Bincang Hunian bersama Chris Godfrey, Co-CEO Hirsch Bedner Associates

Design that gives form to emotion.

 

Beroperasi sejak tahun 1965 di Santa Monica, California, HBA (Hirsch Bedner Associates) telah berkembang menjadi firma desain properti berskala global dengan proyek-proyek terkemuka. Selama 60 tahun bereksistensi, HBA telah mengerjakan lebih dari 15 ribu proyek yang ditangani oleh sekitar 1.500 talenta kreatif di bawah 25 studio. Dengan expertise di bidang interior, arsitektur, lansekap dari resor hingga hunian, HBA menawarkan layanan menyeluruh dan terintegrasi. Di tangan HBA, pengembangan properti juga sekaligus mencakup perihal pencahayaan, furnitur, hingga karya seni yang menunjang sebuah narasi utuh.

Chris Godfrey merupakan salah satu tokoh kunci dari perusahaan yang kini bermarkas di Singapura tersebut. Menjabat sebagai Global Co-CEO, Chris mendirikan divisi hunian di HBA pada tahun 2014. Chris berperan besar dalam mengarahkan transformasi global HBA dan framework “OneHBA” untuk menjadi pemimpin global dalam desain terintegrasi, sekaligus memimpin berbagai proyek ikonis di Asia, Timur Tengah, Amerika Serikat, dan Eropa.

Dalam wawancara bersama The Editors Club, Chris – an award-winning Riba Chartered Architect with over 25 years of international experience, yang juga peraih penghargaan ‘Master of Design’ dari Society of British and International Design di tahun 2019 – berbagi seputar isu hunian masa depan, tentang bagaimana menangani proyek-proyek di Asia, dan apa arti rumah bagi dirinya sendiri.

Bisakah Anda ceritakan bagaimana minat Anda terhadap desain muncul dan seperti apa perjalanan karier Anda sampai saat ini?
Minat saya pada desain sudah muncul sejak kecil. Ayah saya adalah seorang seniman juga draftsman, dan darinya saya mewarisi kecintaan pada menggambar serta apresiasi terhadap keterampilan tangan. Hal ini memicu ketertarikan saya pada bagaimana ruang diciptakan dan dapat memengaruhi perasaan orang. Seiring waktu, rasa ingin tahu itu berkembang menjadi karier di bidang arsitektur dan desain interior – sebuah perjalanan yang memungkinkan saya mengeksplorasi budaya, narasi, dan hubungan manusia melalui bentuk bangunan.

Saya memulai karier di proyek hunian sebelum beralih ke dunia hospitality, yang memberi saya kepekaan terhadap gagasan “rumah” sebagai ruang yang bukan hanya fungsional, tetapi juga emosional. Perspektif itu menjadi poin utama dalam pekerjaan saya hingga kini. Perjalanan saya bersama HBA adalah tentang menerjemahkan human-centred values tersebut ke dalam proyek di berbagai belahan dunia, mulai dari hotel dan resor ikonik hingga bespoke residences. Tujuannya selalu untuk menciptakan lingkungan yang autentik, timeless, dan memiliki konteks.

Saat mengembangkan divisi residensial di HBA, apa visi dan tujuan utama Anda? Apa yang membuat pendekatan HBA berbeda dari firma lainnya?
Divisi residensial HBA dibangun atas keyakinan bahwa prinsip-prinsip hospitality design, termasuk storytelling, pengalaman tamu, dan integrasi holistik, dapat dieksplorasi untuk menciptakan hunian yang elevated namun tetap sangat personal. My vision was to bring the scale and resources of a global design leader together with the intimacy and sensitivity that private residences demand.

Yang membuat pendekatan kami berbeda adalah kami mampu menyeimbangkan global reach dengan local insights. Dengan 25 studio di seluruh dunia, kami beroperasi sebagai jaringan boutique ateliers butik yang terhubung melalui shared expertise. Setiap hunian yang kami rancang selalu dimulai dari proses memahami gaya hidup klien, konteks budaya, dan karakter lahannya. The outcome is never formulaic. Instead, we craft spaces that feel both tailored and timeless, with layers of design that support how people aspire to live.

Kami percaya bahwa smart home dan sustainability akan semakin menjadi perhatian penting. Seberapa “pintar” sebuah rumah bisa dibuat, dan apa saja trade-offs-nya? Dalam hal sustainability, faktor apa yang perlu dipertimbangkan agar sebuah hunian benar-benar ramah lingkungan?
Bagi saya, smart home adalah rumah yang mampu mendukung kehidupan sehari-hari secara cerdas, baik melalui integrasi sistem yang seamless, kemampuan beradaptasi terhadap kebutuhan yang berubah, maupun kemampuannya menghubungkan penghuni dengan lingkungan mereka. Trade-offs biasanya muncul pada tingkat kompleksitas, too much technology risks overwhelming the sense of ease and comfort that a home should embody.

Sustainability membutuhkan pendekatan yang strategis disertai kepekaan. Di HBA, kami melihat sustainability dari berbagai dimensi: optimalisasi penggunaan material lokal, sistem yang efisien energi, metode passive cooling, serta pemanfaatan cahaya alami untuk meminimalkan kebutuhan pencahayaan buatan. Sama pentingnya adalah mempertimbangkan siklus hidup jangka panjang bangunan. Hunian yang berkelanjutan bukan hanya efisien dalam fungsi-fungsinya, tetapi juga memiliki desain yang timeless sehingga tidak memerlukan renovasi atau replacement terus-menerus.

Asia kaya akan keragaman budaya. Bagaimana budaya lokal memengaruhi proses desain saat mengerjakan proyek di negara-negara Asia?
Kekayaan budaya Asia memang menjadi salah satu aspek paling menginspirasi dalam desain. Kami memulai setiap proyek dengan menggali DNA budayanya, baik melalui cerita, tradisi kriya, maupun warisan arsitektur.

Di Four Seasons Hotel Dalian di Tiongkok, kami merayakan sejarah train travel dari kota tersebut dan pesona romantisnya, creating an immersive experience that evokes both nostalgia and discovery. Di Hokkaido, Jepang, desain kami untuk Club Med Kiroro Peak menekankan keindahan alam sambil merangkai estetika modern, memadukan kehangatan mountain cabins dengan energi masyarakat Jepang kontemporer serta seni budaya masyarakat indigenous Ainu utara. Perpaduan ini menghasilkan ruang hotel yang memiliki identitas artistiknya sendiri.

Tujuannya bukan meniru tradisi, tetapi menginterpretasi kembali dengan cara yang respectful dan relevan dengan masa kini. Keseimbangan antara autentisitas dan inovasi inilah yang membuat setiap proyek kami dapat diterima baik oleh audiens lokal maupun internasional.

Jika Anda bisa memilih lokasi mana pun di Indonesia untuk sebuah proyek residensial, di mana Anda akan membangunnya dan seperti apa konsepnya?
Kami beruntung memiliki strong presence di Indonesia, dengan kantor di Jakarta dan Bali serta tim berisi lebih dari 88 desainer. Christin Castillo, Principal HBA Jakarta dan HBA Bali, memiliki pengetahuan lokal yang mendalam. Kami mengandalkan wawasannya tentang kawasan tersebut untuk menjawab pertanyaan ini.

Christin Castillo: Jika saya bisa memilih lokasi mana pun di Indonesia untuk proyek residensial, saya akan menjelajahi area sekitar Bandung, khususnya kawasan sejuk di sekitar Lembang. Sebagai desainer, saya tertarik dengan iklimnya yang menyegarkan, topografi alamnya, dan pemandangan tinggi yang menghadap ke kota. Dengan selesainya kereta cepat Whoosh yang menghubungkan Jakarta–Bandung hanya dalam 45 menit, area ini kini semakin mudah dijangkau namun tetap terasa jauh dari hiruk-pikuk kehidupan kota. That balance of proximity and seclusion opens up exciting opportunities for a meaningful residential experience.

 

“we craft spaces that feel both tailored and timeless, with layers of design that support how people aspire to live.”

 

Konsep saya akan berpusat pada ide an escape from the city. Saya membayangkan sebuah off-grid sanctuary yang memungkinkan penghuninya beristirahat dan kembali terhubung dengan alam. The architecture would be grounded in the landscape, light on the land, immersive, and respectful of the local environment.

Saya membayangkan villa retreat ini sebagai perpaduan harmonis antara kenyamanan modern dan atmosfer kabin bernuansa terbuka; sebuah inviting space, di mana dinding kaca membingkai pemandangan lembah yang menakjubkan, dan sleek luxury diseimbangkan dengan ketenangan restoratif dari alam. Setiap area akan dirancang dengan mempertimbangkan sustainability, menjadikan properti ini self-sufficient serta ramah lingkungan. Energi akan dipasok melalui tenaga surya, sementara edible garden kecil ditumbuhi tanaman-tanaman. Untuk lanskapnya, hardscape modern akan diintegrasi dengan hutan rimbun di sekitarnya, memastikan desain tetap selaras dengan lingkungan alami.

Divisi Art di HBA sangat menarik. Tantangan apa yang biasanya muncul saat mendiskusikan artworks dengan klien di sebuah proyek?
Seni itu sangat personal, di situlah letak keindahannya sekaligus tantangannya. Ada klien yang datang dengan preferensi kuat, sementara yang lain mungkin belum yakin dengan apa yang benar-benar cocok untuk mereka. Peran kami adalah memandu percakapan ini dengan penuh pertimbangan, mengkurasi karya-karya yang tidak hanya melengkapi desain, tetapi juga memperkaya cerita dari ruang tersebut.

Salah satu contohnya adalah Park Hyatt Suzhou di Tiongkok, di mana seni menjadi bagian penting dari perencanaan ruang. Hotel tersebut dirancang hampir seperti sebuah karya seni yang disusun dengan cermat, dengan moments of surprise dan keindahan terjalin dengan pengalaman tamu. Di sini, seni bukan sekadar dekorasi, tetapi bagian dari dialog; bentuk-bentuk tradisional tampil elevated melalui palet warna yang vibran dan luxurious materials, menciptakan pengalaman imersif di kota yang sejak lama dijuluki sebagai “New Paradise on Earth.”

Yang juga menarik adalah divisi Product dari HBA. Mengingat pasar furnitur sudah sangat kompetitif, terutama di segmen luxury, apa alasan HBA meluncurkan layanan ini, dan bagaimana Anda meyakinkan klien untuk memilih produk HBA?
Divisi Product lahir dari kebutuhan. Kerap kali furnitur yang kami inginkan untuk sebuah proyek tidak tersedia di pasaran. Dengan menciptakan bespoke pieces, kami bisa memastikan setiap detail mendukung narasi desain secara keseluruhan.

Yang membedakan produk HBA bukan hanya kualitas pengerjaannya, tetapi juga konteksnya. Setiap piece dirancang untuk menjadi bagian dari sebuah cerita. Klien memilih kami bukan karena kami bersaing dengan merek furnitur mewah, tetapi karena produk yang kami buat lahir dari DNA yang sama dengan environment properti yang kami ciptakan. Produk-produk kami unik, dibuat sesuai tujuan, dan selalu selaras dengan visi klien.

Secara personal, apa makna “rumah” untuk Anda? Bagaimana perspektif tersebut memengaruhi cara Anda mendesain hunian?
Bagi saya, rumah adalah sanctuary. A place where you feel both grounded and inspired. Kenyamanan tidak hanya hadir dari estetika, tetapi dari seberapa baik sebuah ruang mendukung kegiatan sehari-hari, merawat keterhubungan, dan mencerminkan identitas personal.

Perspektif ini sangat memengaruhi pekerjaan saya. Bahkan dalam proyek hospitality, saya sering memikirkan bagaimana para tamu bisa merasa “seperti di rumah”, baik melalui proporsi yang dipertimbangkan dengan cermat, alur ruang yang intuitif, maupun material-material yang mengundang kenyamanan.

Dengan tantangan global saat ini – mulai dari isu lingkungan hingga perubahan politik dan kemajuan teknologi yang begitu cepat – bagaimana Anda melihat perkembangan desain residensial dalam beberapa tahun ke depan?
Desain selalu menjadi cerminan zaman. Saat ini, kita memasuki era di mana resilience, kemampuan beradaptasi, dan autentisitas menjadi hal yang sangat penting. Saya melihat desain properti hospitality dan residensial semakin terkait. Rumah mulai terasa seperti resor, dengan fokus pada wellness dan komunitas, sementara hotel mulai terasa seperti rumah, menonjolkan intimasi dibandingkan nuansa formal.

Isu lingkungan akan mempercepat penerapan sustainable practices, bukan sebagai hal opsional, tetapi sebagai fondasi utama. Teknologi juga akan terus membentuk cara ruang berfungsi. Akan tetapi saya percaya masa depan berada pada desain yang tak lekang waktu; spaces that nurture human connection, respect their context and remain meaningful long after trends have passed.