From a scenic breakfast on private boat to a romantic seaside dinner.
The sound of sea waves became the treatment melody with a magnificent view of blue sea and lush hills up front. Ordering a Rose Body Scrub service to be done in the terrace of this Amankila’s ocean suite was truly a luxury affair. Jika memiliki alokasi waktu yang lebih leluasa, Aman’s Signature Treatments atau Aman Advanced Facial layak untuk menjadi pilihan. Opsi-opsi body pampering tersebut menyertakan rangkaian skincare Aman, sebuah inovasi yang dihadirkan oleh hospitality brand ini sejak tahun 2018 dibawah kepemimpinan Kristina Romanova, CEO of Aman Essentials. Rangkaian dengan sustainably sourced ingredients ini merefleksikan destinasi-destinasi Aman di seluruh dunia. Bersama juga dengan fragrance, candles, accessories, dan read-to-wear, produk-produk tersebut bisa dibeli secara tersendiri di The Boutique, Amankila.
Pengembangan yang dilakukan Romanova, yang juga merupakan seorang model profesional, merupakan cerminan akan visi lebih luas dari kekasihnya Vladislav Doronin terhadap Aman, sejak “resmi” menjadi pemilik pada tahun 2016 dan hingga kini menjalankan peran CEO. Di bawah kepemimpinannya, eksistensi Aman di kota-kota besar semakin terkukuhkan, seperti terlihat pada pembukaan Aman New York di 2022. Ke depannya akan hadir properti-properti Aman di berbagai lokasi prestisius, seperti Beverly Hills, Dubai, Miami Beach, dan Niseko. Ia juga menelurkan lini akomodasi baru bernama Janu serta menghadirkan rangkaian kreasi furnitur di bawah bendera Aman Interiors. Dalam sebuah artikel Forbes, Morad Tabrizi selaku CEO Aman Interiors menyebut bahwa lini tersebut – yang koleksi perdananya dibuat oleh arsitek Kengo Kuma – menawarkan kesempatan kepada owners Aman Miami Beach Residence untuk memiliki bespoke furniture. Sementara itu, Aman Essentials melebarkan sayap dengan peluncuran SVA yang hadir dengan wellness supplements. Further more, now the company is getting ready to sail the ocean with Aman at Sea led by CEO Jonathan Wilson.

Terlepas dari transisi kepemilikan yang penuh intrik hukum, Aman tampaknya berpindah ke tangan yang tepat. Doronin adalah seorang Aman Junkie jauh sebelum ia memasuki area kemudi bisnis resor tersebut. Pengalaman pertamanya di Amanpuri, Thailand, pada tahun 90’an membuatnya begitu terkesan dan sejak saat itu ia mencoba keseluruhan resor Aman di seluruh dunia. Secara personal, dirinya pun cukup lekat dengan elemen budaya spiritual. “After I met Chinese and Tibetan monks, I started to live life differently. I met one in Nepal, one in Canada, one in Bhutan, one in New York. I try to combine what they teach me with my life. I don’t want to be a monk; I have a social life, I have a family. But I got a lot of strength from them and am very happy I met them. It changed me,” ungkap sang pengusaha berdarah Rusia dengan citizenship Swiss itu kepada The Times. Terhadap Aman, konsiderasi akan warisan budaya terus ia bawa pada proyek-proyek yang digarap. Sebagai contoh, saat berbicara tentang pengembangan di Arab Saudi, kepada situs Arab News ia mengatakan, “I wanted to ensure we could bring this pioneering experience to our Aman guests, who enjoy the opportunity to discover new locations and be immersed into the nature and heritage of the place.”

Apakah di bawah kepemimpinan Doronin akan ada resor Aman baru di Indonesia atau mungkin hotel Aman di Jakarta? Mengingat Indonesia sangat kaya akan ragam budaya dan tradisi – and the rich culture of Sunda Kelapa a.k.a Batavia has never been optimally explored by the existing upscale hospitality players – rasanya akan selalu ada alasan untuk memperpanjang portofolio Aman di Zamrud Khatulistiwa. Jika hal tersebut nantinya benar terwujud, diharapkan arsitek berdarah Indonesia pun bisa dilibatkan (melanjutkan kiprah the late Jaya Ibrahim di daftar proyek Aman). Di atas segalanya, yang terpenting adalah values dan principles dalam menggali dan mengangkat kultur lokal tetap dipertahankan, sebagaimana yang bisa dilihat di Amankila. Desain Amankila yang dirancang oleh Ed Tuttle, arsitek di balik beberapa properti Aman, mengambil inspirasi dari Ujung Water Palace yang dibangun oleh King of Karangasem terakhir, I Gusti Bagus Jelantik.

Identitas arsitektural tersebut diadaptasi ke dalam sebuah program kuliner yang memungkinkan tamu inap Amankila menikmati dining experience di situs bersejarah tersebut setelah areanya ditutup untuk publik mulai pukul lima sore. Berlatar istana yang dibangun pada tahun 1909, Karangasem Royal Dinner dimulai dengan sunset drink dan canapés yang diikuti dengan private guided palace tour dan berlanjut ke multi-course dinner menu aristokrat Bali di titik tertinggi situs yang punya pemandangan indah. Ragam konsep dining yang ditawarkan Amankila memang merupakan salah satu kekuatannya. Pemandangan impresif dari The Restaurant yang menyajikan panorama birunya Selat Lombok dengan sisi kanan dan kirinya bukit-bukit hijau menemani santap siang kala itu. Open-sided restaurant ini menyajikan masakan lokal maupun western memanfaatkan bahan-bahan dari kebun organik dan peternakan sendiri. Open-sided bale di sekitar kolam renang utama juga bisa menjadi opsi private dining dengan sajian gaya Rijsttafel.

Alternatif lain yang lebih interaktif ialah Harvest Table di mana pesertanya akan mengikuti cooking class dengan bahan-bahan seasonal untuk membuat menu-menu tradisional Bali yang kemudian bisa dinikmati dalam konsep family-style dining. Tentunya expert chef akan memandu langkah demi langkah memasak yang diawali dengan memetik bahan-bahan di kebun. Refreshment sore hari bisa dinikmati di Terrace Bar yang menyuguhkan homemade island treats berbeda setiap harinya. Fancy an Italian dinner? Arva is the answer. Arva by Aman hanya hadir di beberapa destinasi. Selain di Amankila, restoran ini berada di Aman New York, Aman Venice, Aman Tokyo, Amanpuri di Thailand, dan Amanyangyun di Shanghai. Makan malam kami di Arva dibuka dengan Vitello Tonnato sebagai antipasti. Pada menu tersebut, veal loin tipis dimasak sous vide dengan atasnya ditumpuk buttered garlic potato, tonnato pâté bercitarasa tuna, dan sejumput herring caviar. Diikuti dengan olahan spageti, makarel, dan wagyu, wine-pairing dinner nan exceptional di hadapan laut berdebur ombak dalam atmosfer bernapas Mediterranean itu ditutup dengan dessert tiramisu.

Jika ingin benar-benar dekat dengan desir pantai, minta tim resor untuk set makan malam privat tepi laut. Menu-menu bakaran dengan ragam pendamping akan menjadi pengalaman berkesan dan memorable dari malam di Amankila. With candle lights path to our table, the al fresco dinner by the beach was just unforgettable. Malam yang larut menghantar pada momen istirahat dalam suite nan menawan. Sebelumnya, sedikit pekerjaan kami lakukan di meja kerja khusus dengan teman camilan yang telah disediakan sambil mendengar lantunan playlist dari speaker Bang & Olufsen. Sebuah tab dihadirkan resor untuk tamu melihat berbagai layanan dan aktivitas yang bisa dilakukan selama tinggal di Amankila. Termasuk di dalamnya adalah rupa-rupa water adventures, trekking di Gunung Batur, cycling berlatar persawahan, horse riding di pantai pasir volkanik Karangasem, juga tur area Bali Timur ke beberapa destinasi wisata. Aktivitas wellness bernuansa spiritual dapat pula dipertimbangkan, seperti kelas yoga, reiki, hipnoterapi, dan meditasi.

Pertunjukkan tari dan musik tradisional tak boleh dilewatkan. Mistikalitas tari kecak yang digelar di bawah sinar rembulan berhasil memesona kami maupun tetamu lain kala itu. Saat purnama, nuansanya tentu akan lebih intens. Tak kalah enriching adalah partisipasi dalam sebuah blessing ceremony. We had it at a Tamansari cliff-side temple overlooking the sea (we could see this site from our suite!). Di Tamansari Hill itu pula kami menikmati momen breakfast pada sebuah bale terbuka. Pekat langit perlahan berganti terang mentari yang menyibak tenangnya laut di hadapan dan gagahnya gunung di belakang. Berlatar cuitan burung yang lalu lalang, tersaji sebuah keranjang berisi menu kombinasi Egg Benedict & Florentine dengan komposisi homemade English muffins, poached eggs, smoked ham, dan sautéed spinach. Tak kalah memukau dari Sunrise Breakfast at Tamansari Bale adalah Sunrise Cruise Breakfast menggunakan Aman private boat. Sesi cruising di atap wooden watercraft elegan bermodel kapal tradisional jukung (kapal nelayan) berhasil menciptakan pengalaman istimewa dengan pemandangan bukit-bukit bertemu laut melingkup santap sarapan roti bakar di pagi itu.

Jika saat cruise breakfast tak memungkinkan untuk sekaligus snorkelling atau berenang di pulau terdekat, momen relaks bisa didapat di Beach Club berfasilitas swimming pool. Beberapa simple menus tersedia untuk dinikmati dalam atmosfer secluded berhias pohon-pohon kelapa nan memanjakan pikiran. After all those marvellous enjoyments, coming back to the suite served us its own indulgence. Termasuk ketika menapaki jalan menuju suite yang sisi-sisinya ditumbuhi kamboja. Kemudian, di dalam ketenangan ruang, air dikucurkan ke dalam bathtub, busa dibuat berlimpah. Posisi bathtub persis disamping jendela menghadirkan pemandangan tetumbuhan yang mengaksentuasi calming effect pada tubuh yang terendam. Sebagaimana namanya yang berarti peaceful hill, Amankila membawa sense of serenity ke dalam tiap experience yang terjadi di dalamnya.