With Intercontinental Maldives, Biologist Maria Andersen Integrate Tourism and Conservation

Harmonizing tourism with natural conservancy.

 

Dengan lebar tubuh yang bisa mencapai 9 meter, tak heran bila ikan pari Manta menjadi hewan yang dikagumi orang-orang sejak lama. Sejarah mencatat bahwa hewan yang ‚Äúterbang‚ÄĚ anggun di perairan luas tersebut dipuja oleh peradaban kuno Moche di Peru. Konon ukurannya yang sangat besar membuat gentar para pelaut zaman dahulu yang mengira bahwa Manta dapat menarik kapal hingga tenggelam. Nyatanya, ikan yang terdiri dari spesies Giant Oceanic Manta ray (Manta birostris)¬†dan Reef Manta Ray (Manta alfredi)¬†ini adalah makhluk yang tenang dengan tingkat intelegensia yang cukup tinggi. Berbagai studi menunjukkan bahwa ia bisa mengenali dirinya di hadapan cermin; sebuah fungsi kognitif yang dimiliki oleh lumba-lumba, primata, dan gajah.

Kabar buruknya adalah bahwa Manta kini berstatus vulnerable dengan penurunan populasi yang diakibatkan oleh targeted fisheries (perburuan intensional terhadap Manta) maupun bycatch (perburuan terhadap hewan laut lain yang berdampak pada terjaringnya Manta, misalnya karena penggunaan fishing line). Perihal targeted fisheries, Manta diburu untuk konsumsi daging dan oleh karena gill plate hewan tersebut dipercaya oleh kultur pengobatan Cina sebagai obat mujarab berbagai penyakit meskipun tak ada bukti ilmiah pendukung yang cukup. Problem populasi Manta pun semakin challenging lantaran rate reproduksi hewan itu yang tergolong lamban. Manta biasanya hanya melahirkan satu atau dua anak dalam kurun beberapa tahun.

Salah kaprah tentang manfaat medis Manta, kurangnya pengetahuan tentang sumber pangan yang ‚Äúaman‚ÄĚ secara populasi maupun cara penjaringan yang ramah lingkungan, juga rendahnya kesadaran terhadap pentingnya menjaga ekosistem laut menjadi salah satu rintangan yang dihadapi dalam upaya pelestarian Manta dan lingkungan laut secara umum. Melalui e-interview¬†oleh The Editors Club, marine biologist¬†Maria Andersen yang kini bekerjasama dengan Intercontinental Maldives Maamunagau Resort dalam program-program konservasi mengatakan, ‚ÄúAside from the accessibility of the ocean in terms of participating in the coral restoration, I think some of the biggest challenges stem from the limited awareness of many of the conservation issues. Many people are disconnected from the ocean, whether it‚Äôs because of their work or lack of opportunities, so the conservation of it falls on the back burner since it doesn‚Äôt always directly impact their daily live.‚ÄĚ

Manta in Maldives

Sebagai bagian dari mata rantai ekologis, Manta memainkan peranan integral. Andersen menjelaskan bahwa Manta merupakan bagian dari regulator dan pendorong siklus nutrisi bagi keseimbangan laut. Melalui mekanisme makan secara filter-feeding, Manta meregulasi jumlah plankton yang sangat melimpah. Selain itu, hewan yang namanya berasal dari kosakata Spanyol dengan arti ‚Äúmantel‚ÄĚ tersebut juga menjalankan fungsi nutritional link¬†antara habitat perairan dangkal dan dalam melalui skema transfer karbon. Juga dikatakan oleh perempuan ilmuwan bergelar Master dari James Cook University dan¬†the Australian Institute of Marine Science¬†itu bahwa studi terhadap migrasi dan pola makan Manta bisa memperdalam pemahaman mengenai kondisi laut dan dampak perubahan iklim bagi lautan.

Tak hanya memiliki manfaat penting untuk ekosistem laut, kelestarian Manta pun punya dampak ekonomis yang menguntungkan perekonomian penduduk wilayah maritim. Dengan terjaganya populasi Manta, profit ekonomi dari hasil wisata yang melibatkan Manta lebih sustainable¬†dibandingkan dengan penjualan bagian-bagian tubuhnya. ‚ÄúManta rays are one of the most enigmatic and intelligent creatures in our ocean, making them a charismatic animal to encounter as a snorkeler or diver. This boost in tourism also means a direct increase in income and would suffer from the loss of manta rays. Not only are they important to coastal communities but are also important to the cultural identity of many coastal communities,‚ÄĚ ucap peneliti yang memilih fokus pada upaya restorasi dan preservasi kehidupan laut setelah terlibat dalam pendokumentasian mass bleaching¬†di Great Barrier Reef, Australia, pada tahun 2017 dan melihat begitu banyaknya kematian terumbu karang yang terjadi akibat pemanasan global.

Jika dirangkum dengan sebuah peribahasa, maka upaya konservasi Manta bagaikan sekali mendayung dengan dua pulau terlampaui. Melestarikan Manta membawa manfaat bagi keseimbangan ekologi lautan sekaligus menopang aktivitas marine tourism¬†yang menguntungkan, misalnya dengan kegiatan Manta sighting¬†bagi para diver¬†dan snorkeler. Di Maldives – rumah bagi lebih dari 4.500 Manta yang telah teridentifikasi oleh Maldivian Manta Ray Project – Andersen dan Intercontinental Maldives melangkah lebih maju dengan mengintegrasikan aktivitas wisata dan upaya konservasi. Andersen dan resort dengan 81 unit akomodasi berpemandangan Samudera Hindia itu juga bekerja sama dengan beberapa pihak dalam menghadirkan program-program menarik yang berkontribusi pada pelestarian Manta maupun kehidupan laut secara umum. Salah satunya adalah ‚ÄėAdopt a Manta‚Äô rancangan Manta Trust dimana para tamu dapat memberi nama pada Manta yang baru teridentifikasi dan mengadopsinya. Dana yang terkumpul dari program tersebut digunakan untuk mendukung aksi konservasi dan riset Manta yang digawangi Manta Trust, yang bersama luxury resort¬†tersebut juga turut merawat habitat aman bagi Manta di sebuah sanctuary.

Untuk memperluas pengetahuan tamu perihal Manta, presentasi interaktif pun disuguhkan. Materi presentasi juga didapat dari hasil penelitian tehadap populasi Manta di area sekitar¬†resort. Penelitian dipimpin oleh rekan-rekan peneliti Manta Trust dengan pendekatan non-invasive¬†berupa photographic identification terhadap pola unik dari titik-titik hitam di setiap perut Manta. Melalui riset itu, para peneliti bisa memperdalam pemahaman mereka mengenai pola pergerakan, pertumbuhan, tingkat reproduksi, dan karakteristik-karakteristik biologis lain dari Manta. Program adopsi dan edukasi juga diaplikasikan Andersen dan Intercontinental Maldives pada¬†coral reefs. Melalui program ‚ÄėOcean‚Äôs Coral Ambassador‚Äô rancangan Ocean Group Maldives, para tamu diajak untuk mempelajari pentingnya coral reef¬†hingga berpartisipasi dalam coral restoration. Tamu-tamu resort¬†berkesempatan untuk mengadopsi fragmen-fragmen terumbu karang dan mengikuti perkembangan pertumbuhannya sampai cukup besar untuk ditransplantasi ke sebuah coral reef.

Selain merancang program adopsi terumbu karang, Andersen dan rekan kerjanya di Ocean Group Maldives pun telah membangun sebuah coral nursery sebagai upaya restorasi. Lebih lanjut, Ocean Group Maldives membangun partnership bersama Maldives Marine Institute guna membantu proses monitor terhadap coral reef di area yang selama ini kurang mendapat perhatian, seperti Raa Atoll. Menunjang upaya-upaya konservasi yang dilakukan Intercontinental Maldives, resort dengan tim yang dipimpin oleh sustainability manager itu terus bekerja untuk menciptakan sustainability pada operasional propertinya melalui sistem IHG Green Engage. Dengan sistem itu, tiap properti Intercontinental Hotel Group mengukur dan mengelola dampak lingkungan yang dihasilkan dari operasionalnya. Riset untuk menciptakan teknologi inovatif bagi pengurangan carbon footprint, pengelolaan material waste, desalinasi air laut sebagai sumber air, minimalisasi pemakaian plastik sekali pakai seperti sedotan, menjaga agar sampah plastik dibuang dengan cara ramah lingkungan dan tak memasuki laut, serta bekerjasama dengan Parley Maldives untuk mendaur-ulang sampah plastik menjadi cara-cara yang ditempuh resort rancangan Eco-id Architects tersebut demi berharmoni dengan alam sekitar bahkan melindunginya.

 

Optimism for the Ocean

Sudah lebih dari setengah tahun Andersen bergabung dalam Ocean Group Maldives yang ber-partner dengan Intercontinental Maldives. Ia mengaku beruntung bisa bekerjasama dengan pihak resort¬†dalam memproteksi lingkungan sekitar. ‚ÄúI was fortunate enough to have Ocean Group Maldives reach out to¬†me¬†and invite me to establish a coral restoration and marine conservation program for their partner‚Äôs property at Intercontinental Maldives,‚ÄĚ kisah biologist¬†yang sejak kecil merasa punya kedekatan yang kuat dengan samudera. Bagi figur perempuan yang tumbuh dengan kekaguman kala melihat warna-warni terumbu karang di halaman National Geographic itu, kedalaman laut selalu menyimpan kecantikan yang menginspirasi. Ditanya mengenai alasan kecintaanya pada laut, Andersen menjawab ‚ÄúThere‚Äôs just so much poetry and beauty locked up inside the depths and I think that always inspired me to keep exploring as much as I could, and ultimately, drew me into this career path. No matter how much I read about the ocean, there was¬†always something new to learn.‚ÄĚ

Meski pasti ada tantangan-tantangan yang ia hadapi dalam mengemban misi pelestarian kehidupan laut bersama Intercontinental Maldives, skema dimana turisme dan konservasi terjalin harmonis sebagaimana yang mereka jalani tampak begitu indah dan mungkin tampak menjadi semacam exception¬†kala bicara mengenai isu relasi turisme dan konservasi. Di luar ‚Äúzona paradise‚ÄĚ milik Intercontinental Maldives ada begitu banyak kasus yang memperlihatkan konflik antara kepentingan bisnis wisata dan upaya pelestarian lingkungan. Mengutip artikel The Guardian, bisnis wisata merupakan salah satu industri yang paling cepat berkembang dan menyumbang lebih dari 10% GDP global. Irresponsible over-tourism¬†yang tercipta pun harus dibayar seharga problem-problem lingkungan. Beberapa negara bahkan sampai harus menutup sementara titik-titik wisata guna merivitalisasi alam yang rusak akibat eksploitasi wisata. Pada tahun 2018, Filipina menutup Pulau Boracay dan Thailand menutup Maya Bay di Pulau Kho Phi Phi Leh. Terminologi ecotourism¬†pun mencuat dan diperjuangkan banyak pihak sebagai alternatif wisata ramah lingkungan.

Dari sudut pandang Andersen, campur tangan pemerintah dalam untuk urusan management¬†destinasi-destinasi wisata dalam kaitannya dengan dampak lingkungan memang dibutuhkan. ‚ÄúWith rapid growth comes the need to regulate development, as well as have a strong long-term plan that encompasses the needs of the people and the need to protect natural assets for future generations. Economic growth in a country is important, but not having a central authority regulating the use of a country’s natural resources will certainly cause a crisis, especially if the short-term gains outweigh the long term benefits,‚ÄĚ jelasnya. Dalam hal ekowisata, menurut Andersen pemerintah perlu benar-benar melihat dampak keseluruhan dari satu garapan proyek¬†ecotourism¬†dan se-sustainable¬†apa proyek tersebut. Ia pun menekankan pentingnya pemerintah mengambil langkah-langkah dini untuk menjaga keberagaman ekosistem dalam pengembangan ekowisata serta merumuskan regulasi dalam mengantisipasi lonjakan volume wisatawan di area-area wisata.

Di atas segala masalah-masalah yang sedang terjadi ataupun yang berisiko akan terjadi, Andersen bersikap optimis dalam melihat hubungan antara tursime dan pelestarian lingkungan. Spesifik mengenai idustri hotel dan resort, ia mengatakan ‚ÄúAs long as there is hope in people, there is hope in changing our industries. I think economic growth is inevitable, but in saying that, a resort has a choice in creating a sustainable practice. This is especially important in Maldives where resorts rely on their environment to deliver the best guest experiences. If sustainability is at the heart of their choices, then any future choices will be focused on minimizing their impacts and recognizing the consequences of poor stewardship.‚ÄĚ Dari sisi konsumen, awareness program¬†dari hotel dan resort untuk mengedukasi tetamu dinilai Andersen sebagai salah satu cara yang baik dalam upaya membangun kesadaran dan atensi publik bagi ragam isu konservasi, khususnya isu-isu yang belum banyak diketahui. Ia pun bersyukur bahwa kini konsumen sudah semakin dipermudah teknologi dalam memilih akomodasi wisata yang sustainable.

Berkaca dari pengalamannya bekerja bersama Intercontinental Maldives dan melihat ketertarikan tamu-tamunya dengan program-program rekreasi sekaligus restorasi yang ditawarkan, Andersen yakin bahwa asa akan bertumbuhnya konsiderasi publik terhadap isu-isu lingkungan masih meyala. ‚ÄúI think it is also starting to become a trend to be more aware of our impacts on our environment. As individuals, these actions may not seem like much, but together we can spark a change and hold our industries accountable by reducing our demands for unsustainably sourced products,‚ÄĚ ucapnya. Selain mendasarkan optimismenya pada respon para tamu terhadap program-program yang ia rancang bersama Intercontinental Maldives, Andersen juga berpendapat bahwa nilai insentif ekonomi dari hasil konservasi alam pun akan mendorong pelaku-pelaku usaha terlibat dalam upaya pelestarian. Sebagai contoh, ia menyebut bahwa coral reefs ecosystem¬†menyuplai sumberdaya yang menopang kehidupan masyarakat global dengan nilai setara 375 milyar USD setiap tahunnya.

Kecintaan Andersen dan komitmennya terhadap restorasi dan preservasi habitat samudera sepertinya tak akan berhenti pada kerjsamanya dengan Intercontinental Maldives. Kepada kami, ia mengutarakan keinginannya untuk melanjutkan studi S3, namun yang pasti ia akan memastikan agar program-program yang dirancangnya bersama resort yang terletak dekat UNESCO biosphere reserve Baa Atoll tersebut menjadi fondasi yang kuat bagi keberlanjutan dan pengembangan upaya konservasi selanjutnya. ‚ÄúSo far, my plan is to continue to enjoy my time here at Intercontinental and to see my coral restoration work through. Maybe in the future I‚Äôll go back to school and try for a Ph.D. but before I have any plans to leave, I want to make sure that I have laid down a strong foundation for others to continue the work I have set down,‚ÄĚ tutup Andersen.