From the Father of Japanese Whisky.
Industri wiski menjadi contoh konkret tentang bagaimana adaptasi budaya dari suatu wilayah menghasilkan produk kultural yang punya kekhasan karakter. Ketika Masataka Taketsuru berkomitmen untuk menekuni minatnya terhadap minuman Skotlandia tersebut dan pergi ke Glasgow untuk mempelajarinya, dimulailah kisah eksistensi Japanese whisky dengan identitas profil rasanya yang distingtif. Kini Nikka Whisky yang lahir dari tangan sang Father of Japanese Whisky resmi meluncur di Indonesia melalui PT Pantja Artha Niaga.
Perjalanan Masataka
Lahir dari keluarga pembuat sake, Taketsuru mempelajari brewing di Osaka Technical High School (kini Osaka University). Akan tetapi, minatnya justru tertambat pada Western spirits dan ia pun bergabung dengan Settsu Shuzo pada 1916 sebelum kelulusan. Kala itu perusahaan tersebut berencana untuk membuat wiski lokal. Berkat prestasi Taketsuru, ia pun dipilih perusahaan untuk menutut ilmu di Skotlandia. Taketsuru menjadi orang Jepang pertama yang belajar pembuatan wiski di negeri tersebut.
Merasa tak cukup belajar di dalam kelas, laki-laki kelahiran 1894 itu mengunjungi sebuah distillery di Speyside pada tahun 1919. Longmorn Distillery melihat tekadnya yang tinggi dan memfasilitasinya untuk mempelajari fundamental produksi malt whisky. Taketsuru juga kemudian belajar tentang produksi grain whisky menggunakan Coffey still di Edinburgh. Pertemuannya dengan Jessie Roberta Cowan (Rita) menghantarkannya pada babak hidup yang baru, baik personal maupun profesional. Menikah pada tahun 1920, keduanya pindah ke Campbeltown di mana Taketsuru mempelajari art of blending di Hazelburn Distillery. Atas dorongan Rita, keduanya hijrah ke Jepang negara asal Taketsuru.

Pada tahun 1923, ia bergabung dengan Kotobukiya (kini Suntory) dan membantu perusahaan tersebut membangun fasilitas penyulingan wiski di Yamazaki, Osaka. Whisky distillery perdana di Jepang resmi berdiri di tahun berikutnya berkat Taketsuru. Satu dekade berikutnya, ia meninggalkan Kotobukiya dan memulai usahanya sendiri di Hokkaido. Taketsuru memilih Yoichi sebagai lokasi situs penyulingannya karena mengingatkannya pada Scottish Highlands dengan temperatur dingin, udara bersih, dan air jernih. Di bawah bendera Dai Nippon Kaju, produksi wiski dilakukan dengan pot still rancangan lokal sejak 1936 dan rampung proses maturasinya pada tahun 1940. Menyingkat nama Nippo Kaju, Nikka Whisky pun terlahir. Perusahaan ini akhirnya resmi mengganti nama menjadi Nikka Whisky pada tahun 1952.
Varian
Peluncuran Nikka Whisky di Indonesia diselenggarakan lewat sebuah tasting event di The St. Regis Bar Jakarta. Para tamu diajak untuk menyusuri ruang demi ruang untuk merasakan profil rasa dari beberapa varian Nikka Whisky dengan canape pairing sambil mendengarkan cerita mengenai jenis wiski yang disajikan. Video dan foto-foto pendukung turut memberi gambaran lebih jelas mengenai masing-masing wiski.
One that really catched our attention was the Yoichi. This is the OG. Ketika mencobanya, terasa karakter khas dari single malt ini yang menampilkan “wajah Asia”. It’s the mint notes that makes this whisky stands out. Profil ini berpadu dengan sapuan smoky hasil traditional direct coal-fired distillation dan briny hint dari sea breeze di Ishikari Bay saat maturasi. Tanpa age-statement, Nikka Yoichi memenuhi semua kriteria dari Japanese Whisky yang ditetapkan oleh Japan Spirits & Liqueur Makers Association sejak 2021. Kriteria tersebut menyebut bahwa proses saccharification, fermentation, dan distillation harus dilakukan oleh penyulingan di Jepang. Proses maturasi juga harus dilakukan di Jepang selama setidaknya 3 tahun. Begitupun dengan tahapan bottling.

Varian lain adalah Miyagikyo single malt yang dibuat di sebuah lembah di prefecture Miyagi. Distillery kedua yang dimiliki oleh Nikka Whisky ini beroperasi sejak 1969 ini ditujukan Taketsuru untuk menghasilkan wiski yang kontras dengan produk Yoichi. Miyagikyo dibuat dari light peated dan non-peated malted barley dengan penyulingan dalam pot stills yang dipanaskan lewat indirect steam sehingga menghasilkan profil lebih delicate. Untuk blend-malt whisky, Taketsuru hadir sebagai tribute kepada sang founder. Varian yang hadir sejak tahun 2020 ini juga memenuhi kriteria Japanese Whisky. One that is famous worldwide is From The Barrel, launched in 1985. When we tasted it paired with chocolate, it was perfectly harmonious. Teknik complex blending dan marriage menjadi kunci dari paletnya yang elegan.
“We are thrilled to finally introduce Nikka Whisky to the Indonesian market through the solid cooperation between PAN and La Maison du Whisky. Nikka represents a perfect balance of tradition, innovation, and authenticity values that we at PAN deeply cherish,” ucap Haruka Uemura, Senior Brand Manager at PT Pantja Artha Niaga. Acara peluncuran Nikka Whisky di Indonesia yang bertepatan dengan 40th anniversary dari From The Barrel turut diisi dengan special masterclass oleh Koki Kitamura, Regional Manager Asia of Nikka Whisky. Aksi Aki Nakata, Nikka Perfect Serve 2024 SEA Winner dan Senior Bartender at Origin Bar Shangri-La Singapore, dalam menyajikan bespoke Nikka cocktails semakin menyemarakkan suasana peluncuran Nikka Whisky di Indonesia.