Sing, dance, cry, breathe.
Untuk pameran terbarunya, Museum MACAN menampilkan karya-karya seniman berbasis di New York dan Bangkok, Korakrit Arunanondchai. Pameran bertajuk “Sing Dance Cry Breathe | as their world collides on to the screen” ini merupakan presentasi tunggal pertama Arunanondchai yang digelar di Indonesia, dan berlangsung mulai tanggal 30 November 2024 hingga 6 April 2025.
Dalam pameran ini, praktik artistik Arunanondchai ditampilkan dalam bentuk teater dengan aktor non-manusia yang berinteraksi dengan para penonton melalui cahaya, suara, arsitektur, dan gambar. “Sing Dance Cry Breathe | as their world collides on to the screen” mengeksplorasi beragam tema yang ada di bawah alam sadar kita, seperti keinginan akan pembaruan dan ketakutan untuk melepaskan.
Untuk mengekspresikan narasi-narasi tersebut, Arunanondchai menggunakan simbol burung dan ular sebagai metafora akan koneksi yang dibangun manusia pada struktur sosial dan alam, serta hubungan antara bumi dan langit dalam beragam raga. Menggabungkan animisme dan fiksi ilmiah, Arunanondchai menunjukkan emosi manusia yang kompleks, seperti rasa takut akan kehilangan sesuatu dan kekuatiran akan ketidakpastian.
“I wanted to create an exhibition that imagines itself as a theater of non-human actors sharing space with us, carrying buried emotions that have been left with them. This exhibition is the stage, and the audience is invited to come as performers — to sing, dance, cry, breathe and feel the emotions we have once displaced onto the screen. So we can hear the cacophony of this non-human world sing these songs, carrying all these feelings back to us,” ujar Arunanondchai.