Looking into the interior of her dreams.
Didapuknya Yuni Jie oleh Louis Vuitton untuk memberi hembusan nafas Nusantara pada wajah baru butik sang Maison di Plaza Indonesia merupakan pencapaian sekaligus pembuktian nan remarkable atas kiprahnya sebagai desainer interior mumpuni Tanah Air. Tak sembarang orang bisa memenuhi kualifikasi tinggi yang menjadi standar rumah mode asal Prancis tersebut. Kisah ini menjadi salah satu bagian yang ia ceritakan pada lembar-lembar buku barunya yang berjudul “Dream”.
Berbagai mimpi yang menjadi nyata dalam sepak terjang karirnya selama satu dekade ke belakang, ia curahkan ke buku setebal 512 halaman tersebut dalam harapan agar pembacanya tetap termotivasi untuk merawat dan mengupayakan mimpi-mimpinya sendiri. Kisahnya menggarap rupa-rupa proyek ditampilkan untuk menggarisbawahi bahwa perseverance adalah kesatuan jalinan dengan accomplishment dan optimism, seperti ia utarakan pada bagian kata pengantar buku.
Tentu saja showcase akan kepiawiannya menata ruang mengambil porsi signifikan pada buku. Komposisi hybrid dari kasualitas dan elegansi menjiwai garapan-garapan karya finalis Female Designer Award 2023 oleh publikasi internasional Design/Anthology tersebut. Forma desain Yuni Jie adalah modernisme yang menekankan fungsionalitas. Akan tetapi, materi referensinya melampaui batas teritori atau periodisasi kultur.
Sebagai contoh, peraih Master bidang industrial design dari Pratt Institute New York ini menyuguhkan rancang pantry dengan ekstensi casual dining area yang menyandingkan rujukan minimalis kontemporer ala arsitek Jepang Kengo Kuma dan Italian summer vibe bernuansa lebih retro romantic. Wallpaper Citrus Groove varian navy dari Rifle Paper Co menjadi mood builder utama pada area pantry yang dipamerkan pada instalasi The Colours of Indonesia dalam tajuk Summer Home di Senayan City. Casual elegance dalam glosarium Yuni Jie memancarkan pesona understated luxury.
Di dalam “Dream”, komposisi-komposisi desain interior tak semata disajikan sebagai ekspresi olah estetis sang desainer. Tentang tawaran-tawaran formulasi tata ruangnya, Yuni Jie sebagai penulis juga menuangkan pandangan-pandangan konseptual terkait relasi evolusi zaman dengan bagaimana sebuah ruang dipahami, dihayati, dan ditata. “Nowadays it is not only place to cook and prepare meals several times a day but also multi purposely converted into a sociable dining area, places to chill, drink wine, or even work,” tulisnya pada chapter “Kitchen & Pantry”.
Di atas prestasi demi prestasi dari pendiri firma Jie Design yang terlampir di buku ini, satu hal yang patut disorot ialah tentang bagaimana ia merefleksikan rancang interior kehidupan itu sendiri, di mana tantangan merupakan elemen niscaya. “During those days, we found out that the real key to fulfillment lies in accepting uncertainty,” ungkap Yuni Jie dalam buku terkait dengan hikmah pandemi Covid-19.
Interior hidup dari sosok kelahiran 1977 ini juga diisi dengan manifestasi pespektif kemanusiaan lewat program One Fine Sky. Didirikan pada tahun 2017 oleh Yuni Jie selaku co-founder, One Fine Sky menjual produk-produk yang hasilnya akan dikonversi menjadi set seragam sekolah baru bagi anak-anak sekolah kurang mampu di berbagai pelosok Indonesia. Hingga kini, sekitar 25 ribu seragam sekolah telah disumbangkan kepada pelajar yang membutuhkan. Cerita ini menjadi penutup dari “Dream”.
Merupakan buku ke-6 karya Yuni Jie yang terbit selang satu dekade dari rilisan sebelumnya, “Dream” akan memberi inspirasi untuk Anda yang hendak mendesain tiap-tiap ruang, dari entrance hingga walk-in closet dan rooftop, maupun menjadi referensi akan rupa-rupa furnitur untuk mengisinya. So, what’s next for her? If we might ask, we wish to see Yuni Jie interpreting more Indonesia’s traditional elements into her casual-elegance designs the way she did it through Raya collection ten years ago. In that collaboration with Vivere, she effortlessly translated Batik Kawung motif and silhouette of Wae Rebo house into modern furniture.