Meja Biliar dan Foosball Perdana Louis Vuitton

The art of gaming.

 

It surely is not exaggerated to say that luxury and Louis Vuitton are synonymous. Kualitas trunk dan produk-produk tas lain dari rumah mode yang ikonik dengan monogramnya ini menjadi bagian dari identitas Louis Vuitton di high-end lifestyle industry. Begitu juga dengan impresi mewah koleksi-koleksi ready-to-wear yang muncul seiring perkembangan brand tersebut. However the maison is indeed not only about the opulent outfit and pristine travel essentials. Wajah lain dari label yang berdiri sejak tahun 1854 ini ialah visinya akan quality of life dalam berbagai aspek; and playing fun games is certainly on their list. Pada tahun ini, Louis Vuitton perdana meluncurkan dua table games, yakni Le Billard dan Le Babyfoot.

Diciptakan dengan high craftsmanship sebagaimana produk-produk trunk-nya, meja biliar dari Louis Vuitton dibalut dengan material kanvas atau kulit berkualitas tinggi. Savoir-faire rumah mode ini pun berkontribusi pada hadirnya sudut-sudut meja yang smooth nan elegan berlapis cowhide leather dalam palet natural. Citra opulent semakin kuat melalui hand-pressed metallic hardware beraksen signature Louis Vuitton. Lengkap dengan bola-bola berlukis bunga khas Louis Vuitton yang melingkari angkanya, dua stik berhias pola monogram, serta leather triangle, Le Billard tersedia dalam beberapa varian. Yakni varian Monogram – motif yang diciptakan tahun 1896 oleh Georges Vuitton sebagai tribute pada Louis Vuitton sang ayah -, varian Monogram Eclipse yang lebih gelap, varian Damier Graphite, serta Epi leather yang terdiri dari warna cyan, fuchsia, paduan navy-pistachio, juga kombinasi caramel-white.

Sebagaimana Le Billard, Le Babyfoot merupakan meja foosball atau football table yang dibuat dengan high craftsmanship Louis Vuitton. Meja berbahan kayu ini pun dibalut dengan material kanvas atau kulit berkualitas tinggi. Semakin menggemaskan, buah-buah pemain pada games ini terinspirasi dari karakter Louis Vuitton yang terdapat pada advertisement di tahun 1921. Tiap buahnya dicetak secara hand-cast menggunakan aluminium dan dikelir secara hand-painted oleh expert artisans. Begitu pula dengan elemen counting coins yang menampilkan motif bunga Louis Vuitton. Le Babyfoot tersedia dalam varian Monogram canvas, Monogram Eclipse, Damier Graphite, serta Epi leather yang vibran, seperti cyan, pistachio, fuchsia, maupun kombinasi caramel-white.

Jika menengok ke belakang, terlihat jelas bagaimana Louis Vuitton membangun relasi yang cukup erat dengan dunia games. Pada Oktober tahun lalu, Nicolas Ghesquière, Artistic Director of Womenswear Louis Vuitton, merancang look untuk karakter di online game League of Legend. Beberapa bulan sebelumnya, tepatnya pada Juli di tahun yang sama, rumah mode itu merilis video game Endless Runner yang terinspirasi dari peragaan menswear Fall/Winter 2019 rancangan Virgil Abloh, Artistic Director of Menswear Louis Vuitton. Pertalian antara Louis Vuitton dan games pun sesungguhnya punya jejak sangat panjang dan bisa dilacak jauh ke masa pimpinan Gaston-Louis Vuitton yang merupakan cucu sang pendiri brand.

Gaston-Louis yang merupakan generasi ketiga Louis Vuitton dikenal sebagai pebisnis handal yang juga mencintai buku dan seni. Buku berjudul “Cabinet of Wonders” yang dirilis Louis Vuitton pada tahun 2017 mengungkap benda-benda unik dari berbagai penjuru dunia yang dikumpulkan Gaston-Louis sebagai seorang kolektor. Termasuk di dalamnya adalah board games. Ia bahkan juga membuat beberapa board games. Dalam rentang lebih dari 165 tahun eksistensinya, maison Louis Vuitton terus melanjutkan warisan kecintaan Gaston-Louis pada games dengan penciptaan kreasi-kreasi made-to-order games, mulai dari catur, backgammon, hingga poker dalam case eksklusif.

So do you plan to bring Le Billard and Le Babyfoot to your house? One thing for certain, when you ask anyone to play games crafted by Louis Vuitton, you already are the winner.