Discovering Balinese wisdom in the beautiful Saka Museum.
Music is the space between the notes. Siapa sesungguhnya sumber asli dari perkataan tersebut masih diperdebatkan hingga kini. Banyak yang percaya ialah komposer klasik Claude Debussy yang mengatakannya. Ekspresi sastrawi tersebut menyatakan bahwa momen jeda atau sunyi antar nada adalah kesatuan esensial yang memungkinkan keutuhan harmonis dari sebuah komposisi musik.
Dalam adat istiadat Bali sejak ribuan tahun lalu, jeda dan sunyi bahkan dimaknai secara lebih transendental serta mendalam. Nyepi merupakan manifestasi falsafah akan makna hening bagi spiritualitas semesta dan segala makhluk di dalamnya, termasuk kehidupan manusia. Momen tersebut adalah satu mata rantai penting bagi keselarasan orkestra alam. Sepanjang tahun, dinamika musim hingga aktivitas semai-tuai dalam kultur agraria warga saling berkelindan dengan Nyepi sebagai satu fase substansial. Ini yang kami pahami saat beberapa waktu lalu diundang ke Museum Saka di Ayana Bali untuk merayakan terlengkapinya empat eksibisi di destinasi eduwisata tersebut dalam malam selebrasi bertajuk “Lila Cita Sukaning Manah”.
Tri Hita Karana, 5 Elemen Semesta, Satu Siklus Saka
“Coordinate with your neighbor and plant your seedlings at the same time,” demikian instruksi dari pak petani virtual saat kami bermain sebuah simulator Subak nan besar di section “Subak: The Ancient Order of Bali” pada Museum Saka. Game interaktif ini meminta pemain untuk bisa menyelesaikan kegiatan bercocok tanam hingga mencapai hasil panen memuaskan. Sembari bermain di sawah terasering digital, staf museum dengan sangat fasih menjelaskan kepada kami perihal sistem Subak dalam budaya pertanian masyarakat Bali.

Subak adalah sebuah pengorganisasian irigasi atau pengairan sawah yang melibatkan musyawarah warga dalam menentukan bagaimana air dibagi adil, kapan para petani menanam bersama, apa yang perlu dilakukan bila ada masalah seperti hama, dan sebagainya. Tiap Subak dikomposisi oleh puluhan atau ratusan petani di suatu wilayah yang bahu membahu untuk kesuksesan pertanian. Ketika ada satu yang culas, misalnya curi start untuk area sawahnya sendiri, risikonya bisa fatal untuk semua pihak. Hal tersebut dikarenakan setiap aspek pada sistem Subak saling terhubung. Staf museum yang menemani kami menceritakan contoh nyata yang terjadi di desanya.
Gotong royong antara sesama manusia di sistem Subak merupakan cerminan segi Pawongan dari filosofi Tri Hita Karana. Sementara itu, sistem Subak untuk memanfaatkan air secara bijaksana dan menjaga keseimbangan ekosistem di persawahan dan sekitarnya menjadi wujud dari kearifan hubungan manusia dan alam sebagaimana terkandung pada prinsip Palemahan. Semua itu turut diiring oleh ritual-ritual pada berbagai tahapan penanaman sampai panen. Upacara-upacara berkenaan koneksi spiritual manusia dan divine realm itu merupakan bentuk pilar Parahyangan dalam Tri Hita Karana. Komponen ritualistik ini memainkan peran penting bagi konsep kehidupan masyarakat Bali, di mana dunia dimengerti sebagai konstruksi dualitas positivity-negativity (Rwa-Bhineda) yang terus dinamis berinteraksi, dan ritual-ritual spiritual manusia berfungsi layaknya proses fine-tuning atas fluktuasi energi-energi tersebut.
Lihatlah angin yang bisa membantu proses penyerbukan bunga, tapi dapat pula menumbangkan pohon besar. Begitupun air yang akan menyuburkan tanah dalam jumlah tertentu, namun dapat pula mengikisnya saat debit berlebih. Api mampu menghangatkan maupun menghanguskan. Kepercayaan Bali yang kental bercorak Hindu percaya bahwa upacara dan ritual merupakan partisipasi aktif manusia akan posisinya sebagai bagian integral semesta untuk turut dalam interaksi energi dari elemen-elemen natural tersebut. It’s a dialogue of energy in the realm of spirit, for humans are inherently spiritual beings. Tentunya semua itu dilakukan agar keseimbangan tercapai dalam harmoni dengan kehidupan manusia. Di bulan Kesanga dalam penanggalan Saka, pelbagai tahapan ritual dilaksakankan sebagai rangkaian Nyepi yang mempersiapkan diri dan lingkungan untuk sebuah awal baru dari siklus waktu, setelah sekian bulan telah dipenuhi aktivitas dan segala jenis energinya.

Melasti, Tawur Kesanga-Pengerupukan, Nyepi, hingga Ngembak Geni merupakan rangkaian ritual Tahun Baru Saka yang diterjemahkan menjadi ekpresi estetik pada karya-karya di section “Kasanga”; kreasi-kreasi yang tercipta dari perkawinan referensi khasanah tradisi dengan teknik artistik modern. Di antaranya adalah relief Suka Mageng buatan Gurat Institute yang mengadopsi gaya lukis Ubud dengan penggambaran sosok Barong dan Rangda; simbolisasi unsur positif dan negatif semesta yang pada saat Melasti mendapat purifikasi. Proses pemurnian ini sendiri disebut sebagai Sudamala yang mengacu pada cerita sastra Mahabharata versi Nusantara di mana Durga terbebas dari kutukan Siwa berkat purifikasi yang dilakukan Sadewa (anggota termuda Pandawa). Pemurnian diri (Bhuana Alit) dan semesta (Bhuana Agung) dari energi negatif di Melasti kemudian berlanjut pada Tawur Kesanga dan Pengerupukan sehari sebelum Nyepi.
Meliputi kegiatan memberi persembahan caru (terdiri dari makanan-makanan), ritual Tawur Kesanga bertujuan untuk menetralisir Bhuta Kala atau energi-energi negatif di lingkungan maupun tiap pribadi. Simbolisasi akan upaya penetralan tersebut mengambil bentuk riuh arak-arakan ogoh-ogoh saat momen Pengerupukan untuk kemudian dibakar. Di Museum Saka, ogoh-ogoh gigantic Raja Rahwana yang berdiri menjulang setinggi 12 meter – hasil kolaborasi Komang Gede Sentana Putra and Ida Bagus Nyoman Surya Wigenam – menjadi focal point dari sejumlah ogoh-ogoh lainnya. Berganti hari usai pawai ogoh-ogoh rampung, Nyepi sebagai permulaan tahun baru Saka menyelimuti Bali. Api harus padam seraya hasrat diredam, kerja dijeda, semua berdiam di kediaman, jiwa yang telah dimurnikan di pura dijaga dari kontaminasi hura-hura. Kontras situasi Catur Brata tersebut di Hari Nyepi dengan serangkaian ritual dan pawai festive yang mendahuluinya dinarasikan secara sinematik di Auditorium Museum Saka. We love the cinematographic experience that captures the ambience of the rites and parades leading to the Day of Silence, enriched by insightful narration.
Dalam format sedikit berbeda, langit Nyepi malam hari juga kami nikmati pada wahana dome Twilight Journey yang dikembangkan oleh seniman multimedia Wahyudi Chandra and Raden Cahyoko (Kokok). Ribuan tahun lamanya, penduduk lokal Bali menjalani hari dalam siklus yang memuncak pada Nyepi dan dibuka lagi dengan ritual Ngembak Geni keesokannya – sebuah tanda dimulainya kembali aktivitas keseharian. Keseharian itu dipercayai berlangsung pada semesta yang disusun oleh 5 elemen dasar Panca Maha Bhuta, yakni tanah (pertiwi), air (apah), api (teja), angin (bayu), dan ruang (akasa). Pameran “Panca Maha Bhuta: The Five Great Elements” di Heritage Gallery Museum Saka menampilkan artefak keseharian, karya seni, hingga objek sakral dalam perjalanan sejarah peradaban Bali yang diderivasi dari filosofi 5 elemen dasar kehidupan dalam pemaknaan Tri Hita Karana.

Pembelajaran dari Sebuah Jeda
Rasanya sulit sekali menulis dengan pengrupak (iron stylus) di atas lontar – yet so interesting – sebagaimana kami mencobanya di Library dari museum yang dinobatkan sebagai salah satu World’s Greatest Places 2024 oleh TIME Magazine. Sungguh menakjubkan membayangkan orang-orang peradaban lampau mengkompilasi segala pengetahuan dengan metode tersebut, mulai dari ajaran spiritual, ilmu kesehatan, hingga narasi sejarah, bahkan dengan gaya kaligrafi nan estetis. Hal ini mengingatkan kami tentang sosok Dewi Saraswati yang patungnya elok terlihat di lantai atas museum bersama deretan ogoh-ogoh. Sang Dewi Kebijaksanaan, Pengetahuan, dan Seni ini tampak menunggangi angsa putih cantik dengan tangannya memegang alat musik dawai Veena. This statue by I Wayan Arif Masriadi captivated us most with its beauty and symbolism; such a divine feminine power (fun fact: this article is finished at the Day of Saraswati celebrated every 210 days).
Channeling the spirit of the Goddess of Wisdom, we can draw profound life lessons from the exhibition. Jika kita tarik satu pembelajaran bijak dari apa yang disuguhkan oleh destinasi berpredikat World’s Most Beautiful Museums 2025 pemberian Prix Versailles ini, segala ritual yang dilakukan dalam rangkaian Nyepi maupun setelahnya ialah juga tentang proses pembelajaran itu sendiri; sebuah kontinuitas pembelajaran spiritual dalam perjalanan kehidupan, pembelajaran tentang bagaimana spirit manusia perlu dan mampu bertumbuh untuk semakin memancarkan cahaya keilahian. Melalui proses ritualistik Nyepi, kita memahami bahwa spirit manusia membutuhkan jeda spiritual, di mana ia mendapat alokasi momen yang didedikasikan khusus untuk suatu penghayatan reflektif bagi perbaikan diri. A spiritual pause paves the way for spiritual learning and improvement. Bertumbuh lewat jeda guna tak lagi mengulang “dosa” yang sama.
Dalam detail-detail yang berbeda, esensi jeda spiritual dalam praktik religius tampaknya bisa ditemukan di berbagai kepercayaan kuno lainnya. Saat bulan Ramadan di almanak Islam, jeda tampil dalam rupa puasa harian selama sebulan penuh, yang di dalamnya kontrol diri ditekankan dan perbanyakan ibadah dianjurkan. Tradisi sabbatical dalam keimanan Judaisme menjadi bagian sakral dari tiap pekan para Jewish di mana mereka tak boleh melakukan 39 melakoth (jenis aktivitas) pada hari Sabbath sebagai bentuk keterhubungan suci dengan Yahweh sang Esa. Hal ini sangat berbeda dengan pemujaan rasionalitas ala peradaban modern Barat yang membabi buta mengagungkan produktivitas sehingga mengakibatkan diri tereksploitasi dalam waktu dan keringnya spiritualitas.

Seiring waktu, tampaknya masyarakat modern pun mulai memahami betapa pentingnya untuk berhenti sejenak dan memberi ruang bagi penghayatan diri. Advokasi atas work-life balance dan meluasnya penggunaan kosakata seperti “healing” dalam ruang publik menandakan meningkatnya kesadaran akan kebutuhan jeda dari segala kesibukan yang menguras energi. Bila mau belajar dari kearifan spiritual yang telah dipegang oleh para nenek moyang, kita akan memahami bahwa true healing bukan diperoleh dengan pergi ke luar secara lahiriah melainkan menempuh perjalanan ke dalam relung batiniah.
So, is holidaying merely a superficial kind of pause? Surely not. It’s simply a matter of better understanding its role. While refreshment activities such as holidays may pamper the tense mind, it is important to recognise that they serve more as stress-relievers than as spiritual healing. In this regard, our mind has been delightfully refreshed through all the experiences at Ayana Bali.