Reflection of Life through the Perspective of 13 Indonesian Female Artists

“I…Therefore I Am”. Women’s freedom to fill in the blank.

 

Karya-karya 13 seniman perempuan muda Indonesia mengisi Can’s Gallery sejak 20 Juli hingga 20 Agustus 2019 dalam sebuah eksibisi berjudul “I…Therefore I Am”. Mereka adalah Ajeng Martia Saputri, Cecilia Patricia Untario, Citra Sasmita, Erika Ernawan, Ines Katamso x Sharon Angelia, Maharani Mancanagara, Meliantha Muliawan, Putri Fidhini, Rega Ayundya, Ruth Marbun, Sekar Puti, dan Sinta Tantra.

Bahwa seluruh seniman yang berpartisipasi merupakan perempuan, seseorang mungkin akan mudah tergoda untuk memberi label feminisme pada pameran ini. Tentu saja simplifikasi seperti itu keliru dan berisiko untuk mempersempit ruang lingkup serta daya pikir perempuan itu sendiri. Ada banyak isu mendalam yang dieksplorasi dalam eksibisi yang pembukaannya dipandu oleh  Linda Tan dan Francine Denise sebagai host serta diisi dengan artist talk tersebut. Salah satu contohnya adalah perihal kaburnya batas antara real identity dan virtual identity sebagaimana diekspresikan Rega Ayundya melalui kreasinya.

Yang penting untuk dicatat adalah bahwa walaupun pameran ini tak khusus merujuk pada feminisme sebagai temanya, bahasan-bahasan terhadap isu gender dan perjuangan hidup sebagai perempuan menjadi bagian penting dan integral. Kompleksitas kehidupan seorang perempuan yang diangkat oleh karya-karya ketiga belas seniman menyulut pertanyaan-pertanyaan mengenai opresi, kekerasan, dan masalah sosial-budaya lain yang menaungi perempuan masa kini. Apakah kini perempuan sudah sungguh memiliki kebebasan untuk mengekspresikan ide mereka atau memilih kehidupan yang mereka inginkan?

Karya-karya yang menstimulasi kemunculan pertanyaan-pertanyaan tersebut hadir melalui berbagai macam medium. Ruth Marbun mengolah kain dan teknik jahit untuk mempertanyakan anggapan bahwa menjahit adalah kegiatan domestik yang feminin. Lukisan perempuan tanpa busana karya Citra Sasmita menjadi kritik atas represi sosial terhadap tubuh perempuan. Objek bahan kaca berbentuk phallus didesain Cecilia Patricia Untario untuk menggugat dominasi budaya maskulin dan patriarki.

Berangkat dari pemaknaan filosofis “I Think Therefore I am” di mana kegiatan berpikir menjadi basis tindakan manusia, eksibisi ini mengembangkan konteks tersebut dengan cara menghadirkan ruang kebebasan untuk mengganti kata “think” menjadi apapun yang diaspirasikan oleh para seniman.