Refleksi Pemaknaan Rumah dan Spirit Pesiar dalam Pameran Interior ID12

A house of escapism.

 

The essence of interior design will always be about people and how they live,” ucap Albert Hadley, the late American interior designer (1920-2012) dengan klien-klien keluarga tersohor seperti Astor hingga Rockefeller. Ungkapan mendalam ini sangat relevan ketika melihat bagaimana arti rumah dipahami dari masa ke masa. Untuk sekian lama, bagian dalam rumah dirancang di seputar konsep family living maupun kebutuhan domestik. Rumah dipisahkan dari “dunia luar” bukan hanya melalui marka teritorial fisik seperti pintu dan pagar bergaya rumahan, tapi juga lewat aspek-aspek intangible seperti konsep desain ruang-ruang yang secara fungsional maupun psikilogis melayani kepentingan dan cita rasa personal. All had been forced to change when the Covid-19 pandemic hit the world.

Saat fenomena klinis global tersebut melanda, rigiditas akan garis-garis batas konseptual antara rumah dan dunia luar dipatahkan. It’s true that we were pushed to get closer with our family members, but also what truly happened was that we were locked up at home to do all the professional activities – including all those zoom meetings. Sejak saat itu, rumah tak lagi secara tegas diposisikan beroposisi terhadap kehidupan profesional. Kini sebagian orang menginginkan beberapa ruang rumahnya punya sudut yang cukup terlihat profesional untuk bisa digunakan sebagai latar rapat online. Beberapa yang sudah punya ruang kerja tersendiri melakukan upgrade untuk bisa lebih mengakomodasi produktifitas namun tetap terasa homey. Entah itu memilih kursi yang memberi kenyamanan ekstra saat perlu duduk lama di depan komputer atau memindahkan posisi ruang kerja ke area yang lebih dekat taman untuk menciptakan suasana lebih fresh.

Layaknya sebuah sisi lain dari koin yang sama, kebutuhan untuk bisa mendapat nuansa escapism tercipta dari dorongan produktifitas di rumah yang kala itu begitu intens. Atas alasan ini, merupakan sebuah momen tepat saat ID12 menampilkan tema Summer Home di eksibisi era post-pandemic Covid-19. Pada biennial event The Colours of Indonesia di Senayan City, keduabelas desainer interior papan atas tanah air dalam naungan grup tersebut telah memamerkan interpretasi masing-masing atas ruang-ruang yang mengkomposisi rumah pelesir. Dengan pemahaman masyarakat yang lebih berkembang akan konsep rumah, rancangan-rancangan interior di bawah tema holiday residence tersebut menjadi sangat mudah diresapi viewers sebagai inspirasi yang bisa diterapkan pula pada rumah utama. This is about creating a main house with immediate sense of getaway.

“Rumah di dalam kota pun, konsepnya bisa seperti itu [bergaya rumah liburan]”, ujar Roland Adam dalam video group discussion mengenai pameran Summerhouse. “Rumah sendiri di Jakarta juga bisa,” timpal Reza Wahyudi. Casual dining space dengan Kyoto sebagai inspirasi dari Roland Adam menjadi satu contoh yang bisa dirujuk. Untuk ruang makan rancangannya, vibe tradisional Jepang ia terjemahkan lewat perspektif kontemporer di mana meja kaki pendek chabudai tampil sleek dengan padanan bean bag chair efek lipatan-lipatan. Di karya Reza Wahyudi yang akrab disapa Bobos, gym room tak lagi kaku. Rak dinding berisi nanas-nanas terpajang beserta kurasi kursi dan lampu kontemporernya mampu menciptakan ruang olahraga bergaya tropical resort.

Seaside spirit hadir dengan aura yang sangat laid-back dan fun tapi tetap up-scale pada area bar garapan Anita Boentarman. Motif gelombang biru-putih berukuran besar pada lantai dan dinding mendefinisikan mood secara keseluruhan. Selebihnya ditopang oleh desain bar stools, elemen dekoratif gantung yang juga wavy, serta bentuk sofa putih berujung membundar. Outdoor lounge by Prasetio Budhi is Pinterest worthy. Sisipan warna-warni citrus nan energising membawa cheerful feeling khas berlibur. This is where you wear floral summer dress or shorts. Versi indoor dari holiday feel yang lebih understated ditemui pada pantry area Yuni Jie. Kontras dua inspirasi yang hadir berdampingan membawa dinamika yang unik, yakni kehangatan Italia yang lebih retro (thanks to the beautiful wallpaper) dengan gaya sleek ala Jepang kontemporer dominasi kayu.

Vintage ambience di hobby room Eko Priharseno meradiasi napas yang lebih eklektik. This is for someone artsy, free spirited, musical, and cinematic yet savouring Hollywood charm. Mulai dari hole pada bagian ceiling, kursi berdesain fluid, vinyl player, elemen lighting, hingga wooden wall maupun wide window, semuanya menyeruakkan nuansa Los Angeles elites. Jooke Roos mendesain kamar tidur dengan palet netral sehingga tampak berfungsi sebagai neutraliser energi dan pikiran setelah menjalankan aktivitas. Desainnya sangat versatile untuk diaplikasikan baik pada holiday house maupun main residence.

Sementara itu, living room Agam Riadi dan Ary Juwono, bathroom Sammy Hendramianto, juga formal dining room Shirley Gouw memiliki benang merah elegansi premium gaya modern dengan paduan rujukan kultur sebuah wilayah ataupun aspek artistik. Batik pada karya Agam Riadi, atmosfer kultural Bali di rancangan Sammy Hendramianto, studio lukis Antonio Blanco di Bali untuk Ary Juwono, dan hand-painted canvas ceiling bagi Shirley Gouw.  Then there was Vivianne Faye presenting an enchanting spa room with reference of cave in Sardinia, Italy. Pengalaman multi-sensoris disajikan di ruang berkonsep salt cave tersebut. Tak hanya menawan secara visual dengan tekstur gua beraksen lilin-lilin dekoratif, olfactory experience dengan aroma yang anggun mengkonstruksi sebuah immersive sensation yang memanjakan indra.

Tentunya presentasi rancang ruang dari desainer-desainer ID12 pada pameran ini telah menginspirasi para pengunjungnya. Baik mereka yang ingin secara khusus mendesain akomodasi berlibur maupun menerjemahkan aspek-aspek desain holiday house pada rumah utama. Sejauh mana inspirasi tersebut akan diolah akan bergantung pada khasanah pengetahuan elemen-elemen interior dari sang pemilik rumah. Di sinilah Ary Juwono selaku Chairman of The Colours of Indonesia menekankan soal detail-detail interior desain. Termasuk di antaranya adalah material. “Untuk memberi gambaran kepada masyarakat bahwa material interior desain sudah berkembang sedemikian pesat,” ungkapnya dalam group discussion kasual bersama para anggota ID12 mengenai salah satu peran dari pameran The Colours of Indonesia. So, what’s going to be the next theme of the exhibition? We think eco-friendly residence might be a cool and relevant idea.