Bincang seputar Desain Interior bersama Clint Nagata Pendiri BLINK

Take notes on his consideration about comfortable living spaces.

 

While nature is aesthetic in itself, the way human enjoys it is a matter of artistic perception. Inilah mengapa sebuah konsep arsitektur dan desain interior yang berbeda bisa menciptakan pengalaman berbeda meski berada di lansekap alam yang sama.

BLINK Design Group telah mengeksplorasi wilayah seni tata ruang serta rancang bangun selama belasan tahun bagi berbagai hotel maupun resort prestisius di berbagai negara, dan setiap karyanya selalu merupakan sebuah olah artistik dengan konsep tersendiri. Contohnya tata interior di Faimont Sanur Beach Bali mengusung contemporary Balinese themes, sementara Four Seasons Jimbaran Bay Bali didesain dengan rujukan traditional Balinese village. Berbeda lagi halnya dengan ruang-ruang di Six Senses Uluwatu Bali yang memberi highlight pada variasi atmosfer maupun emosi.

Merentang dari Raffles Maldives Meradhoo Resort bergaya era kolonial, ke Ritz Carlton Jiuzhaigou China yang terinspirasi Sichuan poets, hingga Conrad Bora Bora Nui Resort yang padukan budaya Prancis dengan akar Polinesia, firma desain yang berdiri sejak tahun 2006 ini terus menggali luxury experience dalam ragam konteks. Tercakup dalam hal ini ialah technical expertise untuk mewujudkan ide-ide kreatif. Contohnya adalah Alila Komodo Resort di Indonesia dengan desain bangunan yang menyesuaikan topografi bukit dan lembah. Spectacular!

Alila Komodo Resort, Indonesia.

The Editors Club beberapa waktu lalu berkesempatan mewawancarai Clint Nagata, sang pendiri BLINK Design Group. Melalui sarana surat elektronik, desainer yang lahir dan tumbuh dalam keluarga Japanese-American di Pulau Oahu, Hawaii, (well, surely not a surprise that he has a solid foundation in terms of creating a paradise-on-earth experience), berbagi seputar pendekatannya dalam hal mendesain hingga bagaimana bidang tersebut akan berkembang ke depannya. Berikut ini adalah petikan interview dengan sosok di balik firma desain yang pada tahun 2017 lalu mengakuisisi Jaya Interior Design Business untuk melanjutkan legasi desainer interior Indonesia, Jaya Ibrahim, yang ia kagumi.

Sebagai seorang desainer interior, bagaimana Anda mendesain tempat tinggal Anda sendiri? Hal-hal esensial apa yang Anda perhatikan?
Fitur-fitur esensial sebuah rumah bagi saya adalah amazing view, sinar mentari yang melimpah tanpa efek panasnya, dan ruang yang terventilasi secara natural.

Roku Kyoto, LXR Hotels & Resorts, Japan.

Bagaimana Anda tiba pada ide mendirikan BLINK Design Group?
Saya membangun 13 tahun karir di WATG di Honolulu, Hawaii, dan keluar dari tempat itu sebagai partner termuda. Saya pindah ke Thailand 15 tahun lalu untuk mengejar misi menciptakan sesuatu yang lebih kuat dari sebuah pemikiran individual. Inilah yang menjadi premis dari BLINK. Passion saya pada travel, hospitality, dan design adalah indpirasi dari filosofi BLINK Design Group.

I have spent a lifetime imagining concepts, delivering considered spaces, and welcoming guests to some of the world’s most desirable destinations. My fascination towards Asian Culture and design attracted me to open the first studio in Thailand. Sejak saat itu, BLINK telah mengembangkan keberadaannya di Asia dengan studio di Shanghai dan Singapura.

Regent Phu Quoc Vietnam.

‚ÄúPandemi membantu membentuk kembali apresiasi kami terhadap Bumi yang jadi lebih besar dibanding 100 tahun terakhir. Terdapat penghargaan yang lebih besar pada desain biophilic.‚ÄĚ

 

Selama 15 tahun berdiri, apa yang selalu dipertahankan oleh BLINK dalam menggarap desain-desain dan bagaimana evolusinya?
Sebagai sebuah firma, kami berusaha keras untuk terus membentuk dan mendefiniskan etos desain kami. Di saat kami selalu fokus menciptakan bespoke designs yang merefleksikan lokasi, owner, dan hotel brand, kami pun mampu meleburkan esensi ketiga hal tersebut dengan estetika desain modern yang seimbang. Kami berevolusi dengan selalu berupaya untuk melakukan yang lebih baik dan secara konstan mencari hal berbeda. Saya pikir dorongan alami untuk tak pernah puas dengan proyek terakhir dan menginginkan sesuatu yang lebih baik dan berbeda inilah yang membantu kami terus berevolusi.

Menurut Anda, apa dampak pandemi Covid-19 bagi wilayah desain interior?
Dari perspektif konseptualisasi, pandemi ini telah mendorong saya untuk lebih merangkul alam. Silver lining situasi ini ialah bahwa hal tersebut mendorong kita lebih mengapresiasi alam mungkin lebih dari sebelumya. Kini kita dapat lebih menghargai manfaat-manfaat alam. Dilihat dari perspektif seorang desainer, kebaikan yang muncul akibat pandemi ialah hal ini membantu membentuk kembali apresiasi kami terhadap Bumi yang jadi lebih besar dibanding 100 tahun terakhir. Terdapat penghargaan yang lebih besar pada desain biophilic. Beberapa proyek baru kami kembali ke alam sebagai konsep pilarnya.

Roku Kyoto, LXR Hotels & Resorts, Japan.

Proyek apa yang paling exciting untuk Anda?
I am most excited about our project in Kyoto, The Roku and LXR Resort by Hilton which opens this month. Meskipun kami belum bisa mengunjungi tempat-tempat itu karena pandemi, kami terus bekerja pada proyek-proyek tersebut dari jarak jauh dan menantikan untuk melihatnya ketika bisa bepergian lagi.

Hal apa yang perlu diperhatikan untuk menciptakan ruang yang nyaman dan sehat?
Dalam proses saya mendesain, saya menemukan bahwa sangat penting untuk selalu menjadi pendengar yang baik dan mencoba untuk memahami penuh apa yang dicari klien. Jika klien menginginkan ruang yang comfortable dan healthy, maka perlu diperhatikan baik aspek fisik maupun psikologis. Pencahayaan, warna, bentuk, estetika dan fungsionalitas merupakan hal-hal penting dalam menciptakan comfortable and healthy environment.

Apa yang membuat sebuah ruang menjadi luxurious?
I consider amazing views, sublime details, and well-proportioned spaces as luxury particularly in regards to hospitality design. Baik itu ruang hotel di perkotaan ataupun sebuah resort di destinasi tersembunyi, ketiga elemen tersebut selalu menjadi penentu penting dalam menciptakan luxury terlepas dari apapun style-nya.