Third Millennium’s Resolution: Sustainability

CFDA’s sustainability platform, the last decades in world’s fashion industry, and the impact of sustainable development in the future.

 

Memuguhkan pijakan pada milenium ketiga, masa depan fashion semakin terlihat menuju ke arah yang jauh lebih sustainable. Organisasi Council of Fashion Designers of America (CFDA) membuka 2019 dengan meluncurkan sebuah resource platform hub yang mengedepankan sustainability. Banyak perusahaan mode global yang telah menjalankan aksi mereka untuk berkontribusi menyelamatkan bumi. Sebenarnya, seberapa penting peran para payung besar fashion dalam hal ini? Apakah ada faktor lain yang mendukung keputusan banyak brand untuk mengganti sumber daya mereka selain untuk bumi? Apa dampak selanjutnya dari tindakan ini?

 

January 2019 in America

Di Amerika, organisasi CFDA telah merespon panggilan United Nations untuk membuat industri mode global lebih peduli dengan kepentingan sustainability lingkungan. Mengawali 2019, non-governmental organisation tersebut meluncurkan sebuah resource hub yang berfokus pada sustainability untuk menyediakan para anggota, educator, dan komunitas profesional yang tergabung di dalamnya dengan open-access resources yang khusus berkaitan dengan bisnis fashion. CFDA juga memerhatikan perkembangan para profesional dan membantu early-stage brands untuk membangun kerangka bisnis dengan fokus utama environmental sustainability.

Platform informatif yang diluncurkan pada 14 Januari lalu oleh CFDA menghadirkan “Materials Index” yang berisi daftar jenis bahan kain yang dapat digunakan, dan termasuk di dalamnya informasi mengenai bahan-bahan kain tersebut, lengkap dengan deskripsi. Terdapat “Sustainability Directory”, sebuah resource hub yang menghubungkan perancang busana, perusahaan, dan pelajar dengan berbagai sumber daya, termasuk organisasi dan peralatan yang sustainable. Ada juga “Guide to Sustainable Strategies” yang dibuat sebagai panduan bagi para anggota untuk menciptakan, bertemu, dan juga mengembangkan lebih jauh objektif sustainability mereka. Panduan ini berisi studi kasus dari para anggota CFDA melalui pengalaman mereka. Kemudian, “Sustainable Strategies Toolkit” memetakan prioritas dalam menjalankan aksi ini sehingga para brand memiliki akses ke diagnosis untuk keperluan mereka, serta panduan step-by-step mengenai bagaimana menciptakan strategic blueprint untuk brand mereka. CFDA juga berencana mengadakan workshop dan diskusi roundtable mengenai isu ini sepanjang tahun. Salah satu workshop yang telah direncanakan akan fokus untuk memperkenalkan 17 Sustainable Development Goals bagi para membership brands.

Tidak hanya bagi warga Amerika, platform ini akan sangat bermanfaat untuk masyarakat dunia yang ingin turut mengambil peran dalam melestarikan bumi melalui fashion. Mengetahui bahwa industri fashion merupakan industri penyumbang polusi terbanyak kedua di dunia – setelah industri minyak, pengambilan langkah konkret untuk meminimalisasi dampak terhadap lingkungan oleh Amerika ini tentu merupakan kemajuan bagi sebuah sistem baru dalam dunia mode.

 

 

The Past Few Decades in the World

Produksi sandang di dunia telah bertambah dua kali lipat dalam lebih dari satu dekade terakhir. Ini memperlihatkan bagaimana spending power dari konsumen fashion meningkat, juga merefleksikan bagaimana demand terhadap fast fashion naik, yang secara tidak sengaja melatih pola pikir pembeli untuk lebih cepat bosan dengan apa yang ada di dalam lemari pakaiannya. Kini, tidak sedikit brand yang sudah mengambil tanggung jawab dalam mengubah tingkah laku tersebut. Meski perlahan, gerakan ‘sadar alam’ telah dijalankan perusahaan-perusahaan global dalam beberapa dekade belakangan. Apakah hal tersebut berhasil memberikan pengertian bagi konsumennya?

Survey dari YouGov menunjukkan bahwa Generasi Millennial – generasi konsumen yang paling boros – dan Generasi Z menganggap bahwa sustainability adalah hal penting yang perlu diperhatikan ketika membeli sebuah produk. Dilansir Forbes, tahun lalu, pencarian konsumen mode akan produk-produk ethical meningkat sebanyak 47% dan brand yang mengutamakan sustainability masuk ke dalam daftar ‘most searched for’ untuk pertama kalinya. J.Crew Group, Inc. telah meluncurkan produk “Eco Jean”– koleksi denim dari katun organik Italia yang diwarnai secara natural –, Levi Strauss & Co. mengeliminasi bahan kimia dari produk mereka dan menjelaskan visi ini secara rinci pada situsnya. Di Eropa, Kering, H&M, serta Marks & Spencer telah menjalankan proyek sosial yang bersifat environmental. Kering dengan perpustakaan berisi kurang lebih 2.000 certified fabrics yang dapat digunakan fashion brands di bawah naungannya dan gagasan 2025 Strategy mereka, H&M telah menjadi global partner dari Ellen MacArthur Foundation, dan Marks & Spencer yang mendaur ulang sebanyak lebih dari 30 juta garmen dalam 10 tahun terakhir.

Mengacu kepada survey YouGov, kami sempat bertanya-tanya, lebih dari sekadar menjaga lingkungan, apakah salah satu alasan kuat para pelaku usaha mode mengubah sistem dan sumber daya mereka adalah karena ketidakinginan mengambil resiko jika bisnis mereka terlambat bereaksi terhadap isu ini dan menanggung konsekuensi akibat beralihnya preferensi konsumennya? Mungkin saja. Tetapi terlepas dari pemikiran tersebut, dengan semakin terlibatnya para organisasi dan perusahaan besar dalam gerakan krusial ini, bagaimana tanggapan Anda mengenai persoalan ini? Atau Anda justru sudah turut berkontribusi terhadap environmental sustainability dengan cara Anda sendiri? Untuk bisa berkomitmen dalam hal ini, kita perlu mengerti seberapa penting keterlibatan kita sebagai konsumen yang cerdas dalam membeli.

Produksi sandang di dunia telah bertambah dua kali lipat dalam lebih dari satu dekade terakhir. Ini memperlihatkan bagaimana spending power dari konsumen fashion meningkat, juga merefleksikan bagaimana demand terhadap fast fashion naik, yang secara tidak sengaja melatih pola pikir pembeli untuk lebih cepat bosan dengan apa yang ada di dalam lemari pakaiannya.

 

The Future on Earth

Industri fashion merupakan lahan bisnis yang melibatkan langkah pengolahan yang panjang dengan melewati proses rantai pasokan produksi, bahan-bahan mentah, pabrik tekstil, konstruksi pakaian, pengiriman, retail, penggunaan, hingga sampai ke pembuangan dan – jika dilakukan – recycling. Dengan adanya proses itu semua tentu saja jejak karbon yang ditinggalkan tidaklah sedikit. Meski katun, terutama katun organik, terdengar seperti pilihan yang tepat, nyatanya katun dapat menghabiskan lebih dari 5.000 galon air hanya untuk memproduksi sebuah kaos dan celana jeans. Serat sintetis buatan manusia pun, meski tidak memerlukan air yang banyak dalam pembuatannya, memiliki isu sendiri terhadap polusi dan sustainability. Tapi yang terparah di antara itu semua, manufaktur dan proses pewarnaan kain memiliki dampak kimia yang intens terhadap lingkungan.

 

 

Katun adalah bahan natural yang paling sering digunakan dan bahan ini kemungkinan ada dalam 40% pakaian Anda. Katun adalah tanaman yang mudah haus dan juga merupakan tanaman yang hidupnya bergantung dengan perawatan berbahan kimia. Meski terhitung hanya 2,4% lahan pertanian dunia yang menanam katun, tanaman ini mengonsumsi 10% dari seluruh bahan kimia agrikultur dan 25% insektisida. Katun ditanam di seluruh dunia, dengan Tiongkok sebagai negara penanam katun terbesar, diikuti oleh India, Amerika Serikat, Pakistan, dan Brazil. Di peringkat ke-6, Uzbekistan merupakan contoh besar dari bagaimana katun dapat memiliki dampak buruk terhadap lingkungan. Pada 1950, dua sungai di Asia Tengah, Amu Darya dan Syr Darya, dialihkan dari Laut Aral untuk menyediakan irigasi bagi produksi katun di Uzbekistan dan beberapa daerah dekat Turkmenistan. Sekarang, level air di Laut Aral telah berkurang 10% dibandingkan 50 tahun lalu. Seiring berkurangnya level air di laut tersebut, para nelayan dan beberapa komunitas yang bergantung pada laut itu mengalami pelemahan. Kekeringan menghasilkan debu, dasar danau sudah mulai terlihat di daerah-daerah dekat laut, bahan kimia dan garam mencemari udara dan menciptakan krisis kesehatan serta memengaruhi lahan pertanian dengan mengontaminasi tanah. Laut Aral perlahan menjadi laut kering, dan kekeringan ini berpengaruh terhadap cuaca, yang mana musim dingin di sana menjadi lebih dingin dan musim panas menjadi lebih panas dan kering.

Uzbekistan merupakan satu dari beberapa contoh yang ada di dunia. Kini alternatif dari katun adalah katun organik, namun perawatannya yang mahal menyebabkan katun ini hanya dikelola sebanyak sekitar 1% dari seluruh katun dunia. Tetapi hal itu bukanlah satu dari banyak kerugian memproduksi katun organik. Katun organik masih memerlukan banyak air dalam pertumbuhannya, dan pakaian yang dihasilkan dari bahan ini masih akan diwarnai dengan bahan kimia, kemudian dikirim melintasi dunia dalam sebuah kapal container berbahan bakar fosil. Artinya, masih ada jejak karbon besar yang menempel pada garmen katun dengan label “organik”.

Zat pewarna pakaian juga menjadi masalah di negeri kita. Di Indonesia, terdapat Sungai Citarum yang dinyatakan sebagai salah satu sungai paling berpolusi di dunia. Beberapa ratus ribu ton limbah dibuang ke sungai setiap harinya oleh pabrik-pabrik yang ada di seputaran sungai tersebut. Dilansir Greenpeace, dengan 68% dari fasilitas industri di sekitar Citarum yang memproduksi tekstil – termasuk di dalamnya zat pewarna –, efek kesehatan bagi lima juta warga yang tinggal di sekitarnya dan satwa liar sudah mencapai titik mengkhawatirkan. Namun di bawah kepemimpinan Jokowi, pemerintah akhirnya mengambil langkah mengenai hal ini dan telah menemukan solusinya. Meski begitu, untuk mencapai titik steril tetap diperlukan proses yang panjang dan waktu yang tidak singkat.

“Masih ada jejak karbon besar yang menempel pada garmen katun dengan label “organik”.”

 

Ancaman yang disebabkan oleh zat pewarna garmen tidak berakhir di Sungai Citarum. Sisa-sisa bahan kimia dari pakaian kita setelah diproduksi, yang akan luntur ketika dicuci, juga memegang peran. Jika digabungkan, di seluruh dunia, lebih dari setengah triliun galon air bersih dikorbankan setiap tahunnya untuk industri tekstil. Air yang tercemar ini sering kali dibiarkan sampai ke sungai, bahkan ke laut lepas, yang pada akhirnya menyebar ke perairan global. Tiongkok melepaskan 40% dari bahan kimia ini menurut laporan dari Yale Environment 360.

Teknologi baru, seperti waterless dye, telah dikembangkan, namun belum populer digunakan oleh sebagian besar pabrik pakaian. Industri tekstil, yang telah mengeksploitasi jumlah penggunaan air untuk mewarnai garmen selama beberapa dekade mungkin merasa sedikit enggan untuk menganut perubahan ini. Lagi pula, teknologi baru ini memakan biaya dalam installment-nya dan hanya bekerja pada beberapa jenis kain. Siapa sangka hal kecil yang merupakan faktor esensial bagi industri ini rupanya bisa mengakibatkan perkara yang sangat besar saat ini dan bagi masa depan?

Perubahan sesungguhnya bagi industri ini hanya akan tiba bila merk-merk besar dengan harga terjangkau di dunia menemukan cara untuk menjual dan memproduksi sustainable clothing. Para konsumen dapat membantu perubahan ini dengan cara memperhatikan di mana mereka berbelanja dan apa yang mereka beli. Dengan angka-angka di atas, pikirkan persentase yang dapat kita tekan bila kita berbelanja dan mengonsumsi dengan bijak. After all, the harmony between the environment, society, and economy is all that we seek with this sustainability movement. This planet is home not only to us, but also to the living beings in the future. Who agrees that the ultimate luxury is when we can come home without having to worry about our future? The choice is in our hand.

 

 

Baca juga tentang circular fashion di sini.