The Roots of Helen Cammock’s Art for Max Mara Art Prize

Dengan ide yang brilian, Helen Cammock dinobatkan sebagai pemenang ajang ‘Max Mara Art Prize for Women’ (MMAP) ke-7. Sebagai seorang seniman di Eropa, ia mengerti betul sulitnya menciptakan karya saat harus memikirkan kelangsungan hidupnya dari segi ekonomis. TEC berkesempatan untuk mewawancara seniman perempuan ini mengenai visi, misi, dan perjalanannya. Melalui lima pertanyaan kami, Helen menjabarkan dengan sangat detil tentang setiap gagasan yang ia miliki dalam proyek ini.

 

Bisakah Anda ceritakan sedikit tentang karya-karya Anda?

Saya berkarya melalui moving image, fotografi, tulisan, puisi, kata-kata lisan, lagu, pertunjukan langsung, printmaking, dan juga instalasi. Saya tertarik dengan sejarah, cerita, dan mencari tahu tentang pendapat yang hilang, tak terdengar, atau terkubur. Saya menggunakan tulisan saya sendiri, literatur, puisi, teks filosofis atau jenis teks lainnya yang ditemukan, bahkan sering juga menghubungkan karya saya ke dalam situasi sosial dan politik.

Sebagian karya saya terinspirasi dari Nina Simone, Philip Larkin, James Baldwin, Maya Angelou, Walter Benjamin, dan beberapa nama lainnya, karena saya senang mengeksplor gagasan kepengarangan – ada istilah yang saya ciptakan, “the audible fingerprint” (sidik jari – atau ciri khas – yang terdengar), yang bagi saya berarti mengumpulkan beberapa jenis opini ke dalam satu opini personal, namun juga berarti gagasan dari para opini yang berbeda yang menyuarakan opini yang sama dalam arti berbeda ketika ini terjadi, serta perbedaan makna ketika saya berpindah dari bicara ke bernyanyi, dan sebaliknya.

Teks yang saya tulis umumnya akan mengarahkan medium yang saya butuhkan, seperti misalnya performa langsung atau moving image. Ini memberikan mereka celah untuk berpaling dari privat atau kolektif.

 

“Saya ingin fokus pada bagaimana emosi diekspresikan dalam budaya dan pergaulan Italia, dengan memusatkan perhatian terhadap opera, musik klasik dan folk, seni, puisi, tulisan, dan tari.”

 

Proposal ide yang mengantarkan Anda menang dalam ajang ini berfokus pada ekspresi ratapan (lament). Apa gagasan di balik proposal ini?

Fokus utama dari proposal saya adalah eksplorasi pendapat perempuan dalam budaya Italia. Aspek berbeda dari suara perempuan menarik bagi saya, dan ekspresi ratapan merupakan salah satunya. Ia merefleksikan sebuah unsur sentral dalam karya saya; peran dari pendapat itu sendiri serta perasaan duka atau kehilangan, dalam politik dan sejarah, individual dan kolektif. Saya ingin fokus pada bagaimana emosi diekspresikan dalam budaya dan pergaulan Italia, dengan memusatkan perhatian terhadap opera, musik klasik dan folk, seni, puisi, tulisan, dan tari.

Saya akan menelusuri suara-suara perempuan yang tersembunyi sepanjang sejarah Italia, dengan tujuan berkreasi melalui kolase, layering, dan sejumlah ratapan kolektif yang reflektif terhadap era sekarang. Saya rasa saya mengerti dan tertarik dengan puisi dan musik dari ratapan, tetapi juga silsilah personal, generasional, dan historis dari ratapan dan kesedihan, keinginan dan rasa kehilangan sebagai perempuan kulit hitam. Namun saya tahu bahwa rasa sedih tidak dimiliki pengalaman saya – itu merupakan sesuatu yang kerap diabaikan atau dirusak sebagai bagian dari dunia sejarah; dan tentu saja ia biasanya hadir dalam cerita mengenai konflik dan perpindahan dan kisah para refugee.

Ini adalah siklus kerusakan dan kehilangan yang benar-benar universal, historis, dan kontemporer, namun ini juga merupakan bagian dari keseharian semua orang dalam momen-momen tertentu atau kondisi berkepanjangan atau bahkan seumur hidup. Tapi bagi komunitas tertentu, pengalaman ini menandakan eksistensi kontinual mereka melalui permadani personal, psikologis, dan pemahaman sosial yang kompleks. Dan saya tertarik dengan topik ini, untuk mengekspos ini, membongkar ini, dan mengajak orang untuk menyaksikan ini.

Ratapan itu konstan, ia tidak pernah meninggalkan dunia. Siklus dan manifestasinya adalah bagian dari pengalaman yang terus-menerus, dan bagi saya ini sangat bersifat merusak bagi kondisi kejiwaan dan berefek terhadap komunitas tertentu secara luas dan mendalam. Jadi, sisi matriks struktural, politis, sosial, individual, dan psikologis dari ratapan lah yang membuat saya tertarik.

 

Lalu, apa yang akan Anda lakukan di Italia sebagai bagian dari hadiah residensi Anda?

Saya akan mengunjungi kota-kota dengan fokus berbeda di setiap tempat. Saya akan mengambil pelajaran bernyanyi di beberapa tempat, dimulai dari Bologna. Ini untuk memastikan saya mengembangkan performa dari opera ratapan abad ke-17. Saya punya gagasan untuk menelusuri cerita ratapan sepanjang proyek saya di Italia – lebih spesifiknya, mendengarkan suara perempuan. Saya akan menyebrangi abad dan tempat kejadian dalam latar, suara, dan medium yang berbeda-beda. Jadi, saya akan melakukan riset historis di beberapa institusi di Bologna, Roma, dan Venice; bertemu dengan akademisi, musisi, dan komunitas-komunitas sebagai bagian dari riset saya.

Saya akan mengembangkan kemampuan saya sebagai printmaker di Roma, saya akan bertemu komunitas yang berbeda-beda di Palermo dan Reggio Emilia – beberapa di antaranya tinggal di perbatasan untuk alasan yang variatif. Saya akan mendiskusikan tentang ratapan yang sering kali merupakan bagian dari pengalaman tinggal di perbatasan. Tetapi ini bukan hanya tentang mencari kesedihan, saya juga mencari kekuatan dan kegembiraan dalam kesedihan itu sendiri, dan sepertinya hal ini yang menarik saya belakangan ini dalam berkarya – mengakui banyak sekali elemen dari ratapan.

 

“Ratapan itu konstan, ia tidak pernah meninggalkan dunia. Siklus dan manifestasinya adalah bagian dari pengalaman yang terus-menerus, dan bagi saya ini sangat bersifat merusak bagi kondisi kejiwaan dan berefek terhadap komunitas tertentu secara luas dan mendalam.”

 

Bagi Anda, seberapa penting peran penghargaan yang dispesifikasi bagi perempuan di Eropa?

Menurut saya ini bukan hanya tentang Eropa, ini tentang seluruh dunia. Guerilla Girls mengadakan sebuah pertunjukan di Whitechapel Gallery tahun lalu yang menunjukkan ketidakseimbangan yang mengejutkan antara perempuan dan laki-laki dalam koleksi publik, representasi galeri dan pemberian harga dalam lelang – bahkan faktanya, di mana-mana kecuali dalam demografis sekolah seni. Hal ini menyampaikan bahwa sesuatu benar-benar jauh diberatkan dari segi dukungan dan pengakuan bagi seniman perempuan ketika mereka meninggalkan sekolah.

Maka penghargaan ini berpikir untuk memulihkan kesenjangan besar ini dengan menawarkan kesempatan pada para seniman perempuan yang sedang berkembang untuk berkonsentrasi secara penuh dalam berkarya di titik terpenting dalam karier mereka. Mungkin saja ini merupakan aspek paling signifikan dalam penghargaan ini.

Saya terbiasa melakukan pekerjaan (seperti banyak seniman lainnya), menyeimbangkan proyek, komisi, mengajar, dan pekerjaan berbayar lainnya, dan untuk bisa menyisihkan waktu – tanpa terganggu – untuk duduk dan memproses ide-ide saya adalah kemewahan yang langka. Jadi, karena penghargaan ini mendukung ‘proses membuat’ dan ‘menunjukan’ karya baru dalam pameran institusional solo, ini juga merupakan hal yang langka, dipertimbangkan, dan struktur tak ternilai harganya.

Tentu saja ada pergeseran dalam politik gender yang mungkin berarti cara penghargaan ini bekerja dapat berubah di masa depan, siapa tahu, tapi tidak ada keraguan dalam benak saya bahwa penghargaan ini sangat penting keberadaannya.

 

Dari sudut pandang Anda, bagaimana progres MMAP dalam membantu perempuan dalam industri seni sejak pertama kali ia muncul di tahun 2005?

Sangat jelas bagi saya bahwa setiap seniman yang telah dianugrahi penghargaan ini telah diberikan keuntungan, dari waktu yang didukung serta pembuatan karya. MMAP juga merupakan sebuah penghargaan yang dipertimbangkan dengan baik, teradministrasi dengan baik, dan juga dinilai dengan baik. Ini artinya penghargaan ini juga dihormati dengan baik. Dua dari enam seniman yang menang sebelum saya, Andrea Buttner dan Laure Prouvost, telah dinominasikan dalam Turner Prize – Laure benar-benar memenangkan penghargaan ini untuk karyanya bagi MMAP di Whitechapel Gallery.

Jadi, MMAP merupakan jenis penghargaan yang menyanggupkan seorang seniman untuk membuat sebuah badan karya yang baru, dengan dukungan, tetapi juga menawarkan platform profesional yang dihormati untuk mereka memperlihatkan karya baru mereka ini.