolah dunia keseharian dengan sematan emosi yang mendalam dan makna berlapis.

Perjalanan kekaryaan Yunizar sudah dibukukan dalam ‘Yunizar: New Perspectives’ yang diluncurkan di Singapura tahun lalu. Kini versi Bahasa Indonesia dari buku tersebut sudah dirilis oleh Gajah Gallery melalui sebuah acara di Jakarta. Paparan dua dekade dari perjalanan Yunizar pada buku tersebut disunting oleh sejarawan terkemuka T.K. Sabapathy yang turut menulis penggalan buku ini. Penulis lain yang juga ambil bagian adalah Aminudin T.H. Siregar, Ahmad Mashadi, dan Katherine Bruhn.

Dalam buku tersebut digambarkan bahwa Yunizar menumbangkan gagasan keindahan yang konvensional, mengimbuhi kanvasnya dengan coretan dan warna. Dikombinasikan dengan kedalaman psikologis subjeknya yang sukar dipahami, hal tersebut menjadi kekuatan karya-karyanya. Dari kacamata para penulis, kompleksitas karya-karya itu mengimplikasikan bahwa masih banyak yang bisa dibongkar dalam karya-karya Yunizar – mendorong upaya untuk terus mencari ‘perspektif baru’.

Masing-masing penulis buku ini menyorot aspek-aspek spesifik dalam perjalanan seni Yunizar. Wawancara Katherine Bruhn dengan Yunizar mengenai ingatan masa kecilnya di Talawi, Sumatera Barat, menawarkan kisah tentang masa mudanya dan bagaimana ia muncul sebagai seniman dari warisan artistiknya yang unik di Sumatera Barat. Menyoroti nuansa dalam evolusi Yunizar selama bertahun-tahun, Aminudin T.H. Siregar mengkontekstualisasikan Yunizar dalam kelompok seni pelopor yaitu Kelompok Seni Rupa Jendela (KSR Jendela). Ia menelusuri hubungan antar anggota KSR Jendela yang kaya akan sinergi; sebuah relasi yang menopang kepercayaan diri Yunizar sebagai seniman muda.

Menyoroti sebuah momen yang sangat penting dalam karier Yunizar, T.K. Sabapathy melacak jejak ekspansinya yang tak terduga ke dalam praktik seni trimatra, membongkar pengaruh karya lukisnya pada komposisi patung-patungnya, dan menganalisis patung figur manusianya yang unik. Selanjutnya Ahmad Mashadi menyajikan kisah historiografis yang menarik tentang perdebatan seputar signifikansi KSR Jendela yang pada akhirnya meluncurkan diskusi kritis tentang bagaimana kemunculan kelompok tersebut membuka pintu masuk dinamis ke pemahaman yang lebih dalam tentang seni rupa modern dan kontemporer Indonesia.

Sebagian bagian dari peluncuran buku, Gajah Gallery Jakarta juga menggelar pameran karya-karya Yunizar. Karya-karya yang dipajang dalam pameran ini menangkap perjalanan dan tonggak-tonggak pencapaian karir sang seniman. Mulai dari lukisan-lukisannya di akhir 90’an yang menunjukkan sosok-sosok gelap penuh teka-teki, seri “Coretan” yang menunjukkan kekuatan ekspresif teks, sampai kepada patung-patung perunggu lugas dan eksentrik yang ia olah sejak tahun 2010an. Di sisi lain, karya-karya terpilih ini juga mengungkap bagaimana evolusi seni Yunizar tidak berjalan secara linear.

Pameran karya seni Yunizar di Gajah Gallery Jakarta berlangsung hingga 26 Februari 2024.