9 Tahun IKAT Indonesia: Dedikasi Didiet Maulana dan Olahan Baru Wastra Nusantara

Celebrating the craftsmanship of Indonesia’s ikat weaving.

 

Kata craftsmanship di dunia mode internasional lebih sering terdengar kala bicara tentang haute couture; sebuah area fashion paling prestisius yang memuliakan kualitas prima sebuah rancangan, baik dari segi estetika dan kompleksitas desain, material, teknik pengerjaan, serta rupa-rupa aspek lainnya. Kecuali bagi para klien VVIP rumah mode papan atas yang mampu mengakses karya-karya elaboratif haute couture, istilah craftsmanship tampaknya jauh dari realita mode kasual mayoritas masyarakat modern. Is it really just the way it is? Thankfully it is not.

Sosok mode seperti desainer Didiet Maulana lah yang turut membuka jalan bagi penikmatan craftsmanship dalam tataran karya modern ready-to-wear. Sudah 9 tahun Didiet melakukan hal tersebut bersama IKAT Indonesia yang didirikan melalui kerjasama dengan rekannya, Helen Wahyudi, pada tahun 2011 silam.

 

The Valuable Heritage
Untuk bisa mengapresiasi apa yang telah Didiet dan IKAT Indonesia lakukan, mari secara singkat menelusuri eksistensi wastra. Indonesia sangat kaya akan ragam tradisi teknik pertekstilan, mulai dari batik hingga tenun. Siapa yang dapat memungkiri bahwa kerumitan tahapan membatik dan menenun merupakan wujud high craftsmanship? Bahkan lebih dari perihal kompleksitas mekanisme pembuatannya, value batik dan tenun juga bersumber dari estetika motif-motifnya serta makna maupun filosofi di balik keberadaannya. Nilai historisnya pun kaya. Jenis-jenis wastra sudah menjadi bagian hidup masyarakat berbagai lapisan di tanah air sejak ratusan tahun lalu, mulai dari yang berkenaan dengan upacara-upacara adat hingga pemakaian dalam keseharian.

Tentu perlu pisau analisis antropologis dan sosiohistoris yang tajam untuk membedah bagaimana fenomena perkembangan sosial budaya masyarakat Indonesia menuju dunia modern yang berdampak pada banyaknya wastra terpinggirkan dari keseharian. Di dalamnya, isu kolonialisme, invasi kebudayaan, perkembangan kecangihan teknologi industri, hingga pengaruh sistem ekonomi pasar rumit terjalin sampai tercipta lah kesan kuno wastra. Akan tetapi yang juga penting untuk diperhatikan – sekaligus membawa kebahagiaan – ialah kiprah figur-figur fashion designer Indonesia dari era ke era yang berjuang melawan stigma usang wastra melalui olahan-olahan kreatif mode agar mampu berintegrasi dengan gaya hidup modern.

Jika sebuah buku berisi daftar nama pejuang mode itu hendak ditulis, maka nama Didiet dan IKAT Indonesia patut ada di dalamnya karena lewat tangannya tenun ikat bertransformasi menjadi busana modern siap pakai. Dari sleeveless jumpsuit hingga wide-leg pants, IKAT Indonesia menerapkan konteks dan menginjeksi nafas modern pada wastra Nusantara. Terpenting perlu dicatat dan digarisbawahi bahwa bahkan dalam siluet-siluetnya yang paling simple pun, craftsmanship bisa ditemukan dan dinikmati oleh karena bahan yang digunakan. Even in the simplest stripes motif in IKAT Indonesia pieces, you know it’s not just ordinary stripes; it’s made through complex ikat weaving technique bearing cultural and historical value of certain places in Indonesia.

Membangun IKAT Indonesia melalui koleksi demi koleksi, kurun waktu 9 tahun terisi dengan berbagai pencapaian; from dressing up famous celebrities to collaborating with respected companies for special collections. International brands di Indonesia seperti Starbucks, Disney, dan Mattel sang produsen Barbie adalah beberapa nama yang sudah berkolaborasi dengan IKAT Indonesia. Jangan lupakan juga kreasi label ini yang dikenakan oleh delegasi forum APEC pada tahun 2013 dan menjadi bagian suvenir di Grammy Awards 2016.

 

From Cultural to Economic Context
Achievement is one thing about IKAT Indonesia, yet more than that, it is also about helping people. Poin ini yang mampu membuat seorang Didiet terharu di konferensi pers virtual 9 tahun IKAT Indonesia kala mengisahkan perjalanan brand yang memulai debutnya pada 29 Juli 2011 dengan 30 looks tersebut. “Mudah-mudahan ketika kita kembali ke ibukota, mereka bisa maju dan berkembang” demikian harapan Didiet yang terlontar tiap menyelesaikan eksplorasinya terhadap khasanah tektil di berbagai penjuru tanah air. Pertemuannya dengan para pengrajin tenun di berbagai daerah bukan hanya menjadi sumber pembelajaran untuk mengenal wastra lebih dalam tapi sekaligus mewadahi asa mereka agar kain daerahnya bisa lebih dikenal dan semakin laris.

Ekspedisi ke Lasem, Tanimbar, Sumba, Baubau, dan wilayah-wilayah lain – yang juga diiringi kegiatan pelatihan bagi pengrajin dalam soal peningkatan nilai jual – menjadi pemacu Didiet untuk mengangkat kain setempat agar meningkat exposure maupun demand terhadapnya. Alasan untuk luas memberdayakan pengrajin tersebut kemudian mewujud pada lini Sarupa yang fokus menggarap seragam-seragam perusahaan. Pada tahun 2018, Sarupa memenuhi kebutuhan seragam BCA sebanyak 80.000 set dengan memanfaatkan 45.000 meter tenun Troso dan melibatkan sekitar 3.000 pengrajin. Keberlanjutan produksi wastra tentu bergantung pada permintaan pasar.

Ketika pergelutan untuk menciptakan demand masih berlanjut, problem seputar eksistensi tenun Nusantara pun bertambah dengan soal jumlah penerus penenun. Lapangan kerja sektor lain yang tak menuntut keahlian serumit menenun dengan pendapatan lebih stabil menjadi opsi yang lebih dilirik pemuda-pemudi daerah. Merespon kehirauan akan terus berkurangnya penenun muda – yang menurutnya sangat krusial untuk kelestarian budaya wastra Indonesia – Didiet bekerjasama dengan beberapa pengrajin merancang program ekstrakurikuler tenun untuk beberapa SMK di Kediri dan Denpasar. “Arti hidup buat saya adalah berbagi,” demikian yang diutarakan Didiet terkait aksi-aksinya di daerah-daerah.

Kini dalam perayaan 9 tahun usia IKAT Indonesia, label yang pada tahun lalu menjalin kerjasama dengan Garuda Indonesia untuk memproduksi seragam cabin crew tersebut merilis koleksi New Normal Essentials yang terdiri dari 4 varian pouch, masker, organic multi-purpose sanitizer, dan hand soap beraroma cendana atau sandalwood. Kain tenun ikat yang digunakan pada pouch tersebut menampilkan motif-motif yang lazim digunakan IKAT Indonesia. Selain merupakan respon atas kebutuhan di era New Normal, rilisnya olahan baru wastra dalam kreasi pouch itu juga dimaksudkan untuk meningkatkan optimisme pengrajin di masa pandemi COVID-19.

 

A Consistent Mission
Kepedulian terhadap pengrajin dan rasa syukur untuk 9 tahun yang telah Didiet lewati bersama IKAT Indonesia adalah satu kesatuan jalinan. “Yang paling disyukuri dan dibanggakan dari 9 tahun perjalanan IKAT Indonesia adalah di tahun ke-9 ini kami tim IKAT Indonesia berhasil melewati berbagai macam badai yang terjadi. Termasuk juga ketika pandemi sekarang, kami semua makin erat, semakin mengerti satu sama lain dan semakin mengeksplorasi diri sendiri maupun tim kerja sehingga bisa meraih visi yang sama, yaitu mengajak para pengrajin untuk maju juga walaupun di saat pandemi seperti ini,” ucapnya kepada The Editors Club.

Setelah 9 tahun yang dilewati, bagaimana kemudian kelanjutan Didiet dan IKAT Indonesia? Seemingly it’s going to be a never ending story. Dari perjalannya dengan sang label, ia melihat bahwa motif-motif kekayaan tradisi Indonesia tak akan habis untuk dieksplorasi. Melewati perjalanan itu, yang tetap sama ialah design approach yang ia terapkan pada pengolahan wastra. “Dari awal sampai sekarang, IKAT Indonesia masih tetap sama. Desainnya sangat klasik dan timeless sehingga desain 9 tahun lalu masih bisa dipakai di saat ini,” ujar desainer yang kini juga kerap memberi pelatihan online untuk pelaku-pelaku UMKM.

Mengenai perjalanan IKAT Indonesia ke depan, Didiet menekankan dua harapannya. “Saya mengharapkan IKAT Indonesia bisa menjadi platform untuk memperkenalkan kebudayaan Indonesia kepada generasi muda dan sebagai platform menjangkau pasar yang lebih luas lagi sehingga bisa support lebih banyak pengrajin,” tutur perancang yang juga mengutarakan bahwa IKAT Indonesia memiliki visi untuk maju bersama. Semakin dekatnya generasi muda dengan wastra Nusantara dan makin luasnya dukungan bagi para pengrajin sebagaimana yang diimpikan Didiet tentu tak bisa diwujudkan oleh satu fashion designer atau satu label saja. Diperlukan pihak-pihak lintas sektor yang bahu-membahu mewujudnyatakannya, mulai dari dunia perindustrian, keuangan, pemerintah, hingga masyarakat luas.

Pada hari jadi ke-75 tahun Republik Indonesia ini, tepat rasanya untuk memberi apresiasi kepada Didiet dan segenap perancang mode tanah air lain yang mendedikasikan waktu, tenaga, dana, dan tentunya daya kreatif dalam mengeksplorasi dan mengolah kain-kain lokal Nusantara yang sarat estetika, nilai-nilai kultural, sekaligus mengandung level craftsmanship nan tinggi. Setiap lembaran kain yang diolah ialah kontribusi nyata dalam melestarikan dan memperkaya warisan budaya Indonesia. Setiap rancangan itu pula memainkan peranan saluran edukasi dan pengeratan afeksi akan wastra Indonesia. Sekarang coba buka lemari Anda dan lihat isinya. Adakah Anda temukan busana atau aksesori dengan kekayaan craftsmanship Indonesia? Don’t waste your opportunity to incorporate high craftsmanship as part of your daily look. Ketika Anda menyadari betapa kayanya nilai potongan wastra Nusantara, Anda akan berbangga berbangsa Indonesia.

Congratulations for the 9th anniversary of IKAT Indonesia by Didiet Maulana. Dirgahayu Republik Indonesia.