Rayakan HUT ke-4, Museum MACAN kembali Sambut Pengunjung

With a month full of activities.

 

Ulang tahun Museum MACAN kali ini memiliki kesan tersendiri. Setelah beralih ke wadah virtual semenjak pandemi Covid-19 dimulai pada awal tahun lalu, kini museum tersebut kembali membuka pintunya untuk menyambut para pengunjung, seiring dengan pelonggaran Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di DKI Jakarta.

Melihat ke 18 bulan belakang, banyak cara yang telah dilakukan oleh museum ini untuk terus dapat memberi suplai program artistik di tengah masa pembatasan lalu. Beberapa di antaranya adalah “Museum From Home”, “Podcast MACAN A-Z”, dan panduan audio MACAN Collections untuk “LIngga Yoni” karya Arahmaiani. Program Arisan Karya yang digelas pada Mei-Agustus 2020 telah membantu memberi dukungan bagi para seniman terdampak pandemi.

Untuk merayaakan usinya yang ke-4, museum yang berdiri sejak tahu 2017 itu telah mempersiapkan rangkaian program selama November 2021 dengan tajuk “Bersama Museum MACAN” yang dapat dinikmati di gedungnya maupun secara online. Salah satunya adalah percakapan dengan para seniman akan praktik artistik dan isu sosial yang sedang berkembang melalui sesi wicara seniman, ruang baca, presentasi, dan diskusi.

Sebagai bagian dari perayaan hari jadi dan pembukaan kembali museum untuk publik, pameran “Melati Suryodarmo: Why Let the Chicken Run?” akan menyambut pekan terakhirnya di Museum MACAN. Sang seniman Melati Suryodarmo akan mempersembahkan sejumlah pertunjukannya yang terkenal dengan durasi yang panjang, diantaranya ’Kleidungsaffe’, ‘Transaction of Hollows’, dan ’The Blackball’. Belum lama ini menerima penghargaan Bonnefanten Award for Contemporary Art (BACA) yang ke-11, ia juga akan menampilkan ’Butter Dance’ dan ’Eins und Eins’ yang akan ditampilkan di museum dengan jumlah pengunjung terbatas dan disiarkan secara langsung melalui kanal media  sosial museum MACAN di pekan yang sama.

Tak hanya itu, museum MACAN juga akan menampilkan koleksinya lewat karya-karya dari sejumlah seniman dari seluruh dunia. Beberapa di antaranya Christine Ay Tjoe, David Hockney, Jeihan, Juan  Munoz, dan Mark Bradford, dimana sejumlah karya akan menjadi penampilan perdananya di Indonesia. Koleksi pada pameran ini merefleksikan ide mendalam akan lingkungan domestik, termasuk pengalaman-pengalaman isolasi mandiri, kreativitas, dan ekspresi spiritual.

Menginjak usia ke-4 yang tergolong muda, museum MACAN sebagaimana entitas seni lain dihadapkan dengan berbagai perubahan di dunia seni. Salah satunya adalah fenomena NFT art yang berkembang seiring perkembangan crypto realm. Aaron Seeto selaku direktur museum memaparkan pandangannya mengenai hal ini kala ditanya oleh The Editors Club beberapa waktu lalu dalam sebuah konferensi pers. Dari kacamata Aaron, NFT art kini masih dominan mengenai upaya mencetak uang. Baginya hal ini berlainan arah dengan visi museum yang menekankan aspek edukasi seni dan penyediaan artistic experience kepada masyarakat luas.

Meski mengaku excited dengan trend NFT art, ia melihat masih besarnya tantangan untuk membuat edukasi akan wilayah itu menjadi accessible bagi masyarakat. Turut ambil bagian dalam konferensi pers ulang tahun museum MACAN, seniman Melati Suryodarmo juga mengetengahkan pandangannya mengenai NFT art. “I’m facing the reality but I take my freedom to choose,” ungkapnya.  Melati memilih untuk tetap menggunakan tubuhnya sebagai media utama dari karya-karya seni yang ia ciptakan. Ini sekaligus merupakan wujud sikapnya akan resistensi terhadap hal yang bersifat komersial. “Think wisely about it,” simpulnya dalam merespon NFT art yang tengah marak berkembang.