Menilik Fenomena Media Sosial sebagai Sumber Berita

A further look at the trustworthiness of news in social media.

 

Di masa lalu, kita bergantung pada surat kabar dan televisi untuk mencari tahu berita terbaru yang sedang berjalan di dunia ini. Seiring dengan berkembangnya teknologi internet, kita mulai mendapatkan update berita melalui sarana-sarana lain, salah satunya media sosial. How many of us rely on social media to get our daily fix of news and updates? Mungkin jawabannya adalah hampir semua dari kita.

Dalam sebuah riset oleh BBC, 51% dari mereka yang memiliki akses internet merujuk kepada media sosial sebagai sumber berita. Melalui media sosial, informasi dikomunikasikan dengan begitu cepat. Hanya dengan selisih beberapa menit (atau bahkan detik), sebuah berita yang baru naik di sebuah redaksi di New York bisa mencapai telepon genggam kita di Jakarta. Seringnya, akses tersebut juga hadir tanpa kita mengeluarkan biaya apapun.

Masing-masing platform media sosial memiliki karakter dan fungsi yang unik; mendekatkan koneksi antar manusia dengan cara-cara mereka sendiri. Melalui Facebook, seseorang dapat menemukan teman-teman lama dari masa sekolah, kemudian berhubungan kembali dengan mereka. Twitter menjadi sarana sumber berita dengan update yang cepat serta sebagai wadah komunitas untuk mereka yang memiliki minat yang sama, seperti K-pop. Di TikTok yang terutama populer di antara kalangan Gen Z, video-video berformat pendek menjadi sumber hiburan serta informasi. 

And finally, we have Instagram. Bermula sebagai sebuah aplikasi untuk membagikan foto kepada keluarga dan teman, Instagram telah berevolusi menjadi sebuah marketing tool yang krusial untuk berbagai industri, mulai dari sebuah small business, korporasi internasional, dan tentunya media. Coba tanyakan kepada diri Anda sendiri, berita apa yang Anda pertama tahu karena ada teman yang membagikannya di Instagram Story yang Anda lihat?

Perkembangan semua itu melahirkan sebuah komponen sosial baru yang disebut dengan ‘netizen’, yakni massa pengguna media sosial yang beraktivitas mengkonsumsi, menyebarkan, hingga mengomentari apa yang lalu-lalang di ragam platform seperti Instagram, Twitter, Tiktok, facebook, hingga Youtube atau bahkan memproduksi sendiri konten dari hal-hal tersebut. Sekarang, peran mereka pun bisa menjadi pengganti ‘media’ dalam menyampaikan sebuah informasi atau berita.

The spreading and exchange of information pada saat ini tidak hanya dipegang oleh para jurnalis saja, tetapi juga oleh semua orang yang memiliki aplikasi media sosial dan akses internet di telepon genggam mereka. The question is how reliable is social media as a platform for news and updates? Jawabannya sedikit kompleks. Di media sosial, ada banyak hoax dan berita palsu yang dapat menyebar. Sebagaimana informasi yang begitu mudah bergerak dari satu akun ke akun yang lain, misinformasi juga lebih mudah tersebar.

Contohnya pada tahun 2020 lalu, ada banyak misinformasi dan teori konspirasi mengenai Covid-19 yang dibagikan di media sosial dan dianggap sebagai sebuah berita. Dalam sebuah jurnal, para akademisi telah membahas tidak adanya gatekeeper, sistem fact-checking yang tidak efisien, insentif marketing yang tak terkontrol, serta supervisi legal yang tidak memadai merupakan alasan-alasan mengapa berita di media sosial kerap menjadi unreliable. Lalu, sebagai pengguna media sosial, bagaimana kita memastikan bahwa berita yang kita baca dan ingin kita bagikan melalui akun kita merupakan berita yang akurat? 

One of the answers is digital intelligence. Istilah tersebut muncul di sebuah artikel Forbes yang membahas bahwa kepiawaian kita di dunia digital telah menjadi keahlian yang dibutuhkan masyarakat sekarang. Digital intelligence bukan berarti memahami cara mengunggah sebuah video Reels saja, tetapi juga kebijakan kita dalam mengkonsumsi informasi yang muncul di media sosial. Sebagai sebuah konsumen media, kita harus berpikir dengan kritis mengenai kebenaran sebuah berita. Kita tidak bisa begitu saja mempercayai semua berita yang muncul di feed kita. 

Ketika kini penggunaan media sosial sebagai sumber berita semakin intens, banyak yang mempertanyakan tentang bagaimana dengan nasib peran pers? Tampaknya peran integral seorang gatekeeper dalam industri media masih tak tergantikan. Sebanyak 30% dari responden dari survei yang dilangsungkan oleh BBC menjawab bahwa mereka masih membutuhkan keahlian manusia dalam memilah agenda berita yang mereka baca. The role of a journalism expert to curate, process, fact check, and deliver the news to us is still very much a needed presence for media consumers.

Kredibilitas berita dari sebuah institusi media tentu punya nilai krusial untuk pembaca. If it comes from a trusted media, then you can rely on the information you read there.  Hal ini merupakan kekuatan pers yang membuatnya tetap mendapat tempat di tengah gempuran arus media sosial. Meski demikian, tanpa adanya upaya untuk terus relevan dengan kemajuan zaman, eksistensi pers berisiko untuk semakin melemah. Institusi media punya tanggung jawab moral untuk mengatasi hal tersebut demi tujuan untuk menjaga agar masyarakat tak hidup di tengah dominasi peredaran informasi yang tak kredibel.

Salah satu siasatnya – yang sudah banyak dilakukan institusi pers – adalah dengan hadir di berbagai platform media sosial itu sendiri sembari mempelajari “rumusan” untuk mengail ketertarikan masyarakat. Tentang hal ini, satu elemen penting dalam media sosial yang bisa menjadi salah satu kunci adalah algoritma. Melalui algoritma, platform media sosial dapat ‘membaca’ apa yang disukai oleh seorang pengguna, kemudian memberikan konten yang serupa di feed mereka.

Dalam sebuah survei BBC yang sama seperti di atas, 36% dari para konsumer berkata bahwa mereka akan senang untuk mendapatkan berita yang sesuai dengan apa yang mereka baca sebelumnya, dan 22% berkata bahwa mereka akan senang bila agenda berita mereka sama dengan apa yang teman-teman mereka baca. Para institusi media bisa menggunakan hasil riset consumer behaviour ini dalam strategi media sosial mereka, sehingga mereka bisa membawakan berita yang kredibel, cepat, dan relevan dengan keinginan audiens yang mereka tuju.