Martini dan Bonbon Unik Hasil Kolaborasi Crio dan Tabasco

A collaboration with a cultural heritage of culinary world.

 

Umumnya masyarakat Indonesia mengenal Tabasco sebagai opsi pelengkap bagi pizza. Sesungguhnya, peran Tabasco dalam proses memasak juga dapat dijadikan sebagai bagian dari ingredients untuk diolah bersama bahan-bahan lain. Hal ini yang bisa ditemukan pada kolaborasi Crio dan American brand sauce tersebut.

Terdapat tiga hidangan utama yang dibuat menggunakan saus berbahan cabai Tabasco dari Meksiko pada kolaborasi ini. Burnt Angus striploin membawa kelembutan daging kepada padanan potato chips di mana rasa Tabasco memercikkan profil rasa steak yang berbeda dengan spiciness dan keasamannya. Saat creamy leek yang mendapat infused Tabasco di tuang ke irisan daging, flavour pedas-asam itu menguat namun tetap subtle.

Sajian smoked black cod dipertemukan dengan saus berbahan orange dan Tabasco yang menjadi semakin kaya berkat penggunaan andaliman furikake. Pasangan menu ini adalah pomme purée yang juga dibuat menggunakan Tabasco sehingga menghasilkan warna rasa unik dari sebuah mashed potato; it carries vanilla sweetness, savoury depth, and a nuance of sour and spicy notes, all in nice balance.

Main course lainnya ialah Blaze Beef bagian chuck eye roll yang dimasak hingga 48 jam berpaduan mushroom gravy bersentuhan Tabasco, juga balok nest potato. Jika memesan ketiga menu utama tersebut sekaligus, Anda akan mendapatkan sebuah plushie bentuk Tabasco yang menggemaskan.

Tak hanya pada makanan, kolaborasi bertajuk “Flavors on Fire” ini juga memanfaatkan Tabasco untuk campuran martini dan cokelat bonbon. Bonbon Cinnamon with TABASCO Sauce membawa sensasi pedas hangat yang bersemayam di pangkal tenggorokan setelah cokelat beberapa saat dikunyah. Sementara Kind of Martini berkomposisi gin, vermouth, beef tomato, dan BBQ syrup menciptakan permainan rasa pedas-manis yang unik namun tetap elegan – it’s not like you drink Tabasco.

“Lewat kolaborasi ini, kami ingin menunjukkan bagaimana tetesan Tabasco bisa mengubah keseimbangan rasa dan menghadirkan pengalaman berbeda di setiap gigitan,” ungkap Chef William Cecario Pakpahan, Executive Chef dari Crio Group, mengenai kolaborasi ini. Menu kolaborasi Crio x Tabasco “Flavors on Fire” tersedia secara terbatas hingga akhir November 2025 di Crio Menteng & Criollo Plaza Indonesia.

Rasanya Anda tak boleh melewatkan hasil kolaborasi ini. Pasalnya, interaksi antar nama lokal dan produk kultur kuliner nan melegenda tersebut menjadi sebuah perpanjangan pengukuhan tentang bagaimana saus Tabasco terus relevan lewat silih ganti masa. Tabasco Sauce diproduksi oleh perusahaan Edmund McIlhenny Company sejak tahun 1868. Kini digunakan oleh hampir 200 negara, saus ini dibuat hanya dengan 3 bahan, yakni cabai, garam, dan vinegar, dan melibatkan proses aging hingga mencapai 3 tahun di dalam white oak barrels.

Dalam budaya seni juga hiburan, saus Tabasco telah banyak ditampilkan di berbagai karya. Pada tahun 1894, composer George W. Chadwick membuat musical comedy “Burlesque Opera of Tabasco”. Pertunjukan ini dihidupkan kembali pada tahun 2018 lewat dukungan McIlhenny Company. Dua film James Bond era 70’an, yakni “The Man with the Golden Gun dan “The Spy Who Loved Me” juga menampilkan saus ini. Sebelumnya ada film “The Immigrant” (1917) dan “Modern Times” (1936) karya Charlie Chaplin yang menggunakan saus Tabasco sebagai properti.

Militer Amerika, Kanada, Australia, dan Inggris mengemas saus Tabasco dalam wadah-wadah kecil sebagai bagian perbekalan. Pada tahun 2009, Queen Elizabeth II menganugerahkan Tabasco Sauce akreditasi Royal Warrant, yang mengindikasikan produk tersebut sebagai official supplier bagi Royal Household. Saus Tabasco masuk ke Inggris pada 1874 dan sejak lama menjadi bagian dari dapur keluarga Kerajaan Inggris.