A timeless classic that remains relevant.
Seabad lalu di tahun 1925, sastrawan besar Pramoedya Ananta Toer lahir. Salah satu legasi literaturnya adalah Tetralogi Buru berisi empat novel yang ia tulis semasa menjadi tahanan politik di Pulau Buru. Dua buku pertama dari kisah berlatar sejarah tersebut mendapat alih wahana menjadi pementasan teater “Bunga Penutup Abad” yang kembali dipentaskan untuk keempat kalinya pada beberapa waktu lalu.
Dipersembahkan oleh Bakti Budaya Djarum Foundation, pementasan teater produksi Titimangsa tersebut berlangsung di Ciputra Artpreneur. Kebolehan berakting ditunjukkan oleh aktris dan aktor papan atas seperti Happy Salma, Reza Rahadian, dan Chelsea Islan yang menjiwai peran sebagai Nyai Ontosoroh, Minke, serta Annelies dalam cerita “Bumi Manusia” dan “Anak Semua Bangsa”. Pertunjukan teater produksi Titimangsa yang disutradarai oleh Wawan Sofwan ini menjadi bagian dari rangkaian program satu tahun peringatan Seabad Pram yang diprakarsai oleh Pramoedya Ananta Toer Foundation.
Pementasan teater Bunga Penutup Abad tahun ini hadir dengan berbagai kebaruan untuk memberikan kesegaran baru bagi penonton. Dari segi naskah, cerita mengalami sedikit penyesuaian dan dipadatkan agar sajian karya terasa segar. Skenografi panggung juga mengalami perkembangan. Stage pada pementasan ini menggunakan panggung putar yang belum pernah diaplikasikan pada tiga pementasan sebelumnya. Konsep tersebut memungkinkan perpindahan adegan yang lebih smooth.
“Ketika kembali dipercaya untuk menyutradarai “Bunga Penutup Abad”, saya ingin memberikan pembaruan dengan tetap mempertahankan nilai-nilai dan semangat perjuangan yang hadir pada karya-karya Pram. Kami memperkuat struktur dramatik, terutama perkembangan psikologis Annelies, sehingga cerita ini tidak hanya relevan untuk generasi muda, tetapi juga segar bagi mereka yang sudah pernah menonton sebelumnya,” ungkap Wawan Sofwan sang sutradara.
“Bunga Penutup Abad” mengisahkan Minke, seorang pemuda pribumi terpelajar, yang jatuh cinta pada Annelies, gadis Indo-Belanda putri Nyai Ontosoroh dan Herman Mellema. Hubungan asmara mereka penuh rintangan dan berakhir tragis karena benturan budaya serta hukum kolonial yang mendiskriminasi kaum pribumi. Pementasan teater ini menyuguhkan berbagai stimulasi pemikiran bagi para penonton tentang ragam topik kemanusiaan. Hal ini membuktikan bahwa karya-karya Pram terus relevan dalam konteks kehidupan di zaman ini.