Rayakan Satu Dekade, Ciputra Artprenuer Hadirkan Ruang Kreatif Anak

A continuous support to Indonesia’s art scene.

 

“Ayah saya hidup di hutan dari umur 12 tahun sampai 15 tahun pada masa pendudukan Jepang. Untuk bisa makan, setiap minggu ia harus berburu babi hutan bersama 16 ekor anjing piaraannya. Di masa itu, hidupnya sebatas survival. Hal ini mendorongnya berpikir untuk harus bisa lepas dari kemiskinan,” kisah Rina Ciputra kepada The Editors Club mengenai sosok sang ayah yang luas dikenal sebagai pengusaha properti sukses dan merupakan salah satu orang Indonesia di daftar Forbes Billionaire. Dalam perspektif Rina, masa-masa di hutan itulah yang menumbuhkan sensibilitas estetik dan artistik dari sosok sang ayah. Hal ini diungkapkan oleh Presiden Direktur Ciputra Artpreneur tersebut dalam perayaan satu dekade dari lembaga seni itu.

Ciputra Artpreneur yang dibuka pada tahun 2015 memang menjadi salah satu perwujudan dari kecintaan sang pengusaha terhadap seni. Perihal ini, nama seniman Hendra Gunawan memainkan peran signifikan. Entrepreneur kelahiran Parigi, Sulawesi, pada tahun 1931 itu dikenal sebagai kolektor loyal karya-karya Hendra Gunawan. Menurut penuturan kurator seni Agus Dermawan saat konferensi pers, Ciputra lah yang membantu perekonomian keluarga sang seniman setelah bebas dari penjara lantaran terlibat dalam Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat berporos “kiri” yang dikriminalisasi Orde Baru dan salah satu anggotanya adalah Pramodyea Ananta Toer). Sebagai bentuk apresiasi, Ciputra Artpreneur sejak tahun 2018 menghadirkan pameran “Hendra Gunawan: Prisoner of Hope” yang kala itu dibuka sebagai perayaan 100 tahun kelahirannya. Eksibisi ini menampilkan kreasi-kreasi seninya selama berada dalam masa penahanan.

Berlatar karya-karya Hendra Gunawan di pameran tersebut, Nararya Ciputra Sastrawinata selaku Direktur Ciputra Artpreneur menjelaskan bagaimana komitmen lembaga kesenian itu dalam meneruskan mimpi besar Ciputra untuk menciptakan destinasi wisata seni budaya bertaraf internasional di Jakarta dalam prinsip artpreneurship. Ia menyatakan bahwa perayaan satu dekade ini menjadi momen reflektif bagi Ciputra Artpreneur untuk terus meningkatkan kualitas serta mempererat hubungan dengan partner, klien, dan tentunya para penikmat lewat berbagai program juga pengembangan lainnya.

Satu pengembangan yang sudah terwujud sejak pertengahan tahun lalu adalah pendirian ruang kreativitas anak Galeri Imaji yang kini menyajikan instalasi “Menangkap Kupu-Kupu” (juga terinspirasi oleh lukisan Hendra Gunawan berjudul sama). Pada ruang tersebut, anak-anak dapat melakukan berbagai aktivitas kreatif, mulai dari mewarnai kupu-kupu hingga menuliskan impian. Untuk memberikan pengalaman yang lebih optimal, Ciputra Artpreneur juga melakukan peningkatan berbagai elemen penunjang, seperti perlengkapan audiovisual dan lighting.

Selama sepuluh tahun perjalanannya, Ciputra Artpreneur sudah menjadi tempat bagi berbagai kegiatan seni. Termasuk di antaranya adalah pertunjukan Disney Beauty & The Beast (2015) yang merupakan salah satu pertunjukan Broadway pertama di Jakarta, I La Galigo (2019) karya sutradara internasional Robert Wilson yang mengangkat cerita rakyat Sulawesi ke dalam bentuk teater kontemporer, serta konser orkestra One Piece Music Symphony yang dilakukan secara full acoustic. Untuk ke depannya, Ciputra Artpreneur tengah mempertimbangkan maksimalisasi ruang guna mengakomodasi keperluan lain. “Kami sedang mempelajari apakah ada kebutuhan dan demand untuk performances berskala lebih kecil, misal sekitar 100-300 penonton. Sebenarnya physical space-nya ada tapi kami perlu mengkaji bagaimana desainnya agar bisa sesuai kebutuhan. So, I think we’ll focus more on the space that we have,” ungkap Nararya Ciputra Sastrawinata.