Pentingnya Pengelolaan Keuangan untuk Tunjang Gaya Hidup Sehat

Because it is costly when you are sick.

 

Siapa yang tak ingin sehat dan bugar senantiasa? Kesehatan adanlah hal yang berharga karena dengannya kita dapat menikmati segala berkat dan kebaikan hidup secara optimal. Gaya hidup tentu sangat berpengaruh untuk mendapatkan tubuh dan jiwa yang sehat. Kini sudah ada banyak sarana dan fasilitas yang memampukan Anda untuk menciptakan gaya hidup sehat. Mulai dari urusan nutrisi bagi tubuh hingga olahraga. Semakin hari, kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan semakin meningkat dan semakin bertambah banyak pula orang-orang yang menyadari hal tersebut. Akan tetapi, yang mungkin kerap luput dari perhatian adalah hubungan antara tata kelola keuangan pribadi dengan perihal kesehatan. Well, we need to realize that everything now involves money, right?

Beberapa waktu lalu, Editor-in-Chief The Editors Club, Hessy Aurelia, berkesempatan untuk berbincang dengan Niharika Yadav, Presiden Direktur AXA Financial Indonesia, mengenai pentingnya pengelolaan keuangan tepat untuk menunjang hidup sehat. Cara pandangnya komprehensif dalam melihat topik hidup sehat, dimana ia menekankan pentingnya untuk berpikir tak hanya soal tata kelola finansial dalam memfasilitasi upaya mewujudkan hidup sehat, tapi juga tentang penanganan keuangan ketika sedang jatuh sakit. Berangkat dari pemahaman tersebut, ia menyorot fakta bahwa inflasi biaya kesehatan untuk mendapatkan perawatan kala sakit meningkat setiap tahunnya. Di mata Niharika, di sinilah peran penting perusahaan asuransi dalam membantu masyarakat.

Left: Nadia Hastarini, Wellness Practitioner. Right: Niharika Yadav, President Director AXA Financial Indonesia.

“Asuransi menyediakan proteksi finansial terhadap risiko-risiko kesehatan…Menurut saya, pandemi ini benar-benar menunjukan kepada kita kebutuhan untuk memiliki pertanggungan kesehatan.” ungkapnya. Dalam mengutarakan hal ini, ia mengilustrasikan bagaimana bila segala aset finansial yang sudah terkumpul selama beberapa lama untuk sebuah tujuan tertentu bisa dengan mudah “terusik” untuk mengatasi masalah kesehatan ketika tak ada pertanggungan asuransi. Itulah sebabnya ia menyarankan agar sedari ini seseorang berasuransi guna lebih well-prepared dalam  mengantisipasi risiko semacam itu. Lantas bagaimana cara memetakan alokasi pendapatan agar asuransi menjadi bagian terintegrasi dalam tata keuangan?

Mengenai hal tersebut, Niharika menyuguhkan sebuah rule of thumb yang ia sebut prinsip 10-20-30-40. “Jadi 10% dari pemasukan Anda didonasikan untuk sosial, 20% ke asuransi atau investasi masa depan, 30% harus ke cicilan, seperti untuk membiayai rumah, mobil, gaya hidup, dan tentu 40% untuk kehidupan sehari-hari. Jika Anda mengikuti prinsip ini, maka 20% dari pemasukan aktif Anda harus mengarah ke produk kesehatan, wellness, dan proteksi,” jelasnya. Dalam memilih asuransi, ia menggarisbawahi untuk menyesuaikannya dengan kebutuhan. “Kita tidak seharusnya mulai dengan proposal yang ditawarkan perusahaan asuransi, kita harus mengikuti kebutuhan kita sendiri. Kita harus melakukan menganalisis secara komprehensif dan mendalam tentang apa yang kita perlukan…Jadi selalu pertimbangkan manfaat apa yang akan didapatkan,” Niharika melanjutkan.

 

Bicara soal budgeting dalam hal kesehatan, praktisi wellness Nadia Hastarini yang turut ambil bagian dalam diskusi menyebut pentingnya untuk menjadi realistis. Baginya hal tersebut adalah perihal prioritas. “Jadi sebenarnya tentang apa prioritas kita, kemudian kita mulai menyusun puzzle kebutuhan, tentang kebutuhan primer, sekunder, dan tersier, dan mengolahnya mulai dari sana.” ucapnya. Dalam kesempatan tersebut, selain bicara budget kesehatan Nadia pun berbagi cerita tentang perubahan atmosfer hidup dari yang berbasis kerja korporat ke bidang wellness terkhusus yoga.

Dari pengamatan akan kisah hidupnya, ia menyampaikan pentingnya untuk memperhatika bukan hanya aspek kesehatan fisik,  tapi juga yang lainnya. “Apapun yang Anda kerjakan dan dimanapun diri Anda berada, perhatikan kesehatan fisik dan mental Anda,” ucap Nadia yang sekaligus menjelaskan bahwa sesungguhnya terdapat pula intellectual wellbeingspiritual wellbeing, hingga occupancy wellbeing (perihal kerja dan lingkungan tempat kerja) yang tak kalah penting untuk diperhatikan.