Looking back to an exhibition by Selasar Sunaryo Art Space showcasing female artists.
Pada awal Agustus lalu, sebuah dinner dihelat oleh Selasar Sunaryo Art Space di WOT Batu Bandung nan estetis dengan hampir seluruh tamunya adalah perempuan dari berbagai bidang. Salah seorang yang bukan perempuan di antaranya adalah seniman senior sekaligus sang pendiri galeri ternama itu sendiri, Sunaryo, yang membuka makan malam dengan rangkaian kata. Seorang laki-laki lainnya yang duduk di event itu ialah Arin Dwihartanto, anak Sunaryo yang juga berprofesi sebagai seniman, yang kala itu memberi dukungan penuh bagi istrinya, seniman Syagini Ratna Wulan, selaku host acara. Yes, it’s about women and art.
Partisipasi tamu di acara itu berkaitan salah satunya dengan pameran Titicara yang menampilkan karya dari 23 perempuan perupa asal Indonesia, Jepang, Filipina, Australia, dan Singapura pilihan Syagini atau akrab disapa Cagi. Mereka adalah Aurora Arazzi, Ay Tjoe Christine, Chairin Hayati Joedawinata, Ella Wijt, Elia Nurvista, Erna Garnasih Pirous, Etza Meisyara, Ines Katamso, Kanoko Takaya, Kinez Riza, Maharani Mancanagara, Mira Rizki, Patricia Untario, Putri Larasati, Sekarputri Sidhiawati, Tara Kasenda, Vienasty Rezqina, dan Yosefa Aulia dari Indonesia; serta Dawn Ng, Donna Ong, dan Melissa Tan dari Singapura; juga Corinne de San Jose dari Filipina, dan Leyla Stevens dari Australia.
Fokus dari pameran hasil kerjasama dengan ISA Art and Design Jakarta yang telah rampung pada 30 Oktober ini (edisi pertamanya berlangsung pada bulan Juni di Wisma 46 BNI) sesungguhnya adalah untuk menggarisbawahi pentingnya kemampuan teknik dan pemahaman akan sifat material sebagai pijakan perupa dalam mengejawantahkan konsep, imajinasi, atau perasaannya. Akan tetapi dengan konteks sejarah perjalanan dunia seni yang diwarnai oleh ketimpangan gender – sebagaimana bidang-bidang lain di peradaban manusia – tentu saja secara natural muncul pertanyaan terkait apa yang menjadi signifikansi eksibisi ini terkait eksistensi seniman-seniman perempuan di realita kontemporer.

“Nobody says ‘Picasso, the male artist’,” kritik musisi punk, penyair, dan pelukis Patti Smith yang menggambarkan posisi perempuan dalam dunia seni. Meskipun tentu saja perjuangan gender equality – yang pastinya banyak turut dilakukan oleh para feminis – membuahkan hasil besar dalam sendi-sendi kehidupan, situasi ideal akan kesetaraan itu tampak masih jauh panggang dari api. Di bulan yang sama dibukanya Titicara, sebuah artikel Forbes dirilis dengan judul “The $192 Billion Gender Gap In Art” yang menyorot kesenjangan harga jual karya-karya seniman perempuan dibanding yang dibuat oleh seniman laki-laki. Mengutip data yang disajikan dalam artikel itu, karya-karya seniman perempuan dari tahun 1970 hingga 2016 (dari sampel 1.9 juta penjualan karya buatan 69.189 seniman) terjual dengan harga 42% lebih rendah dari karya-karya seniman laki-laki.
Data-data lain yang dipaparkan pada artikel itu semakin membentuk gambaran miris dari realita seni terkait kesetaraan gender. Riset terhadap 18 major art museums di U.S. mengungkap bahwa 87% koleksi yang dimiliki adalah ciptaan seniman laki-laki dan 85% dari seniman kulit putih. Observasi tentang penjualan artworks sebagaimana dipaparkan artikel tersebut menyibak bahwa ketika seniman laki-laki membubuhi karya dengan tanda tangan maka harga karya itu meningkat, sementara sebaliknya ketika seniman perempuan menandatangani karyanya maka malah terjadi penurunan harga. Fakta lainnya, buku “The Story of Art” yang adalah bestselling art book dan biasa dipakai pelajar sebagai textbook hanya menyebut satu seniman perempuan di 688 halamannya.
Apa yang terjadi di dalam artworld perihal ketimpangan gender tentu punya lapisan-lapisan isu dengan kepelikan dimensional yang interconnected serta saling berpengaruh. Menilisik ke level pengalaman individual dari perempuan pelaku seni, seniman berbasis di Bandung Yosefa Aulia berbagi pandangannya. Berdasar pengalaman yang ia amati, seniman yang turut berpartisipasi di Titicara ini bicara seputar streotyping kepada The Editors Club. “Kalau kamu cantik biasanya gitu. Kesannya kalau kamu cantik, maka kamu dicapnya bikin karya-karya yang cantik saja, padahal belum tentu seperti itu,” ujar sosok yang akrab disapa Ocip tersebut jelang eksibisi Titicara dibuka kala itu. Ia melihat bahwa “masih banyak seniman perempuan yang belum bisa keluar potensinya.”
Di mata Ocip, butuh usaha ekstra keras untuk bisa mengubah collective unconscious yang bekerja di problem perempuan dalam dunia seni. Akan tetapi, semua rintangan dan tantangan tersebut tak mampu menghentikannya untuk terus menekuni profesinya. Fokusnya adalah untuk terus berkarya. Nada ini yang ia sampaikan kala memberi pesan untuk sesama seniman perempuan. “Harapannya dengan semua kesulitan dan tantangan, para seniman perempuan bisa mengabaikan noise dan fokus saja dengan energi kreatifnya,” ucapnya. Hal serupa juga disampaikan oleh seniman lain yang ditemui The Editors Club saat itu, yakni Kinez Riza. Mengakui bahwa jumlah seniman perempuan masih lebih sedikit dibanding seniman laki-laki dan adanya banyak rintangan untuk perempuan berkarya, ia berharap agar mereka terus berkarya dan bisa punya platform yang lebih besar.
Membungkus harapan itu dalam terang nuansa yang lebih optimistis, baik Kinez maupun Ocip menyatakan bahwa kondisi dunia seni terkait kesetaraan gender mengalami perbaikan dibanding masa lalu.
Narasi Tiap Perempuan
Di Titicara, Kinez yang lebih dahulu dikenal suka memanfaatkan medium fotografi memilih untuk menampilkan karya patung. Sementara Ocip menyuguhkan karya drawing di atas kertas menggunakan pensil dan marker serta olah keramik dan gypsum yang memang menjadi ketertarikannya. Tiap-tiap seniman di pameran ini didorong untuk mengksplorasi berbagai medium, material, maupun metode dalam berkarya. Syagini yang bertindak selaku kurator pameran juga berperan sebagai rekan diskusi dan fasilitator – terutama bagi para perempuan perupa muda/baru – yang secara berkala melakukan pertemuan, berdiskusi tentang keselarasan antara gagasan, rencana karya, teknis pengerjaan, dan pertimbangan material.
Dorongan untuk mencoba material dan teknik baru pun diberikan oleh seniman yang juga memiliki label leather bag SRW itu. Turun tangan secara total, ia pun turut memfasilitasi beberapa perupa untuk penyelesaian akhir, seperti memberi masukan tentang penggunaan bahan pelindung yang baik bagi permukaan karya, hingga pada pemilihan warna, bahan, bentuk, dan kualitas permukaan bingkai maupun pedestal. Itulah sebabnya pameran ini bernama Titicara, sebuah kata baru yang tidak terdapat di kamus yang memiliki arti menelusuri cara sebagaimana dijelaskan oleh Syagini. Melalui pelbagai cara itu, para seniman yang berpartisipasi di pameran mengaktualisasikan apa yang dipikir dan dirasanya menjadi deretan artworks.
Dalam redup cahaya di sebuah ruang, terlihat tegak berdiri patung kucing dengan bentuk halo di kepalanya. It’s a not depiction of ordinary cat, yet a conceptual interpretation of Bastet, the ancient Egyptian deity. Inilah karya Kinez yang dipamerkan. Lewat karya “Felis Lybica” (2022) di Titicara ini, seniman yang perdana berpameran di usia awal 20-an ini mengetengahkan gagasan akan interaksi dua energi oposisional yang bekerja dalam hidup. Yakni energi Appolonian perlambang harmoni dan energi Dionysian sebagai representasi chaos.

Ia merujuk pada gagasan Camille Paglia, seorang akademisi feminis asal Amerika, yang membahas bagaimana kucing oleh masyarakat Mesir kuno dipandang sebagai makhluk dengan keseimbangan antara harmoni dan chaos sehingga ditempatkan secara spesial pada sistem spiritual mereka – as she theorize in her book “Sexual Personae” (1990) that those two is indeed always conflicting in reality. Dualitas lain yang dimaknai oleh Kinez juga ditemukan pada bentuk halo di patung tersebut dimana hal tersebut menggambarkan relasi cahaya dan mata. Cahaya bisa membantu mata melihat tapi juga dapat membutakannya bergantung pada intensitas yang dipancarkan.
Jika Kinez mengajak para spectator untuk menelaah hidup dari sudut pandang bird’s eye view, Ocip mengambil jalur yang membawa pada satuan institusi sosial terdasar, yakni keluarga. Sebuah karya darinya yang berjudul “Ibu” (2022) berisi objek surealis yang dikomposisi oleh tumpukan jamur diselingi anggota-anggota tubuh manusia. Artwork lainnya adalah rangkaian 3 karya yang terdiri dari “IV” (2022), “V” (2022), dan “IX” (2022). “IV” dan “IX” adalah karya keramik dengan highlight objek kursi dan sofa, sedangkan “V” adalah penampang gypsum dengan gambar jamur dan tubuh manusia yang dibuat menggunakan pensil dan marker.
Seperti dituturkan senimannya sendiri, karya-karya tersebut berkaitan dengan memori personalnya akan rumah serta personifikasi akan individu-individu dalam kehidupan keluarganya. Nuansa sentimental dalam mengangkat tema keluarga ini didorong oleh terjadinya pandemi Covid-19. Ia mengaku bahwa sebelumnya bahasan keluarga pada karya-karyanya lebih ditempatkan sebagai kritik sistem dimana baginya rumah menjadi melting pot nilai-nilai yang diadopsi dari luar dan adanya proses paksa agar “isi rumah” atau keluarga bisa fungsional atau harmoni padahal sesungguhnya ada banyak elemen-elemen fragmented serta disfungsional sehingga yang tinggal di rumah itu justru kehilangan ruang untuk dirinya sendiri. Inilah mengapa banyak ditemui penggambaran absurditas pada karya-karyanya.
Demikianlah Kinez dan Ocip membawa gagasan dan narasinya masing-masing lewat wujud karya seni. Begitupun dengan artists partisipan lain di Titicara. Ini yang tampaknya menjadi penekanan Syagini ketika ia menyebut “beyond emancipation” kala ditanya The Editors Club pada penghujung masa pameran terkait signifikansi Titicara dengan isu ketimpangan gender di ranah seni. Tidak dimaksudkan untuk berisi bahasan feminisime gelombang 1,2,3 dan seterusnya yang spesifik menyuarakan perjuangan gender, pameran ini dihadirkan sebagai perwujudan nyata akan ruang setara itu sendiri bagi narasi perempuan mengenai macam-macam hal. Without a doubt this kind of activism needs to be multiplied in order to amplify the presence as well as the voice of women in art. Nevertheless, in a global realm where female artists are still under-represented with many issues of gender gap and inequality, addressing openly and specifically about gender equality in art is still so much important to be done intensively by all parties.