Warisan Rasa dari Keabadian Cinta Habibie-Ainun

A collaboration between Plataran Catering Services
and Wisma Habibie & Ainun.

 

Mungkin seharusnya Bacharuddin Jusuf Habibie mengemban peran sebagai Presiden Republik Indonesia selama 5 periode. Pikiran ini kami lontar sebagai celoteh ringan saat duduk berhadapan dengan Satria Habibie sang cucu presiden ketiga RI, saat menikmati sajian-sajian makan siang hasil kolaborasi Plataran Catering Service dan Wisma Habibie & Ainun beberapa waktu lalu.

Luncheon kala itu mengambil tempat pendopo wisma di bilangan Kuningan yang anggun elegan bernuansa megah dengan dominasi material kayu hingga ke langit-langit berhias chandelier klasik. Membalas seloroh kami, Satria yang merupakan Family Ambassador of Wisma Habibie & Ainun mengungkap betapa mendiang yang akrab disapa Eyang Rudi itu bukan sosok yang “haus” kursi politik.

Obrol ringan itu kemudian memantik memori silam kami tentang masa di mana figur berdarah Gorontalo-Yogyakarta itu memegang tampuk pemerintahan. Dengan durasi menjabat tersingkat selama 1 tahun 5 bulan, B.J. Habibie harus mengakhiri masa bakti sebagai presiden setelah MPR di Sidang Umum 1999 menolak pertanggungjawabannya terkait pelepasan propinsi Timor Timur (kemudian menjadi negara Timor Leste) hasil pemungutan suara warga setempat. Di mata lembaga tersebut, Habibie yang mencetuskan ide referendum dinilai lalai dalam mempertahankan kesatuan Indonesia.

Tidakkah manuver majelis tersebut menjadi lelucon yang menyingkap betapa sang badan fakir akut akan pemahaman konsep kenegaraan? “Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa,” merupakan kalimat pembuka UUD 1945 sebagai konsitusi yang merangkum dan menerangkan basis konseptual dari justifikasi terbentuknya sebuah negara. Artinya, oleh karena manusia-manusia di bumi Nusantara ini pada hakikatnya memegang kebebasan untuk menentukan nasibnya sendiri, maka ketika segenap orang tersebut memutuskan untuk bersatu mendirikan sebuah negara yang independen, di situlah validasi akan entitas negara merdeka tersebut berlaku. Hak masyarakat untuk bersatu membentuk Indonesia yang merdeka mendapat legitimasinya dari pengakuan atas kebebasan hakiki tiap individu untuk memilih sendiri arah hidupnya. Valid atau tidaknya sebuah persatuan bergantung pada keputusan independen tiap individu yang terlibat untuk secara sukarela bersatu.

Sungguh lucu – atau juga tidak lucu – melihat MPR kala itu yang tampak gagal memahami filosofi kenegaraan tersebut. Bagian manakah yang tak bisa dimengerti sang majelis bahwa referendum untuk tetap bergabung atau berpisah dari Indonesia adalah anak sah dari konstitusi yang berpijak pada kebebasan asasi? Sama sahnya dengan Pemilihan Umum untuk menetukan presiden. Aneh bin absurd, bahwa di kala itu, ketika negara ini berada pada momen krusial untuk membangun demokrasinya (demos = people, kratia = rule), justru aksi terdemokratis yang diambil Habibie dicap sebagai noda politik. Sebegitu pandirnya kah para petinggi di lembaga terhormat tersebut untuk bisa mengerti hal basic semacam itu? Lebih parah lagi bila ternyata mereka mengerti tapi dengan sengaja menjatuhkan demi ambisi kotor kebuasan perpolitikan.

Tentu saja, tak bisa dipungkiri bahwa permasalahan di propinsi Timor Timur dahulu kala penuh dengan lapisan-lapisan yang kompleks. Termasuk di dalamnya adalah tekanan dan kepentingan asing akan Tanah Lorosae, maupun gejolak romantisme massa akan konsep keindonesiaan, serta pastinya tarik ulur agenda ekonomi-politik dalam negeri sendiri. Akan tetapi, demi pertimbangan apapun, merenggut fundamental tiap individu untuk bisa melangkahkan kaki ke tujuan yang dikehendakinya tentulah merupakan sebuah pelanggaran moral. Pemungutan suara yang telah menyingkap aspirasi nyata bangsa Timor untuk berdaulat secara mandiri adalah jalan etis yang pantas diapresiasi. Dalam persepektif lebih dalam dan kritis, hal tersebut dapat dilihat sebagai bukti cinta seorang Habibie atas bangsanya yang berakar pada pilar kemanusiaan; cinta yang liberatif berbasis humanitas – bukan relasi toxic yang mempertahankan namun represif pun tak mensejahterakan. Prinsip humanity dan kecintaan akan Indonesia yang ia miliki tercermin juga lewat aksi sang pemimpin membebaskan tahanan-tahanan politik hingga menjunjung kebebasan pers.

Kecintaan tulusnya akan Indonesia itu pula yang tertuang pada rancang ruang Wisma Habibie & Ainun. Memasuki lobi bernama Bhinneka Tunggal Ika, dinding-dinding dihias dengan karya yang menampilkan ekspresi seni adat dari barat ke timur Indonesia. Ornamen-ornamen dinding lain di ruang berbeda merepresentasikan beberapa kepercayaan yang masuk dan bertumbuh di negeri khatulistiwa. Satria Habibie yang memandu tur mengatakan bahwa kakeknya itu bersaksi telah merasakan kebaikan cinta kasih dari tiap-tiap agama. Dalam kehidupan personal sang former president, aspek cinta pun kental mengisi kesehariannya bersama istri, yakni Hasri Ainun Besari. “Setiap hari seperti pasangan mahasiswa yang lagi kasmaran,” ungkap Satria Habibie tentang romansa kakek-neneknya yang melengkapi cerita bahwa tiap Habibie bekerja di rumah, Ainun selalu menemaninya sambil melafazkan Al-Quran. Menu Sayur Lodeh Kenangan Ainun menjadi teman kami dalam bincang siang itu.

Seperti dijabarkan Satiyah, ahli dapur keluarga Habibie sejak puluhan tahun lalu hingga kini, masakan-masakan rumahan khas keluarga Nusantara menjadi santapan sehari-hari pasangan tersebut. Resep sayur lodeh dan yang dikuasai Ainun diturunkan ke Satiyah untuk dipadu dengan cita rasa nasional lainnya. Dalam program Habibie Legacy Experience, chef dari Plataran Katering Service menggali kisah-kisah hidup juga kegemaran kuliner keluarga ini dan memberi interpretasi kreatif sehingga menjadi versi elevated untuk dinikmati pada program spesial tersebut. Aksi kreatif di menu lodeh hadir berupa penggunaan batok kelapa sebagai mangkuk dengan kuah terpisah. Pada olahan Ayam Semur Si Gula Jawa – “gula jawa” adalah sebutan sayang Habibie untuk Ainun – daging dibalut tepung dan digoreng, yang kemudian diberi bumbu.

Untuk sate, Habibie suka yang terbuat dari daging domba; dan Plataran mengolah lamb loin skewer dengan bumbu gulai yang dinamai Sate Domba Gulai Kota Kembang – merujuk pada masa studi Habibie di Institut Teknologi Bandung (ITB). Kepiawaian Satiyah dikukuhkan lewat Iga Sapi Saus Soto Betawi Andalan Satiyah. Keseluruhan lauk-pauk ini disantap bersama dengan nasi liwet yang dibentuk mengerucut. Dessert Strudel Apel Pelukan Jerman sebagai wakil kisah hidup Habibie menempuh pendidikan di negara itu menutup manis rangkaian sajian hasil interpretasi Plataran Catering Services. Lewat program Habibie Legacy Experience yang dirancang khusus bagi pengunjung Wisma Habibie & Ainun, narasi keabadian cinta keduanya, gambaran personalitas masing-masing sosok, hingga kontribusi positif bagi negara terjalin dalam pengalaman imersif. Saat tur melihat perpusatakaan misalnya, dapat terlihat beberapa replika pesawat buatan Habibie – dan salah satunya turut dipersembahkan bagi Ainun.

Dinding kaca perpustakaan menghadap ke taman yang dihias oleh beberapa karya patung. Mulai dari rupa The Thinker sampai Ganesha yang semuanya berkaitan erat dengan simbolisasi ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan. Tak hanya dikenal sebagai tokoh yang sangat pintar – di masanya sebagai presiden, nilai tukar rupiah menguat tajam dari Rp 16 ribuan ke Rp 6 ribuan – Habibie juga dikenal memiliki flair of fashion yang elegan. Mengenal perhatiannya yang besar untuk urusan penampilan menjadi salah satu daya tarik program Habibie Legacy Experience. Di tengah program, asisten wisma membuka sebuah kotak berisi syal dengan wangi parfum khas Habibie. Kini wangi presiden ketiga Indonesia itu mungkin hanya bersemayam dalam kotak tersebut, akan tetapi harum personanya dengan prinsip kemanusiaan yang dipegang teguh beserta cinta abadinya kepada kekasih akan selalu hidup dalam narasi perjalanan bangsa dan menginspirasi tiap insan di dalamnya.