London Fashion Week Fall 2022: Eudon Choi, Huishan Zhang, David Koma

Ranging from a favorite movie to Britons’ sport interest.

 

Selalu menarik untuk melihat lebih dalam sebuah koleksi mode; mengetahui bagaimana rancangan-rancangan busana tercipta dari beragam inspirasi. Jika di awal pandemi lalu hampir seluruh desainer menjadikan kondisi saat ini sebagai referensi utama penciptaan koleksi, kini para perancang mode sudah beranjak untuk kembali melihat rupa-rupa tema. Di London Fashion Week Fall 2022, Eudon Choi mengangkat salah satu hal yang ia sukai. Sementara Huishan Zhang mengarahkan mata pada perkembangan demografi kliennya. Di sisi lain, David Koma merefleksikan tahapan hidupnya di negara kerajaan tempat berlangsungnya fashion week ini.

Desain-desain koleksi Fall 2022 yang ditampilkan Eudon Choi di London Fashion Week merujuk pada salah satu film favoritnya sewaktu muda: “Red Desert” (1964) karya Michaelangelo Antonioni. Salah satu elemen yang diangkat dari film tersebut adalah palet yang sangat kontras. Sudut pandang pribadi menyikapi situasi saat ini turut dilebur ke dalam inspirasi dasar akan film tersebut. Bagi desainer asal Korea itu, kini garmen perlu diolah menjadi rancangan yang transformable. Satu contoh yang bisa dilihat di koleksinya adalah sebuah blazer dengan semi-attached flaps yang ketika disusun sedemikian rupa akan mengingatkan pada kostum tradisional Negeri Ginseng.

(Left-right: Eudon Choi, David Koma, Huishan Zhang)

Untuk Huishan Zhang, koleksinya kali ini didominasi oleh pertimbangan akan profil kliennya. It’s the upper class of society that begins to be active again in the social scene as the loosening of social restrictions. Dari gaya rancangan-rancangannya, Anda tahu bagaimana klien-klien Zhang. Mereka tak ragu untuk tampil bold dan opulent. Siluet-siluetnya dibuat feminin. Zhang pun menyadari bahwa kini klien-kliennya juga datang dari generasi muda. Oleh karenanya, ia menyuguhkan desain-desain dengan tingkat opulence yang tetap tinggi namun dibuat lebih simple.

London Fashion Week kali ini menjadi momen bagi David Koma untuk merayakan sebuah tahapan baru kehidupannya di Inggris. Setelah 20 tahun menetap di sana, desainer asal Georgia tersebut berhasil mendapatkan status British Citizenship. Koma memberi tribute dengan mengangkat dua olahraga yang menjadi national interest, yakni sepak bola dan rugby. Akan tetapi, alih-alih tampak sporty, rancangan-rancangannya tampak lebih menyeruakkan kesan punk dan rock n roll yang diinjeksi dengan sensualitas nan daring. A fierce picture of Koma’s women.