Reflecting the bold move of OT Group.
Whisky Live yang diinisiasi oleh Whisky Magazine pada tahun 2000 dengan event perdana di Tokyo dan London telah berkembang menjadi ajang prestisius dunia wiski di berbagai negara. Menjangkau Paris, Sydney, Singapura, hingga Bangkok, dan kota-kota lainnya, event tersebut kembali dihelat di Jakarta setelah vakum selama 7 tahun sejak terakhir kali digelar pada tahun 2018. Edisi tahun ini dilangsungkan pada 1 dan 2 Februari di Four Seasons Jakarta.
Satu jenis aktivitas yang bisa diikuti pengunjung adalah sesi Masterclass bersama para brand ambassadors. Termasuk di antaranya adalah Stuart Fear, Asia Regional Brand Ambassador of Brown-Forman yang juga merupakan Keeper of the Quaich. Predikat sebagai anggota Keeper of the Quaich diperuntukkan bagi mereka yang dinilai telah menunjukkan komitmen tinggi pada dunia Scotch whisky. Keanggotaan ini bersifat. invitation only.
Fear turut serta dalam seremoni pembukaan Whisky Live Jakarta yang menyajikan lebih dari 200 jenis wiski dan minuman beralkohol lainnya. Kala The Editors Club memasuk Grand Ball Room tempat acara berlangsung, langkah kaki langsung ditujukan untuk mencari titik di mana Keris berada. Then we found it displaying its products accompanied with a certificate by Museum Rekor Indonesia for becoming the Indonesia’s first single malt whisky brand.
Apresiasi patut diberikan kepada Whisky Live Jakarta yang membuka ruang bagi kehadiran label lokal yang terhitung baru lahir. Keris yang diluncurkan pada September 2024 di H Club, Jakarta, tak hanya memperkaya warna industri wiski Tanah Air, tapi juga menjadi indikator tentang bagaimana dunia whisky berkembang di Indonesia. Hal ini sejalan dengan apa yang diungkap oleh Andrew Soetiono perihal pertumbuhan jumlah pengunjung Whisky Live Jakarta.
Dari obrol singkat dengan representatif Keris di event tersebut diketahui bahwa Keris diproduksi dengan masa maturasi selama 5 tahun di American oak barrels dan dilanjutkan dengan maturasi kedua di oloroso sherry casks. Memanfaatkan 100% malted barley, minuman berkadar alkohol 43% ABV ini menghadirkan sensasi vanila dengan hint rasa berries saat menyesapnya dan sapuan woody finish di bagian akhir. Botol estetiknya merujuk pada sisi bergelombang senjata Keris yang merupakan bagian dari kekayaan budaya Nusantara.
Rasanya wajar saja untuk berbangga hati bahwa kini perusahaan Indonesia merilis produk wiski single-malt perdana. Yang menarik untuk kemudian diperhatikan ialah bagaimana wiski ini nantinya bisa menjadi significant player, setidaknya untuk negeri sendiri. Keris tak bisa begitu saja dipandang sebelah mata. Label ini lahir dari OT Group, salah satu pemain legendaris dunia alkohol dalam negeri yang terkenal sejak tahun 1948 dengan produk ikonis Anggur Merah. Melalui distillery Asti Dama Adhimukti di Tabanan, Bali, grup usaha itu juga sebelumnya sudah cukup lama memproduksi blended whisky Batavia dan Drum.
Meskipun demikian, tantangan bagi Keris untuk bisa “diperhitungkan” di ranah wiski tentu masih besar. Dibutuhkan berbagai pembuktian untuk bisa memvalidasi diri di tengah padatnya arena wiski dunia yang diisi oleh label-label mapan dengan usia yang bahkan mencapai ratusan tahun. Beberapa di antaranya pun bisa ditemukan di Whisky Live Jakarta, seperti Glendronach yang sudah memproduksi single malts sejak 1826 atau Glenlivet sejak 1824. Tak hanya soal usia eksistensi brand, minuman alkohol yang jejaknya bisa ditelusuri hingga abad ke-13 itu juga erat berkaitan dengan teritori. First and foremost, it’s Irish and Scotch, then came the American with its Bourbon. Jika diurai lagi, aspek teritori ini melibatkan perihal topografi, pertanahan, perairan, vegetasi, iklim, metode pembuatan, juga kultur masyarakat.
Dari Asia, Jepang tampaknya tepat untuk menjadi referensi pembelajaran bagi kesuksesan dalam menggarap pasar wiski. Beberapa sumber mencatat bahwa masyarakat Jepang mengenal wiski dari Komodor Matthew Calbraith Perry, anggota US Navy yang datang ke Negeri Sakura pada tahun 1853 dengan misi membuka pelabuhan-pelabuhan Jepang untuk aktivitas dagang Amerika. Ini mengakhiri dua abad isolasi Jepang atau sakoku di bawah kekuasaan Shogun Tokugawa dalam Zaman Edo dan diganti dengan Kekaisaran Meiji. Sebuah kisah menyebut bahwa sang komodor meninggalkan sekitar seratus barrel wiski di sana. Akan tetapi, era wiski komersial Jepang baru dimulai pada dekade 1920’an dengan sosok Masataka Taketsuru sebagai protagonis.
Lahir dari keluarga pemilik sake brewery sejak 1733, Taketsuru pada 1918 tiba di Skotlandia untuk belajar organic chemistry di Universitas Glasgow. Di sana lah ia mendalami fundamental teknik penyulingan pada proses pembuatan wiski. Pada saat itu, ia sekaligus menjadi anak magang di beberapa distilleries sehingga mendapat pengalaman langsung tentang pembuatan wiski. Sekembalinya ke Jepang, ia direkrut oleh Shinjiro Torii yang merupakan pendiri perusahaan minuman alkohol Torii Shōten (pada 1963 berganti nama jadi Suntory). Dengan expertise Taketsuru, Torii berhasil merampungkan Yamazaki Distillery, penyulingan malt whisky pertama di Jepang, pada tahun 1924. Sebuah puisi kuno merujuk kota Yamazaki akan airnya yang sebening kristal.
Taketsuru kemudian mengambil karir solo dengan mendirikan perusahaan wiski Dai Nippon Kaju pada 1934 dengan penyulingan di Yoichi. Perusahaan itu kemudian berganti nama dan hingga kini dikenal sebagai Nikka. Taketsuru percaya bahwa daerah utara Pulau Hokkaido itu merupakan wilayah Jepang yang paling mirip dengan Skotlandia. Antusiasme akan wiski di Jepang menanjak usai Perang Dunia II seiring dengan booming-nya perekonomian negara tersebut di era1950’an. Makan dengan pairing wiski kian menjadi hal lumrah di tahun 1960’an. Inilah masa naiknya popularitas sistem Bottle-Keep pada bar dan izakaya; yakni pembelian sebotol minuman yang bila tak habis diminum saat itu, maka akan disimpan untuk kunjungan selanjutnya. Fenomena lain yang turut populer adalah mizuwari, yaitu pencapuran wiski dengan air dingin dan es.
Di saat bersamaan, para produsen wiski di Jepang kala itu terus meningkatkan kualitasnya serta menghadirkan styles unik dalam proses pembuatan. Mulai dari titik didih yang berkaitan dengan altitude tempat penyulingan, air yang digunakan, hingga jenis kayu yang dibuat menjadi barrel. Salah satu kayu yang terkenal adalah Mizurana dari pohon oak langka di Jepang. Blending wiski dari berbagai jenis barrels hingga eksperimentasi digunakan atau tidaknya peat turut memperkaya khasanah wiski Jepang. Kombinasi elemen-elemen tersebut lah yang membawa cita rasa unik dari Japanese whisky yang memberinya identitas distingtif. Sayangnya dinamika industri wiski Jepang juga mengalami masa surut yang dimulai pada era 1980’an dengan penurunan demand secara konstan.
Titik cerah kembali terlihat di masa 2000’an. Pada tahun 2001, Nikka Yoichi 10 mendapat pengharhaan Best of the Best dari Whisky Magazine. Yamazaki 12, flagship single malt Suntory, menjadi wiski Jepang pertama yang memenangkan medali emas di International Spirit Challenge 2003 (dan dianugerahi Supreme Champion Spirit pada 2024). Brand itu kian melejit kala karakter utama di film “Lost in Translation” (2003) beradegan mempromosikan Suntory Hibiki 17. “For relaxing times, make it Suntory time,” ucap tokoh Bob Harris pada genre romantic-comedy besutan sutradara Sofia Coppola tersebut. Pada 2008, highball menjadi hype baru, sebuah minuman yang dikomposisi oleh spirit dan soda.
Drama “Massan” (2014) di channel NHK yang menceritakan kehidupan Taketsuru pendiri Nikka semakin melambungkan popularitas wiski di Jepang. Kemudian ada Yamazaki Sherry Cask 2013 dari Suntory yang disebut sebagai wiski terbaik di dunia oleh Whisky Bible milik Jim Murray pada tahun 2015. Ketika tuntutan pemenuhan market demand melonjak, langkah peningkatan produksi pun berdampak pada soal age statement yang akhirnya tak lagi menjadi sebuah norma bagi produk wiski Jepang. Tanpa berarti sepenuhnya menghiraukan durasi maturasi, produk-produk wiski Jepang dengan segala style uniknya bisa kompetitif merebut hati konsumen walau tak menampilkan age statement sekalipun. Sebelum tahun 2000, konsumsi wiski Jepang didominasi oleh pasar dalam negerinya. Seiring dengan berbagai kemenangan dan penghargaan yang didapat, global market berhasil digarap sukses oleh Japanese whisky.
Per 2024, aturan khusus untuk pelabelan wiski Jepang diberlakukan oleh Japan Spirits and Liqueurs Makers Association. Untuk bisa disebut sebagai Japanese whisky, poin-poin yang wajib dipenuhi sebuah produk di antaranya ialah penggunaan air dari Jepang dan barrel-nya disimpan di Jepang sekurangnya tiga tahun. Lantas bagaimana dengan whisky Indonesia? Berkaca dari perjalanan wiski Jepang, satu hal yang sudah pasti berada dalam kendali para produsen adalah peningkatan kualitas dan eksplorasi teknik pembuatan. Keris ataupun label-label wiski lain yang akan muncul harus mumpuni dalam hal pemilihan lokasi penyulingan, bagaimana air yang dipakai, seperti apa tanah dan tumbuhannya, apakah cocok iklimnya, hingga urusan proses pembuatan dan penggunaan barrels (apakah mungkin ada jenis kayu lokal yang akan memberi warna khas pada rasa wiski).
Bila nantinya kualitas terus meningkat dan identitas terbangun, keikutsertaan dan prestasi di berbagai kompetisi akan turut menyokong pengakuan atas wiski dalam negeri di komunitas global. Konsumen perlu juga memainkan perannya. Stigma negatif akan produk lokal tak boleh menjadi prasangka dalam pikiran. Give it a try and if it doesn’t meet the desired expectation, give a constructive critique. Di sinilah juga pentingnya kehadiran para local experts dari berbagai bidang untuk secara tulus mendukung perkembangan wiski Tanah Air. The grow and development might take decades or even centuries but with committed efforts, we believe it’s achievable.