Finished in 30-year-old Matusalem Oloroso sherry casks.
The Dalmore earned its royal connection through a heroic act: saving the life of King Alexander III of Scotland from the fury of a charging stag. Oleh karenanya, 12-point Royal Stag diberikan oleh sang raja sebagai hadiah dan telah menghias botol-botol The Dalmore hingga kini. Aksi heroik tersebut dilakukan pada tahun 1263 oleh Colin of Kintail, chieftain pertama dari Clan Mackenzie – jauh sebelum negara Inggris terbentuk. Berabad kemudian, peristiwa itu diilustrasikan dalam sebuah lukisan karya Benjamin West atas permintaan Francis Humberston Mackenzie yang menjadi chieftain pada tahun 1783.
Klan Mackenzie punya peran kunci dalam sejarah The Dalmore. Pada tahun 1891, Andrew dan Charles anggota klan tersebut mengambil alih penyulingan Dalmore milik Matheson yang didirikan pada tahun 1839. Saat alih kepemilikan inilah, 12-point Royal Stag disematkan di botol The Dalmore sebagai perlambang kualitas sekaligus identitas. Dua bersaudara itu dikenal handal membuat fine whisky. Di tangan mereka, distillery Dalmore mengaplikasikan teknik produksi baru yang melibatkan proses maturasi nan kompleks.
Pada tahun 1960, Whyte & Mackay mengakuisisi The Dalmore dan Richard Paterson menjadi Master Distiller di Dalmore di tahun 1975. Estafet dari jabatan itu berpindah tangan ke Gregg Glass pada tahun 2021, yang hingga kini terus menjaga the art of cask maturation untuk menghasilkan karakter The Dalmore yang elegan dan distingtif. Metode tersebut didasarkan pada the art of cask curation yang dibangun oleh Richard Paterson. Bersama dengan Richard Paterson, Master Whisky Maker Gregg Glass (pemenang Master Distiller of the Year 2023 at the Global Icons of Whisky Awards 2023) terus mengkombinasikan tradisi dan ide-ide baru untuk menghasilkan whisky berkualitas.
Selama lebih dari 180 tahun perjalanannya, The Dalmore telah menjadi expert dari multi-cask maturation dalam pembuatan whisky. Untuk proses maturasi dari produknya, The Dalmore melakukan hand-selection terhadap casks dari bodegas dan wineries terbaik di dunia. The Editors Club merasakan langsung bagaimana taste dari hasil proses tersebut tampil begitu elegan dan delectable. Lewat sebuah luncheon di Tom’s by Tom Aikens, The Langham Jakarta, The Dalmore 18 resmi diperkenalkan di Indonesia. It was served with the main course, Charcoaled Wagyu Tenderloin MB4 and fondant potatoes, and they went really well together.
Sensasi citrus berpadu hint cokelat dan sapuan spice tampil bold pada The Dalmore 18. Bahkan dalam cita rasa yang cukup strong ini, elegansi The Dalmore yang understated tetap hadir. Dirilis perdana pada tahun 2009, dan merupakan annual limited release, The Dalmore 18 disebut sebagai “epitome of our house style” oleh Master Wshiky Maker Gregg Glass. Lini ini mengalami maturasi tahap pertama di American white oak ex-bourbon casks dan selanjutnya melewati finishing dalam 30-year-old Matusalem Oloroso sherry casks nan langka. The Dalmore memegang hak eksklusif untuk menggunakan cask langka tersebut.
“Indonesia’s appreciation for fine spirits is rising rapidly, and we are proud to introduce The Dalmore 18 to a market that truly values craftsmanship and heritage,” ungkap George Schulze, The Dalmore Resident Whisky Expert for Asia. Selain varian 18 Years, kami pun mencoba The Dalmore 12, 15, dan King Alexander III. Everything is delivered with the distinctively poised charm of The Dalmore.