A Proposal to ‘Make Fashion Circular’

Fashion adalah industri yang mengutamakan keindahan, namun apa jadinya bila keindahan yang diciptakan industri ini menjadi bahaya bagi industri lain?

 

Seorang mantan pelayar mengajukan sebuah ide terhadap industri fashion sebagai industri yang paling konsumtif. Kaitannya sangat sederhana, sebagai pelayar tercepat yang telah mengarungi laut dunia dalam waktu hanya 71 hari, dengan sumber daya minim, Ellen MacArthur DBE sadar akan pengaruh penggunaan yang boros, yang terjadi di seluruh dunia selama ini.

 

The Start of A Circular Cycle

Berapa kali Anda menggunakan pakaian di lemari Anda sebelum akhirnya disumbangkan atau dibuang begitu saja? Pertanyaan ini mendasari keputusan Ellen untuk menyuarakan pengajuannya kepada industri fashion agar lebih memikirkan behaviour para client-nya.

Sebelum ia berlayar mengelilingi dunia menggunakan perahu B&Q rancangan si legendaris Nigel Irens, Ellen berlatih sangat keras untuk mencapai kondisi fisik prima. Tidak hanya itu, ia juga harus memperhitungkan jumlah produk dan pakaian yang akan ia bawa dengan sangat saksama karena hal ini berpengaruh besar terhadap kecepatan laju layarnya.

 

“Saat Anda berada di atas sebuah perahu, 2,500 mil jauhnya dari kota terdekat dan apa yang Anda punya dalam perahu itu adalah semua yang Anda punya, Anda akan mengerti arti sebenarnya dari terbatas.”

– Ellen MacArthur, DME

 

Ellen sadar bahwa perahu itu tidak jauh berbeda dengan ekonomi global. Setelah memutuskan pensiun dari pelayaran, ia segera mendirikan “Ellen MacArthur Foundation”, sebuah foundation yang berfokus untuk membelokkan kegiatan ekonomi global dari linear menjadi sirkular. Salah satu sistem inisiatifnya adalah membuat siklus baru dalam industri mode. Sistem inisiatif “Make Fashion Circular” mendorong kolaborasi antar pemimpin industri dan barisan teratas bisnis untuk merancang ekonomi tekstil yang sesuai bagi gaya hidup di abad ke-21.

Sistem ini juga berambisi untuk memastikan bahwa pakaian yang beredar di masyarakat dibuat dari bahan-bahan yang aman dan dapat didaur ulang, selain itu juga untuk menciptakan model bisnis yang bisa mengoptimalkan pemakaiannya sehingga sandang dapat terus diolah menjadi barang baru secara kontinual. Jika ini berhasil dikembangkan, industri tekstil akan menguntungkan tidak hanya dari segi bisnis tetapi juga lingkungan.

 

The Discussion

Menurut laporan yang dikeluarkan Ellen MacArthur Foundation tahun lalu, hanya ada kurang dari satu persen materi yang digunakan untuk membuat pakaian didaur ulang. Faktanya, 73 persen garmen berakhir di TPA atau dibakar setiap tahunnya. Namun begitu, seiring berkembangnya industri ini, produksi sandang telah bertambah dua kali lipat dalam 15 tahun terakhir, dan lebih dari setengah barang-barang ‘fast fashion’ dibuang begitu saja dalam kurun waktu kurang dari setahun.

Lalu, bagaimana sebuah industri yang bertanggung jawab bereaksi terhadap hal ini? Bagaimana kita bisa mengubah aksi kita guna menciptakan lingkungan yang lebih sehat tanpa melepaskan produktivitas yang telah dipertahankan selama ini?

Jika sebagai konsumen kita dapat menjual kembali produk yang sama, atau menyajikannya sebagai sebuah layanan (membuka usaha yang melibatkan produk-produk yang kita miliki), atau merombaknya menjadi benda lain dengan tetap memikirkan nilai kreatifnya, maka kita membangun sebuah sistem yang dapat beroperasi dalam waktu yang lama.

Ellen MacArthur sadar meski bumi yang kita tinggali merupakan lahan yang sangat besar, tetap saja jenis sumber daya yang akan bertahan selamanya berjumlah nol. Metal, polimer, pohon, hewan, minyak bumi, bahkan gas alam dan semua hal yang menafkahi ekonomi global manusia, tidak ada yang akan bertahan selamanya.

 

 

Its Impact in the Future

Sering kali, jika kita mencari pemecahan masalah ini, solusinya selalu mengarah ke pengurangan penggunaan. Tetapi solusi ini bisa jadi akan menghasilkan dampak besar di masa depan. Mengurangi pemakaian artinya tetap mengambil sumber daya terbatas yang kita miliki. Bagaimana bila sumber daya yang kita miliki saat ini, yang beredar dan digunakan sekarang, merupakan satu-satunya yang bisa dikonsumsi selamanya? Tentu saja jika Anda punya bahan-bahan terbatas, Anda akan sangat berhati-hati menggunakannya.

Burberry, Stella McCartney, H&M, Gap Inc., hingga Nike merupakan sebagian dari perusahaan yang telah mendukung ide besar ini. Para perusahaan ini siap memberikan solusi yang diperlukan untuk menghasilkan perubahan dan mencari titik temu terhadap kebutuhan masyarakat, serta menyampaikan isu-isu yang menjadi penyebab utama industri mode sebagai salah satu industri terboros dan paling menghasilkan polusi.

Perwakilan dari H&M pernah mengatakan bahwa tidak ada satu pun perusahaan yang dapat memecahkan masalah pergantian siklus model bisnis, dari linear menjadi sirkular, secara independen. Inilah mengapa gerakan kolaboratif sangat diperlukan. Menyangkut hal tersebut, Kering, sebagai satu dari segelintir perusahaan yang menguasai panggung mode dunia, juga turut menjadi partisipan dalam mendukung kampanye Ellen.

Secara tidak langsung, para rumah mode memegang tanggung jawab besar terhadap peredaran produk yang mereka jual, karena nyatanya kelangsungan bumi yang kita tinggali turut bergantung pada hal tersebut. Retail lifestyle besar Inggris, John Lewis, telah menggungakan layanan berbasis aplikasi untuk mengumpulkan baju-baju yang telah dibeli konsumennya dan menukarnya dengan uang.

Jika masyarakat tidak mengontrol perilaku konsumtifnya, bisa jadi bumi yang kita tinggali tidak akan mampu menyediakan tempat nyaman bagi generasi-generasi berikutnya. Ada banyak hal baik yang terjadi dalam industri mode dunia, yang diperlukan sekarang adalah ambisi untuk membuatnya lebih ramah terhadap bumi.

 

Comments are closed here.