Pergulatan Industri Kecantikan untuk Merilis Produk Baru semasa Pandemi COVID-19

From ingredients supply to testing process.

 

Pandemi Covid-19 memang luas berdampak pada berbagai sektor. Tak terkecuali industri kecantikan. Situs Business of Fashion mengulik situasi wilayah bisnis tersebut melalui sebuah tulisan berjudul “Why Beauty Brands Are Struggling to Develop New Products”. Berdasarkan paparan artikel tersebut, ketersediaan produk-produk kecantikan untuk saat ini masih terbilang aman. Akan tetapi, seiring dengan situasi pandemi yang terus berlanjut, perusahaan-perusahaan kecantikan dilihat akan menghadapi masalah serius. Supply chain mereka akan sangat terganggu karena problem ketersediaan key ingredients yang berdampak pada proses research and development.

Hasilnya adalah tidak adanya jenis produk baru yang dirilis, meskipun beauty brands sesungguhnya sangat ingin meluncurkan kreasi-kreasi yang berkaitan dengan kondisi kehidupan di masa pandemi, seperti blue-light-blocking skincare. “Most brands are still producing hero [and] best-selling products, but with the focus being on preservation mode and not new product innovation growth mode,” ucap Daniel Granatell, Managing Director Grant Industries, sebuah perusahaan yang mengembangkan dan memproduksi bahan-bahan pada produk-produk personal care, seperti dikutip dari artikel Business of Fashion.

Kesulitan menciptakan produk baru ini juga bahkan berkaitan dengan urusan packaging. Ketika kebijakan shut down diluncurkan dan banyak perusahaan beralih memproduksi handsanitizer, terjadi penipisan stok pumps, botol, dan wadah-wadah lain. Keterbatasan supply dari bahan-bahan maupun items pendukung lainnya menyebabkan situasi kompetisi ketat di antara perusahan-perusahaan produk kecantikan. Hal ini semakain diperpelik dengan regulasi travelling dan impor antar negara di masa pandemi. Tentu saja label-label mapan punya memiliki ketahanan lebih untuk menghadapi situasi ini. Merk-merk tersebut mampu menawarkan harga beli lebih tinggi dengan jumlah pesanan besar sehingga supplier akan memilih menjual produknya kepada mereka.

Akan tetapi, bukan berarti brand yang lebih kecil tak punya “keuntungan” tersendiri dalam situasi seperti ini. Fleksibilitas adalah salah satunya. Sebagai contoh, haircare brand Seen mampu dengan cepat memutuskan untuk memilih botol dengan warna berbeda karena botol yang biasa dipakai sebagai kemasan menjadi sangat langka. Hal seperti ini cenderung sulit untuk brand yang sudah memiliki nama besar. Label yang mengandalkan sumber daya lokal juga terbilang lebih aman karena tak terganggu dengan regulasi kegiatan perjalanan. Terkhusus untuk penciptaan jenis produk baru, bukan cuma problem limited supply yang dihadapi perusahaan-perusahaan. Setiap jenis kreasi baru yang hendak diluncurkan perlu melalui proses testing untuk bisa memenuhi standar tertentu, namun fasilitas-fasilitas pengetesan kini belum beroperasi lagi.

Akan tetapi sebagian pihak melihat bahwa semua masalah tersebut akan dapat ditangani melalui proses adaptasi terhadap kondisi baru seiring dengan terciptanya situasi pandemi yang lebih terkontrol. Seperti disebut di akhir artikel Business of Fashion yang membahas topik ini, kini interest terhadap produk wellness dan self-care mulai tumbuh kembali dan titik cerah inovasi produksi produk beauty industry diperkirakan akan muncul pada tahun depan. “There has been such a renewed interest in wellness, self-care, and sustainability — I think you will see real innovation in the next year,” ucap Dan Langer, pimpinan merk hair-care R+Co. Untuk saat ini, beauty brands disebut perlu tetap fokus dengan apa yang sudah mereka miliki.