The Lack of Black in Fashion

What are the reasons? Why does it matter?

 

Berbanding terbalik dengan Dolce & Gabbana yang lamban mengambil tindak permintaan maaf atas kasus rasisme terhadap etnis Tiongkok pada beberapa waktu lalu – bahkan awalnya mereka bersikap defensif serta penuh drama – Gucci secara sigap merespon insiden kreasi turtleneck ala balaclava yang menyerupai wajah orang kulit hitam (menurut creative director Alessandro Michele sesungguhnya karya itu merupakan tribute untuk performance artist Leigh Bowery). Selain langsung merilis surat permohonan maaf secara resmi dan mencabut produk terkait dari pasaran, Gucci yang diwakili oleh CEO Marco Bizzarri pun intens dan terbuka membahas isu ini di hadapan khalayak umum. “We apologized because of this mistake, because of this ignorance,” ucapnya kala mengisi Marvin Traub Lecture di The New School’s Parsons School of Design New York, 13 Februari 2019.

Lebih dari itu, sebagai perwujudan komitmen atas keberagaman, brand bentukan Guccio Gucci tersebut juga tengah menggarap program beasiswa untuk New York, Beijing, Tokyo, Seoul, dan Nairobi di mana nantinya penerima beasiswa akan bekerja untuk Gucci sehingga diversitas workplace meningkat. Memang ironis melihat peristiwa yang menimpa Gucci ini terjadi kala satu negara, yakni Amerika, tengah melangsungkan Black History Month sepanjang Februari. Sensitivitas terhadap keberagaman, rasisme, dan diskriminasi terhadap warga kulit hitam maupun kelompok minoritas lain masih menjadi problem krusial dunia fashion. Akhir tahun lalu, Prada menjadi merk Italia lain yang meminta maaf sekaligus menarik produk gantungan kunci terkait blackface imagery.

Perkara-perkara industri rancang busana yang menyinggung martabat orang kulit hitam mungkin bisa lebih diminimalkan seandainya ruang-ruang kreatif pada segenap fashion brand maupun fashion realm secara umum memiliki representasi kulit hitam yang cukup untuk menyuarakan perspektifnya. Pertanyaannya: mengapa hingga saat ini begitu sedikit insan kreatif kulit hitam yang bereksistensi di bentang mode internasional?

 

 

Sparkling Black
Persoalan minimnya jumlah desainer kulit hitam merupakan bagian dari sejarah yang terjalin sejak lama. Malangnya lagi, kuantitas terbatas itu pun terabaikan dalam narasi perjalanan fashion. Jika diminta untuk menyebut nama desainer kulit hitam di lembar historis mode, figur “senior” yang terbersit di benak banyak orang mungkin hanyalah Olivier Rousteing yang sejak tahun 2011 menjadi creative director Balmain. Black fashion designers yang berkarya di era-era sebelumnya seolah tak pernah ada walau sesungguhnya mereka menuai kesuksesan karier bahkan berkontribusi pada realitas fashion.

Di Amerika, satu contoh upaya untuk mengangkat cerita mengenai kiprah perancang kulit hitam hadir dalam bentuk pameran yang diselenggarakan The Museum at Fashion Institute of Technology pada Desember 2016 hingga Mei 2017 silam. Berjudul “Black Fashion Designers”, eksibisi yang juga diisi dengan simposium itu mengeksplorasi sumbangsih masyarakat kulit hitam terhadap dunia fashion sejak dahulu sampai masa sekarang. Pameran tersebut memaparkan perihal fenomena sosial tahun 1800-an yang mana tenaga kerja kulit hitam (baik budak maupun non-budak) bekerja sebagai dressmakers. Hampir tidak ada orang kulit hitam yang mampu membangun tangga karier saat itu, kecuali seorang dressmaker bernama Elizabeth Keckley. Mantan budak yang ditebus bebas seharga 1.200 dollar tersebut membangun karier di Washington D.C. hingga dipilih sebagai private dressmaker Mary Todd Lincoln, istri presiden Abraham Lincoln pada tahun 1861.

Black dressmaker pada abad berikutnya berpindah ke kota-kota besar dan merintis usaha mode dengan sistem made-to-order. Era ini menjadi gerbang transisi di mana pelaku-pelaku kreatif fashion berkulit hitam muncul dan diakui sebagai fashion designers. Jelas hal ini merupakan bagian tak terpisahkan dari perjuangan sosial yang berlangsung selama bertahun-tahun bagi kesetaraan terhadap black people. Ann Lowe mengalami langsung bagaimana diskriminasi menjadi latar perjalanan kariernya. Saat belajar di S.T. Taylor Design School di New York City pada tahun 1917, ia diharuskan mengikuti pelajaran di kelas terpisah karena kebijakan segregasi yang berlaku saat itu. Jerih payahnya membuahkan hasil. Pada tahun 1928 karya-karyanya bisa dijumpai di upscale department stores selevel Neiman Marcus dan Saks Fifth Avenue. Klien-kliennya adalah high society. Ia merancang untuk keluarga Rockefellers hingga mendesain gaun pernikahan Jacqueline Bouvier dengan John F. Kennedy pada tahun 1953 yang saat itu masih menjabat sebagai senator.

 

 

Pasca Civil Rights Movement di Amerika, kesempatan bagi perancang mode kulit hitam semakin terbuka kala memasuki dekade 1970-an. Salah satu desainer yang menjadi sorotan adalah Stephen Burrows. Merupakan alumni Fashion Institute of Technology dan pernah bekerja sama dengan Andy Warhol, Burrows berperan serta dalam mengukuhkan posisi Amerika sebagai pemain penting industri mode internasional yang tak kalah dengan Prancis. Bersama dengan rekan seprofesi yakni Oscar de la Renta, Halston, Bill Blass, dan Anne Klein, Burrows memukau tetamu undangan lewat koleksinya di sebuah event tahun 1973 yang dijuluki The Battle of Versailles. Pada “pertarungan” dengan ikon-ikon fashion Prancis seperti Yves Saint Laurent, Marc Bohan dari Christian Dior, Hubert de Givenchy, Pierre Cardin, dan Emanuel Ungaro itu, desainer-desainer Amerika berhasil menunjukkan kualitas rancangan yang tinggi dengan nafas segar. Perhelatan ini pula yang turut mengangkat keberadaan model-model kulit hitam di industri fashion. Para model kulit hitam dari tim Amerika merupakan bagian integral dari “kemenangan” Negeri Paman Sam pada acara itu.

Setelah Burrows – yang daftar kliennya mencakup Farrah Fawcett, Brooke Shields, Barbara Streisand, dan Cher – desainer lain di masa berikutnya yang bersinar adalah Patrick Kelly. Pindah ke Paris pada tahun 1980, Kelly menjadi perancang ternama yang diulas majalah mode sekelas Elle dan dengan klien bintang seperti Grace Jones, Paloma Picasso, hingga Madonna. Pada tahun 1988, Kelly menjadi desainer Amerika pertama yang menjadi anggota Chambre Syndicale du Prêt-à-Porter des Couturiers et des Créateurs de Mode. Di tengah situasi sosial yang semakin akomodatif namun masih jauh dari kata ideal, insan-insan mode berkulit hitam terus memberikan kontribusinya pada realita fashion. Beberapa di antaranya adalah, desainer Inggris keturunan Ghana Ozwald Boateng yang menjadi Creative Director of Menswear di Givenchy pada 2004-2007, pendiri label Hood by Air yakni Shayne Oliver, Carly Cushnie yang adalah co-founder Cushnie et Ochs dan kini menjadi Cushnie, Maxwell Osborne yang bersama Dao-Yi Chow merilis label Public School dan sempat menduduki posisi Creative Director DKNY, Dapper Dan yang berkarya sejak tahun 1980-an dan beberapa tahun lalu berkolaborasi dengan Gucci, Virgil Abloh dengan labelnya Off-White serta merupakan Artistic Director of Menswear di Louis Vuitton sejak 2018, dan Kerby Jean-Raymond founder Pyer Moss.

 

 

Black Matters
Sebagaimana Victoria Beckham yang terjun dari dunia entertainment ke fashion, Kanye West dan Rihanna pun menjajaki dunia mode dan membawa gaung yang terdengar. Berkolaborasi mendesain sneakers dengan berbagai label, seperti Adidas, Nike, hingga Louis Vuitton, maupun dengan clothing line asal Prancis A.P.C., Kanye West juga mengambil langkah untuk meluncurkan sendiri koleksi ready-to-wear. Pada Paris Fashion Week Spring/Summer 2012, nama line-nya adalah Dw by Kanye West yang pada musim berikutnya berganti menjadi Kanye West. Yang fenomenal darinya tentu saja label Yeezy sejak tahun 2015. Balmain merancang secara eksklusif untuk keluarga Kardashian-Jenner yang menghadiri show Yeezy Season 3.

Di sisi lain, ada Rihanna yang memiliki fashion portfolio cukup panjang. Tampil di campaign berbagai brand, juga film pendek Dior “Secret Garden IV” dan merancang sunglasses untuk rumah mode itu, Rihanna memasuki jalur desain mode lewat kerjasama dengan British high street brand River Island pada 2013. Kolaborasi Rihanna dan Puma melalui Fenty x Puma di New York Fashion Week dan Paris Fashion Week menjadi buah bibir seantero jagad mode. Salah satunya adalah tentang aksi motocross di show-nya. Tak berhenti di sini, gebrakan lain Rihanna dalam meluncurkan koleksi makeup Fenty Beauty dengan 40 shades berbeda menuai apresiasi positif lantaran dinilai mengakomodasi keberagaman. Sama halnya dengan lingerie brand Savage x Fenty yang menyuguhkan bra ukuran 32A-44DDD. Belum lama ini, Women’s Wear Daily mengeluarkan artikel tentang secret talk antara Rihanna dan LVMH untuk merilis label di bawah namanya. Pencapaian Rihanna dan Kanye West tentu mensyaratkan komitmen kuat dan usaha serius. Akan tetapi, tak dapat dipungkiri pula bahwa kapital besar – juga nama besar – yang mereka miliki punya andil signifikan dalam membangun eksistensi di fashion industry.

Aspek finansial ini menjadi isu krusial dalam diskusi mengenai kurangnya black fashion designer. Kepada Nylon pada awal 2018 lalu, desainer asal Haiti yang kemudian menetap di Amerika Azede Jean-Pierre menyatakan bahwa uang menjadi satu problem besar bagi umumnya black people yang bercita-cita menjadi desainer. “To start a fashion design business, you have to come from some kind of money or you have to find access to it—that’s a huge barrier to entry,” ucap perancang yang namanya masuk ke daftar Forbes 30 under 30 pada tahun 2016 dan telah mendesain untuk Michelle Obama, Naomi Campbell, dan Lady Gaga. Dengan perspektif serupa, Brandice Daniel mendirikan Harlem’s Fashion Row pada tahun 2007 di mana tujuannya adalah mengupayakan emerging designers of colours mendapat kesempatan luas dalam mengembangkan bisnis. Yang terbaru pada tahun ini, Harlem’s Fashion Row bersama IMG (penyelenggara New York Fashion Week), meluncurkan program mentorship bagi designers of colour. Dampak faktor ekonomi bagi pengembangan karier perancang mode kulit hitam bukan hanya terasa saat akan memulai label, tapi juga semenjak seseorang berencana untuk mengambil studi fashion design.

 

“Rintangan ekonomi, akses pendidikan, serta kekeliruan cara pandang keluarga nyatanya hanya sebagian persoalan yang menyulitkan talenta-talenta kulit hitam untuk menempuh perjalanan karier mode.”

 

Artikel online Dazed berjudul “Why aren’t there more black fashion designers?” menyuguhkan kegundahan Patrick Lee Yow dan Berni Yates selaku praktisi akademis Central Saint Martins perihal jumlah mahasiswa kulit hitam di institusi tersebut. Meski data di artikel itu menyebut bahwa terdapat 43% mahasiswa BAME (Black, Asian, and Minority Ethnic) di Central Saint Martins, yang kemudian disangsikan adalah jumlah mahasiswa kulit hitam yang berlatar belakang golongan less economically privileged. Bagi Samuel Ross, desainer kulit hitam asal Inggris yang meraih penghargaan British Emerging Menswear Designer di The Fashion Awards 2018, hal lain yang juga menjadi penghambat orang kulit hitam berkarier di industri mode maupun bidang kreatif lain adalah cara pandang keliru yang umumnya tertanam di benak banyak keluarga kulit hitam. Menurutnya, black parents kerap melihat bahwa karier di bidang artistik tak bisa membawa makanan ke meja. Fenomena sosial semacam ini rupanya terus bertahan sejak lampau. Mengutip sebuah artikel yang diterbitkan Complex, black designer Scott Barrie yang tenar di Amerika pada tahun ‘70-an suatu kali bercerita bahwa ibunya dulu memberi peringatan tentang impiannya di dunia fashion dengan mengatakan “Blacks don’t make it there.”

Rintangan ekonomi, akses pendidikan, serta kekeliruan cara pandang keluarga nyatanya hanya sebagian persoalan yang menyulitkan talenta-talenta kulit hitam untuk menempuh perjalanan karier mode. Satu hal lain yang menjadi tantangan adalah cara fashion society sendiri dalam memandang karya-karya dari desainer kulit hitam. Dalam interview bersama Nylon pada awal 2017, Telfar Clemens desainer Amerika berdarah Liberia mengatakan, “The fashion industry basically wants you to play a character of a black designer, instead of just accepting you for what you are.” Sepengamatannya, black designer kerap langsung dicap sebagai streetwear designer; cap yang terdengar keren namun menurutnya bernuansa minim kredibilitas artistik. Sebagai sebuah realita sosial-budaya, permasalahan minimnya jumlah black fashion designer mungkin memiliki dimensi-dimensi lain yang lebih kompleks. Diperlukan riset dan analisis yang mendalam untuk dapat melihat secara lebih komprehensif permasalahan tersebut. Upaya penangannannya pun akan melibatkan bidang-bidang selain fashion, baik itu kebijakan ekonomi dan politik, gerakan sosial, aksi di dunia edukasi, dan lain sebagainya. Yang kemudian tak boleh lupa dibahas adalah apa pentingnya memiliki representasi kulit hitam yang cukup di industri fashion?

 

 

Peristiwa-peristiwa yang mencerminkan insensitivitas pada isu rasisme di panggung rancang busana tampak menjadi alasan valid bagi urgensi memiliki lebih banyak keberagaman dalam dunia fashion design. Meski tak semua dan tak tiap saat black designer mengolah isu diskriminasi dan rasisme pada koleksi maupun fashion show-nya – sebagaimana pemenang CFDA-Vogue Fashion Fund 2018 Kerby Jean-Raymond memutar film dokumenter tentang insiden kebrutalan polisi Amerika pada warga kulit hitam di catwalk Pyer Moss Spring/Summer 2016 – representasi yang cukup dari black designer di dunia fashion akan menstimulasi dan mengelaborasi percakapan perihal keberagaman yang diharapkan akan mengubah kondisi industri mode ke arah yang lebih baik. Selain itu, aspek estetika desain pun akan lebih kaya melalui beragamnya latar belakang perancang fashion. Satu inisiatif terbaru yang turut merawat asa bagi perbaikan isu keberagaman di lansekap mode adalah Black Design Collective.

Seperti dilaporkan The Independent, organisasi yang dibentuk pada Desember 2018 oleh desainer Angela Dean, Kevan Hall, T.J. Walker, dan Ruth Carter ini bertujuan untuk secara strategis membantu black designers dalam hal mencari sumber pendanaan, sumber daya, produksi, serta jaringan. Berbasis di Los Angeles, Black Design Collective yang salah satu anggotanya adalah Kerby Jean-Raymond berencana untuk mengadakan scholarship fund untuk membantu desainer muda, baik untuk meluncurkan label maupun untuk menempuh pendidikan tinggi. Tak hanya itu, organisasi non-profit ini pun akan menyediakan dukungan bagi mereka yang ingin mencari kerja, seperti meningkatkan interview skills dan menulis CV. Black Design Collective juga akan berusaha membuat online dan physical store untuk membantu para anggotanya memasarkan koleksi.