Melihat lebih Dekat Efek Pandemi COVID-19 bagi Label Activewear

From a conversation with Maria-Rosa Vyskocil,
the founder of House of Gravity.

 

Pandemi coronavirus yang terjadi saat ini berdampak luas pada sendi-sendi peradaban manusia. Tak terkecuali industri mode. Melansir situs Business of Fashion, McKinsey memprediksi bahwa bidang personal luxury goods yang mencakup fashion, beauty, watch, dan jewelry, akan mengalami kontraksi hingga 39% pada tahun 2020. “This is worse than 2008. There’s zero doubt we’re going to have a definite V curve. The question is whether it moves into a U or an L,” ucap Sarah Willersdorf, Head of Luxury Boston Consulting Group (BCG) yang menyebut bahwa dampak ekonomi akibat wabah virus ini lebih buruk dari resesi dekade lalu, seperti dikutip dari Financial Times. Menurut BCG, penurunan total sales bidang fashion dan luxury bisa mencapai 650 milyar dollar

Bagaimana angka-angka dalam riset-riset itu terwujud dalam realita aktual tentu akan berbeda antar masing-masing perusahaan, baik yang berskala besar, menengah, maupun kecil. Sekelumit gambaran mengenai efek penyebaran Covid-19 pada sebuah brand kami dapat melalui perbincangan dengan Maria-Rosa Vyskocil, pendiri activewear label House of Gravity.

 

Challenge, Change, Creativity
Supply chain, marketing planning, dan retail distribution. Itulah tiga area yang paling terkena dampak dari keseluruhan badan bisnis House of Gravity sebagaimana diungkap oleh Maria. Maret adalah waktu dimulainya penjualan koleksi baru yang telah dipersiapkan selama setahun sebelumnya. Disrupsi mulai terjadi ketika coronavirus semakin merebak di China pada bulan Januari. “In China, our factories were closed for over a month. It was during this time that the strength of the relationship that we have with our suppliers made a fundamental difference,” kisah perempuan asal Belanda itu. Melalui komitmen keras dari tiap pihak terkait, fase tersebut dilewati tanpa berujung pada pemberhitan produksi secara total. Sejak hari pertama dibukanya pabrik, produksi koleksi kembali dilanjutkan.

Tak berhenti sampai di situ, tantangan lain yang harus dihadapi adalah perihal pembuatan ad campaign dan look book. Sesi pemotretan yang melibatkan deal dengan fotografer, model, kru, dan penjadwalan sejak beberapa waktu sebelumnya terpaksa dibatalkan lantaran diperketatnya ruang gerak oleh berbagai negara. Demikian juga dengan rencananya ke Bali untuk terlibat langsung dalam proses photo shoot tersebut. Hal sama pun berlaku untuk schedule pertemuan dengan para buyers di Eropa yang seharusnya dilakukan pada Maret sampai April lalu. Seharusnya ia menunjukkan dan menjual koleksi pada para peritel di showroom di Amsterdam dan Singapura pada bulan Maret.

No one is prepared for something like what’s happening in world right now,” ucap Maria kala ditanya mengenai responnya dalam menghadapi situasi ini. Akan tetapi, pebisnis yang memulai House of Gravity pada tahun 2019 itu pun memilih untuk melihat sisi positif dari apa yang tengah terjadi. Ujarnya, “The beauty is that we are all forced to think in creative solutions right now.” Terjemahan dari solusi kreatif yang dimaksud adalah beberapa perubahan dalam menjalankan usaha hingga memungkinkan timnya tetap beroperasi hingga saat ini. “I took a step back to review my original planning & strategy,” jelas sosok yang mengaku passionate dengan dunia ritel dan memiliki pengalaman selama 5 tahun menjadi managing editor sebuah fashion brand asal belanda sebelum memulai House of Gravity.

Tuturnya, proses produksi dari House of Gravity tergolong fleksibel dan hal ini mempermudah berjalannya bisnis di masa sulit ini. Perubahan mendasar yang diambil adalah soal periode penjualan kepada para peritel. “My sales approach towards retailer however was very rigid, I’ve therefore decided to change this. This means that from now onwards I’m not going to work following the old schedule of 2 sales seasons per year anymore,” ucap Maria. Mengakali kendala teknis dalam menunjukkan koleksi secara langsung kepada retailers, ia pun membentuk virtual showroom. Untuk urusan pembuatan campaign dan look book, ia melakukan supervisi secara online melalui Facetime dari Singapura terhadap pemotretan yang akan dilangsungkan di Bali.

The beauty is that we are all forced to think in creative solutions right now.

 

Tim penjualannya di Amsterdam melakasanakan skema work from home, sementara yang di Singapura masih memungkinkan untuk bekerja di kantor. Memiliki jaringan distribusi ritel di Asia dan Eropa dimana koleksinya di jual di high-end boutiques, gyms, dan department stores, kini penjualan online mengambil peranan penting bagi keberlanjutan House of Gravity. Shipping penjualan produk di online store yang hadir sejak tahun lalu itu dilakukan dari warehouse di Amsterdam dan Singapura. Dengan kacamata optimis, ia mengatakan “From a consumer perspective I do believe that – now that people are working a lot from home – activewear will become even more popular. People still want to look stylish while combining working and living in a lifestyle that helps them to stay fit and healthy.” Kepada para konsumen, Maria kini mengambil pendekatan personal, misalnya mengoptimalkan fitur live chat di website untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan seputar koleksi.

 

Business and Beyond
Lebih dari sekadar menganalisis kondisi sekarang dari sisi bisnis, Maria melihat bahwa tantangan yang kini dihadapi dunia menciptakan efek rekonstruktif bagi individu dalam memaknai kehidupan. Figur yang mendirikan House of Gravity sejak 1,5 tahun lalu itu mengatakan, “People are forced to stay at home and finally have real time for themselves again, to think, to feel, to perceive, but mainly to think about what is actually essential and (re)build a deeper connection with those that we love.

Terkait industri mode secara general, ia pun menyimpulkan bahwa dampak besar pandemi coronavirus memaksa konsumen untuk berpikir ulang mengenai perilaku konsumsi. “I hope that one of the outcomes of this situation will be that people will consume more consciously. Focusing on quality and relevance rather than the non-stop consumption of non-essentials,” ujar perempuan yang percaya dengan prinsip buy less, choose well.

Berlandas pada prinsip tersebut, kreasi-kreasi House of Gravity dibuat untuk mencapai kualitas yang baik. Selain menggunakan bahan yang berasal dari Italia dan Korea, tim House of Gravity pun mengembangkan signature fabric sendiri. “It’s an ultra-light techno-fabric which is designed to give precisely the support you need during high-intensity work-outs. It fits the body like a second skin, following every single move without constraints. It has two-way stretch, shape retention, muscle control and UV protection,” terang Maria yang juga mengungkap bahwa jadwal rilisnya bahan tersebut – yang harusnya dilakukan pada April ini – harus diatur ulang akibat wabah Covid-19.

Koleksi terbaru yang akan dirilis oleh House of Gravity meliputi activewear topsoff shoulder tops, sweaters, scarfs dan cardigans yang terbuat dari activewear fabrics. Menggunakan bahan berkualitas dan nyaman, kreasi-kreasi tersebut dirancang untuk bisa digunakan baik sebagai sportswear, casual wear, bahkan office wear. Produk-produk multi-occasions ini memang menjadi konsep dasar dari penciptaan brand House of Gravity. Ketika Maria hidup di kota sibuk seperti Hong Kong, ia menyadari kebutuhannya untuk memiliki pakaian-pakaian yang bisa digunakan untuk ragam occasions, dimana daily routine yang dijalaninya mencakup mix antara urusan profesional seperti work meeting, pergi ke tempat kasual seperi kafe, hingga kegiatan olah tubuh dan jiwa. Refleksi personal yang didukung dengan pengamatan perihal tendensi masyarakat global terhadap holistic lifestyle tersebut lah yang melahirkan House of Gravity.

 

Embrace Your Inner Gravity
Mengikuti latar belakang hadirnya House of Gravity untuk mendukung hidup seimbang antara tubuh, pikiran, dan jiwa, kreasi-kreasi label ini pun dibuat bukan dengan spirit ambisius mengejar achievement sebagaimana lazimnya digambarkan oleh activewear brand lain. Pakaian-pakaian yang mendukung aktivitas intense workouts dari House of Gravity lebih diperuntukkan bagi upaya agar terhubung dengan inner self. “We believe that feeling our inner Gravity will support us in our busy and active life,” ungkap Maria.

Berbicara mengenai inner gravity yang berkaitan dengan konsep self worth dan beauty, ia melihat bahwa kini masyarakat semakin menyadari akan true beauty seorang perempuan. “The true beauty of a woman lies in her identity, in what makes her different, in what she stands for, in her virtues and her scars, in her strengths and her vulnerabilities,” ucap perempuan yang menyebut bahwa brand miliknya mengakomodasi ragam ukuran tubuh dan berharap setiap label pakaian melakukan hal sama.

Bagi pebisnis yang kini tinggal di Singapura itu, yang dapat memancarkan kecantikan seorang perempuan adalah self-acceptance. Inilah yang ia kampanyekan melalui slogan brand yang berbunyi “Feel you inner gravity”. “Self-acceptance is beautiful and gives us a connection with our self,” simpulnya.

 

Instagram: @houseofgravity_official

Website: www.houseofgravity.com