10 of The Best: Dream Schools of Fashion

They are the factory of fashion’s great designers.

 

Pepatah lama mengatakan bahwa ada banyak jalan menuju Roma. Makna ungkapan tersebut tampaknya selalu relevan dalam berbagai hal. Jika Anda bermimpi untuk menjadi fashion designer ternama, ada banyak cara untuk menembus New York, London, Milan, dan Paris. Setiap jalan memiliki plus dan minus masing-masing. Akan tetapi, jika Anda mampu mengambil jalur pendidikan formal berkualitas tinggi, jangan sia-siakan kesempatan tersebut.

Ini bukan tentang bagaimana hasil akhirnya nanti. Kesuksesan seorang perancang mode, sebagaimana profesi-profesi lain, bergantung pada banyak hal dan bukan cuma soal ijazah. Poinnya adalah bahwa ketika Anda mengenyam bangku edukasi di institusi-institusi hebat, Anda akan disuguhkan dengan seperangkat materi edukatif yang tersusun secara sistematis. Melalui hal itu, bukan hanya keahlian praktis yang akan terasah, berbagai pengetahuan lain yang didapat akan menjadi substansi penting yang akan memperluas wawasan Anda dalam merancang maupun melihat fashion secara lebih mendalam.

Just for you, here are our curated list of the best fashion schools in the world. (daftar berikut ini disusun bukan sebagai peringkat)

 

Fashion Institute of Technology, USA
Fashion Institute of Technology lahir dari kegundahan akan semakin berkurangnya orang-orang yang memilih bidang kerja fashion design pada tahun 1940-an. Sekelompok tokoh industri yang dipimpin oleh Mortimer C. Ritter dan Max Meyer kemudian mendirikan Educational Foundation for the Apparel Industries. Pada tahun 1944, institusi itu pun berganti menjadi Fashion Institute of Technology and Design yang selanjutnya dikenal sebagai F.I.T.

Kini sekolah mode yang berlokasi di Manhattan, New York City, tersebut dikenal sebagai pencetak desainer-desainer handal seperti Caroline Herrera, Calvin Klein, Michael Kors, dan Ralph Rucci. Dalam menjalankan program edukasi, F.I.T tak hanya berfokus pada kemampuan siswa dalam mendesain. Seperti dikutip dari situs resminya, “While our pedagogical mission is to prepare our students for professional excellence in design and business, our broader ethos is to foster creativity, inspire leadership, impart a global perspective, and educate students to embrace inclusiveness, commit to sustainability, and engage with community.”

Untuk undergraduate programs, beberapa program studi yang tersedia adalah Fashion Design, Accessories Design, Jewelry Design, Advertising and Marketing Communication, dan Fashion Business Management. Sementara pada graduate programs beberapa yang bisa dipilih di antaranya adalah Fashion and Textile Studies: History, Theory, Museum Practice dan Cosmetics and Fragrance Marketing and Management. Kehidupan pelajar-pelajar F.I.T ditunjang oleh beragam fasilitas, mulai dari residence halls, health services, counselling services, Disability Support Services, dining services, dan sebagainya. Salah satu sarana penunjang belajar nan ikonis dari F.I.T adalah The Museum at FIT.

 

Central Saint Martins, UK
Pecinta fashion mana yang tak mengenal Hussein Chalayan, John Galliano, Stella McCartney, Alexander McQueen, Phoebe Philo, dan Riccardo Tisci? Kesamaan dari nama-nama tersebut ialah bahwa mereka adalah lulusan Central Saint Martins. Masih banyak nama lain yang merupakan alumni institusi ini, seperti Bora Aksu, Atonio Berardi, Sarah Burton, Sandra Choi, Giles Deacon, Roksanda Ilincic, Christopher Kane, Mary Katrantzou, David Koma, Zac Posen, Gareth Pugh, Jonathan Saunders, dan Natasha Zinko.

Cikal bakal Central Saint Martins adalah dua sekolah seni yang berdiri sejak abad ke-19, yakni St. Martin’s School of Art dan Central School of Art and Design. Melebur pada tahun 1989 dan kemudian kembali melakukan merger dengan Drama Centre London pada 1999 dan Byam Shaw School of Art pada 2003, Central Saint Martin berpindah lokasi ke King’s Cross, London, pada tahun 2011. Spirit dari Central Saint Martins adalah membentuk pelajar yang mampu mengkritisi kondisi saat ini. Sebagaimana tertulis dalam situsnya, “We guide our students to discover new ways of thinking, making and doing. We give them the confidence to unearth ideas and formations that provoke and disturb accepted norms.”

Beberapa pilihan yang tersedia di jenjang undergraduate adalah Fashion History & Theory, Fashion Journalism, Fashion Design Womenswear, Fashion Design Menswear, Fashion Design with Marketing, Jewellery Design, dan Textile Design. Di jenjang postgraduate, beberapa pilihannya adalah Innovative Pattern Cutting dan Fashion Communication. Salah satu kesempatan berharga yang dinikmati oleh pelajar Central Saint Martins adalah menampilkan karya di London Fashion Week yang dihadiri oleh jurnalis-jurnalis media fashion ternama seperti Vogue.

 

Istituto Marangoni, Italy
Providing those who choose Istituto Marangoni for their training with the best means to express themselves creatively.” Demikianlah visi Istituto Marangoni sebagaimana tertuang dalam situsnya. Hal tersebut diterjemahkan dalam program-program yang ditawarkan. Pada level undergraduate, di antara beberapa pilihannya adalah Fashion Design, Fashion Design & Accessories, Fashion Styling & Visual Merchandising, Fashion Studies, serta Fashion Business, Communication, & Media. Untuk jenjang postgraduate tersedia Fashion & Luxury Brand Management, Fashion Start-up, Sportswear Design, dan program-program lainnya.

Franco Moschino, Domenico Dolce, Alessandra Facchinetti, dan Alessandro Sartori adalah contoh nama alumni Istituto Marangoni yang mendulang keberhasilan di industri mode global. Sebagai bentuk dukungan lembaga pendidikan ini pada para lulusan, Istituto Marangoni menghadirkan program I’M Alumni Collections Revolution. Meluncur sejak tahun 2017, program ini ditujukan sebagai proyek mentoring untuk mendukung dan mempromosikan hasil karya alumni berprestasi. Bantuan yang diberikan meliputi produksi, penyelenggaraan fashion show yang dipublikasikan melalui berbagai platform media, hingga akses kepada major showrooms.

Istituto Marangoni didirikan pada tahun 1935 oleh seorang tailor bernama Giulio Marangoni yang klien-kliennya adalah para aristokrat Italia. Kini, Istituto Marangoni juga memiliki cabang-cabang yang berada di London, Paris, Shanghai, Mumbai, Miami, dan beberapa wilayah lainnya.

 

Institut Français de la Mode, France
Kabar terbaru dari Institut Français de la Mode adalah meleburnya Ecole de la Chambre Syndicale de la Couture Parisienne dengan institusi tersebut. Peleburan kedua lembaga pendidikan mode nan prestisius asal Prancis yang terjadi pada awal tahun 2019 tersebut dilakukan guna menciptakan sekolah fashion terbaik di dunia. “The union of Ecole de la Chambre Syndicale de la Couture Parisienne and IFM provides Paris with an academic institution whose ambition is to establish itself as the best fashion fashion school in the world,” ucap Ralph Toledano selaku President of the Fédération de la Haute Couture et de la Mode. Ecole de la Chambre Syndicale de la Couture Parisienne sudah beroperasi di Prancis sejak tahun 1927, sementara IFM berdiri sejak tahun 1986. Setelah peleburan, nama yang dipakai adalah Institut Français de la Mode.

Pada level Bachelor, program studi andalannya adalah Fashion Design. Sementara itu, di level lebih tinggi ada Fashion & Luxury Management, Fashion Theories & Practice, dan beberapa yang lainnya. Melalui kurikulum pendidikan yang disediakan, Institut Français de la Mode telah meluluskan sosok-sosok yang sukses berkarir di fashion industry. Sebagian di antaranya adalah Nadège Vanhee-Cybulski, Guillaume Henry, dan Pablo Coppola.

Selain menjaga kualitas dalam hal pendidikan rancang busana, Institut Français de la Mode juga berkomitmen dalam merespon isu-isu kontemporer terkait dengan realita fashion. Institut tersebut, seperti dikutip dari website resminya, “is committed to student diversity, and diversity more generally speaking, both social, international or relating to academic background or professional paths; Gives due credit to sustainable development in all its aspects, whether in relation to the environment, to corporate social responsibility, or to preservation of know-how; Takes an interest in culture, understands the essential role it holds in design and in fashion, and makes it a pillar in its teaching.

 

Royal Academy of Fine Arts Antwerp, Belgium
Royal Academy of Fine Arts Antwerp di Belgia adalah salah satu institusi pendidikan tinggi tertua di dunia. Akademi ini hadir sejak tahun 1663 dan didirikan oleh David Teniers the Younger yang merupakan pelukis bagi Archdukes Leopold Wilhelm. Sebagaimana Central Saint Martins yang merupakan art school, Royal Academy of Fine Arts Antwerp bukan hanya berkualitas dalam bidang fashion, melainkan juga di area-area artistik lainnya.

Kontribusi lembaga pendidikan tinggi ini bagi dunia fashion internasional tercermin dari sosok-sosok alumninya, seperti Ann Demeulemeester, Demna Gvasalia, Martin Margiela, Kris van Assche, Haider Ackermann, dan Dries Van Noten. Salah satu fasilitas yang berperan penting dalam proses belajar di Royal Academy of Fine Arts Antwerp adalah perpustakaannya yang memiliki koleksi dari abad ke-15.

Seperti tertulis dalam website resminya, Royal Academy of Fine Arts Antwerp, ingin menjadi “a lab where traditions and technique interact with current affairs and artistic problems…we want to investigate how the artist and designer of today shapes tomorrow. ” Program studi Jewellery Design & Gold and Silversmithing, Theatre Costume Design, dan Fashion adalah beberapa pilihan yang tersedia baik untuk level bachelor maupun master.

 

Bunka Fashion College, Japan
Kenzō Takada, Junya Watanabe, Tsumori Chisato, dan Yohji Yamamoto adalah beberapa fashion designer Jepang yang sukses berkiprah di ranah internasional. Ketiganya memiliki satu kesamaan latar belakang pendidikan, yakni merupakan alumni Bunka Fashion College. Dikutip dari halaman resminya, “The main objective of Bunka Fashion College is to reveal and nurture the individuality and aesthetic sense of each student. These students will go on to build strong international relationships and become people with great problem-solving skills and will play important roles in the international scene as global citizens.”

Lembaga pendidikan yang berlokasi di Tokyo ini menawarkan program-program studi hingga level Bachelor yang terbagi ke dalam empat departemen, yakni Fashion Creation Department, Fashion Technology Department, Fashion Marketing and Distribution Department, dan Fashion Accessories and Textiles Department. Beberapa program studi yang tersedia di antaranya adalah Creative Design, Global Business Design, dan Fashion Textiles. Pada tahun 2003 dibentuklah perpanjangan dari lembaga ini yang bernama Bunka Fashion Graduate University.

Bunka Fashion College berawal dari sebuah dressmaking school yang didirikan oleh Namiki Isaburo pada tahun 1919 yang kemudian berkembang menjadi Bunka Sewing School pada tahun 1922. Sejak tahun 1923, institusi tersebut resmi menjadi dressmaking school pertama di Jepang. Nama Bunka Fashion College mulai dipakai pada tahun 1936. Proses belajar di Bunka Fashion College didukung oleh berbagai sarana, seperti Fashion Resource Center, Bunka Gakuen Costume Museum, dan perpustakaan.

 

Parsons School of Design, USA
Ketenaran Parsons School of Design yang berlokasi di New York City bukan hal baru di dunia mode. Selain memiliki ragam pilihan program studi, seperti Fashion Design dan Art & Design History and Theory pada level undergraduate, serta Fashion Design & Society, Fashion Management, Fashion Studies, dan Textiles pada level graduate, Parsons School of Design juga menyuguhkan fasilitas yang menyeluruh. Beberapa fasilitas tersebut adalah perpustakaan, Academic and Career Advising, Student Financial Services, Meal Plans, Food Pantry, Housing, Student Disability Services, dan Student Health Service.

Tertuang dalam situs resminya, nilai-nilai yang dianut oleh Parsons School of Design adalah “Creativity, innovation, and a desire to challenge the status quo, both in what and how we teach and in the intellectual ambitions of the school itself” dan “Social engagement, orienting students’ academic experience to help them become critically engaged citizens dedicated to solving problems and contributing to the public good.” Sejarah Parsons School of Design dapat ditelusuri hingga tahun 1896. Pada saat itu, pelukis impresionis Amerika, William Merritt Chase, mendirikan sekolah bernama The Chase School. Pada tahun 1904, Frank Alvah Parsons bergabung dan bertumbuh bersama sekolah tersebut. Berkat kontribusinya, nama Parsons menjadi bagian dari nama sekolah semenjak tahun 1941. Kini Parsons School of Design juga memiliki cabang di Paris.

Disamping menelurkan seniman-seniman hebat, Parsons School of design juga mencetak para fashion designer ternama. Beberapa nama besar dunia fashion yang berasal dari lembaga pendidikan ini adalah Jeff Banks, Bill Blass, Marc Jacobs, Donna Karan, Derek Lam, Isaac Mizrahi, Thakoon Panichgul, Narciso Rodriguez, Anna Sui, Alexander Wang, Jason Wu, Prabal Gurung, dan Reed Krakoff. Setiap tahunnya, Parsons menghelat acara Parsons Benefit yang merupakan gala untuk menggalang dana bagi scholarship dan academic program di institusi tersebut.

 

London College of Fashion, UK
Ragam pilihan program studi mengenai fashion menjadi salah satu kekuatan dari London College of Fashion. Pada jenjang undergraduate, tersedia program studi Costume for Performance, Fashion Buying & Merchandising, Fashion Jewellery, Fashion Journalism, Fashion Marketing, Fashion Photography, Fashion Public Relations & Communication, Fashion Management, Psychology of Fashion, Fashion Imaging & Illustration, Fashion Design Technology: Womenswear, Fashion Design Technology: Menswear, Cordwainers Footwear: Product Design and Innovation, dan yang lainnya. Untuk tingkat postgraduate, beberapa pilihan di antaranya adalah Fashion Artefact, Fashion Cultures: History & Culture, Fashion Curation, Fashion Entrepreneurship & Innovation, Fashion Futures, Fashion Retail Management, Strategic Fashion Marketing, dan Applied Psychology in Fashion.

Institusi pendidikan tinggi ini berawal dari tiga lembaga yang berbeda, yaitu Shoreditch Technical Institute Girls School (1906), Barrett Street Trade School (1915), dan Clapham Trade School (1927). Setelah melalui proses peleburan, akhirnya nama London College of Fashion dipakai mulai tahun 1974. London College of Fashion telah menelurkan banyak insan sukses di industri mode. Contohnya adalah Jimmy Choo, Jonathan Anderson, Charlotte Olympia, Nicholas Kirkwood, Sophia Webster. Untuk dapat mencetak lulusan berkualitas, London College of Fashion menyediakan fasilitas-fasilitas penunjang, seperti perpustakaan; Design, Pattern Cutting & Tailoring facilities; Footwear, Jewellery & Accessories facilities; Fashion Space Gallery; dan Student Enterprise yang memberi pembekalan untuk menjadi entrepreneur.

We believe in using the subject of fashion, together with its industrial importance, to shape lives and drive economic and social transformation. Our College is a total fashion ecology where we examine the past in order to build a sustainable future and improve the way we live,” demikian yang menjadi misi dari London College of Fashion seperti tertulis pada situs resmi lembaga tersebut.

 

Polimoda, Italy
Dua tokoh di balik pendirian Polimoda yang bereksistensi sejak tahun 1986 adalah Shirley Goodman yang saat itu merupakan Executive Vice President Emeritus di Fashion Institute of Technology dan Don Emilio Pucci yang adalah pendiri brand Emilio Pucci. Nama Polimoda merupakan singkatan dari Politecnico Internazionale della Moda.

Italo Zucchelli, Massimiliano Giornetti, Edgardo Osorio merupakan beberapa sosok ternama yang mengenyam bangku pendidikan mode di Polimoda. Kesuksesan setelah lulus menjadi salah satu perhatian penting bagi lembaga ini sehingga disediakan layanan-layanan seperti internships yang menjembatani pelajar dengan dunia kerja, Talent Development yang memberikan dukungan bagi pelajar yang ingin merealisasikan ide fashion business-nya, dan Business Link yang merupakan acara tahunan untuk mempertemukan alumni dengan perusahaan-perusahaan mode.

Sebagaimana ada dalam website resminya, Polimoda memandang secara kritis kondisi dunia mode saat ini. “Forgo the glamour. Today’s aesthetic of glamour is the separate collection of tomorrow, as it reflects the ethics of possession, mass narcissism, screaming titles, finance and programmed obsolescence of technology. Waste and overconsumption are generated by the lack of identity. Through the rethinking of clothes, materials, places and even ourselves, we restore dignity and open the doors to new, possible futures for upcoming generations.” Pernyataan nilai ini yang menjadi landasan tiap jenjang di Polimoda; mulai dari level undergraduate seperti Fashion Design, Business of Fashion, dan Fashion Styling, maupun tingkat master seperti Collection Design, Bag Design, Shoe Design, Fashion Brand Management, Luxury Business, dan Fashion Finance & New Ethics.

 

ESMOD International, France
Keberadaan cabang ESMOD di berbagai negara menjadi satu bukti kekuatan tempat pendidikan mode ini. Sebagai induk, ESMOD International yang berlokasi di Prancis jelas memiliki keunggulan tersendiri. Dari ESMOD International ini lahirlah Reem Acra, Olivier Rousteing, dan Jérôme Dreyfuss.

Program-program studi di ESMOD International memiliki penamaan yang tidak lazim dibanding institusi pendidikan lainnya, yakni menggunakan nama jabatan. Sebagai contoh, pada level undergraduate tersedia program studi Fashion Designer dan Head of Commercial and Communication Strategy in Fashion Industry. Sementara itu pada tingkat graduate ada program studi Creative Director dan Manager of International Development in Fashion & Luxury Industry.

Melalui kurikulum yang dibuat maupun fasilitas-fasilitas yang disediakan seperti Job & Internship Service, ESMOD International berupaya untuk mempersiapkan murid-muridnya terjun ke industri mode. Seperti disebut dalam situs resminya, “ESMOD International offers topflight programs in design and business to cover the full range of the fashion industry’s demands.